Jumat, 04 April 2014

MATERI FILSAFAT ILMU



FILSAFAT ILMU

CABANG UTAMA FILSAFAT :
  1. Ontology/Metafisika, yaitu cabanh filsafat yang membicarakan tentang yang ada atau membicarakan sesuatu dibalik yang tampak. Pertanyaan dasar dalam ontology adalah apa hakekat ada?.
  2. Efistemologi, yaitu cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan. Pertanyaan dasar dalam efistemologi adalah apakah pengetahuan itu?, Bagaimana metode mendapatkannya?, Bagaimana membuktikan kebenaran suatu pengetahuan?.
  3. Aksiologi, yaitu cabang filsafat yang membahas tentang studi filosofis tentang hakikat nilai-nilai. Karena itu aksiologi mempermasalahkan apakah nilai subjektif? Apakah nilai itu kenyataan? Objektifkah nilai-nilai itu? Namun, pertanyaan dasar aksiologi sendiri ialah apakah yang seharusnya saya lakukan?

OBJEK FILSAFAT ILMU :
  1. Objek material ialah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material atas tiga bagian yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan.
  2. Objek formal ialah metode yang digunakan untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan dedukif. Adapun objek formal filsafat ialah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

TUJUAN DAN IMPLIKASI FILSAFAT ILMU :
Tujuan filsafat ilmu adalah:
  1. Mendalami unsure-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakkat dan tujuan ilmu.
  2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu diberbagai bidang, sehingga kita mendapatkan gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
  3. Menjadi pedoman dalam mendalami studi, terutama persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.
  4. Mendorong pada calon ilmuwan dan ilmuman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
  5. Mempertegas bahwa alam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
Implikasi mempelajari filsafat ilmu, yaitu:
  1. Bagi seseorang yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealaman secara garis besar, demikian pula seseorang ahli ilmu kealaman perlu memahami dan mengetahui secara garis besar tentang ilmu sosial. Sehingga ilmu yang satu antara lainnya saling menyapa, bahkan dimungkinkan terjalinnya kerja sama yang harmonis memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.
  2. Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir menara gading, yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya mengaitkannya dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial kemayarakatan.

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT :
  1. Zaman Yunani Kuno
Zaman yunani kuno disebut juga periode filsafat alam, karena dimasa ini lahir beberapa pemikir ilmu serta hasil pemikirannya yang menjadi acuan bangsa-bangsa lain, di mana arah dan perhatian pemikrannya kepada apa yang diamati sekitarnya.
  1. Zaman Pertengahan
Periode babad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan ini terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen pada permulaan abad masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan agama. Zaman pertengahan adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Di sinilah yang menjadi persoalannya, karena agama Kristen itu mengajarkan bahwa tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan yunani kuno mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Filsafat barat abad pertengahan juga dapat dikatakan sebagai abad gelap, karena pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir pada saat itu pun tidak memiliki kebebasan berpikir, sebab apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja maka orang tersebut mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja juga dilarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama, karena yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah gereja, sehingga apabila ada yang melanggar larangan tersebut maka mereka dianggap murtad dan kemudian diadakan pengejaran.
  1. Zaman Reneissans
Zaman renaissans ialah zaman kelahiran kembali. Pada masa ini para ahli pikir berupaya melepaskan diri dari dogma-dogma agama. Bagi mereka citra filsafat yang paling bergengsi adalah zaman yunani. Oleh karena itu mereka mendambakan kelahiran kembali filsafat yang bebas, yang tidak terikat dengan ajaran agama.
  1. Zaman Modern
Filsafat barat modern yang kelahirannya didahului oleh suatu periode yang disebut dengan renassans dan dimatangkan oleh gerakan aufklaerung diabad ke-18 itu, di dalamnya mengandung dua hal yang sangat penting. Pengaruh dari gerakan renassans dan aufklaerung itu telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang dengan pesat dan semakin bebas dari pengaruh otoritas dogma-dogma gereja. Sejak itu kebenaran filsafat dan imu pengetahuan didasarkan atas kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan berdasarkan metode perkiraan dan pemikiran yang dapat diuji. Filsaafat barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan periode filsafat abad pertengahan. Pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan serta raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolute.

  1. Zaman Kontemporer
Pada abad ke-20 ini ada aliran filsafat yang pengaruhnya dalam dunia praktis cukup besar yaitu aliran pragmatisme. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan  nilai kebenaran. Pada abad ini juga postmodernisme sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang telah berubah menjadi mitos baru. filsafat modern yang lahir sebagai reaksi terhadap dogmatis abad pertengahan, menurut kaum postmodernis telah terjebak dalam membangun mitos-mitos baru. mitos-mitos itu ialah suatu keyakinan bahwa dengan pemikran filsafat, ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam teknologi segala persoalan kemanusian dapat diselesaikan. Padahal kenyataannya banyak agenda kemanusiaan yang masih membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. di sinilah postmodernisme menggugat modernism yang telah mandeg dan berubah menjadi mitos baru.

PRINSIP METODOLOGI ILMU :
Metodologi adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapat tujuan tertentu atau pengetahuan tentang metode-metode. Sedangkan metodologi ilmu ialah pengetahuan tentang berbagai  metode yang digunakan dalam penelitian. Adapun pandangan tentang prinsip metodologi ilmu yang dirumuskan oleh tiga tokoh seperti Rene Descartes, Alfred Jules Ayer dan Karl Raimund Popper yaitu sebagai berikut:
  1. Rene Descartes berpandangan :
a.       Akal yang dimiliki manusia harus digunakan secara optimal.
b.      Sesuatu yang dikerjakan sendiri lebih sempurna daripada dikerjakan secara berkelompok.
c.       Kaidah moral adalah landasan bagi penerapan metode.
d.      Kebenaran tidak selalu bisa ditanggap oleh indera, misalnya kita dapat membayangkan diri kita tidak bertubuh, namun kita tidak dapat membayangkan diri kita berinteraksi. Sehingga kita dapat meragukan segala sesuatu yang kita alami tetapi kita tidak mungkin meragukan diri kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu.
  1. Alfred Jules Ayer berpandangan dalam metode verifikasi yang mengatakan bahwa pengadaian untuk melengkapi suatu kriteria, sehingga melalui kriteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat itu mengandung makna atau tidak, sehingga dapat diketahui kebenarannya.
  2. Karl Raimund Popper berpandangan:
a.       Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui prinsip verifikasi. Karena menurutnya teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotesis (dugaan sementara) sehingga tidak dapat diketahui pasti kebenarannya.
b.      Popper menolak cara kerja metode induksi yang menemukan kebenaran melalui observasi yang dirumuskan menjadi hipotesis, karena menurutnya sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti pengamatan yang empiris.
c.       Popper menawarkan pemecahan baru dengan mengajukan prinsip falsifiabilitas, yaitu bahwa pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Sehingga, sebuah hipotesa yang bersifat sementara akan dapat dibuktikan kesalahannya. Misalnya pernyataan tentang semua angsa itu berbulu putih, dan melalui prinsip falsifiabilitas ini dapat ditemukan bahwa ada seekor angsa yang berbulu selain putih (entah hitam, kuning, hijau, dll), sehingga dengan adanya prinsip ini maka runtuhlah pernyataan hipotesa tersebut.
KLASIFIKASI ILMU :
  1. Christian Wolff
Pokok-pokok pemikiran Christian Wolff mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan yaitu:
  1. Dengan mempelajari kodrat pemikiran rasional, kita dapat menemukan sifat yang benar dari alam semesta.
  2. Pengetahuan kemanusiaan terdiri atas ilmu-ilmu murni dan filsafat praktis.
  3. Ilmu-ilmu murni dan filsafat praktis sekaligus merupakan produk metode berpikir deduktif.
  4. Seluruh kebenaran pengetahuan diturunkan dari hukum-hukum berpikir.
  5. Jiwa manusia dalam pandangan Wolff dibagi menjadi tiga yaitu mengetahui, menghendaki, dan merasakan.
  1. Auguste Comte
Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut:
a.       Ilmu Pasti (Matematika) : Merupakan dasar bagi semua ilmu pengetahuan. Dengan metode-metode yang dipergunakan melalui ilmu pasti, kita akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya.
b.      Ilmu Perbintangan (Astronomi) : Dengan didasari rumus-rumus ilmu pasti, maka ilmu perbintangan dapat menyusun hukum-hukum yang bersangkutan dengan gejala-gejala benda langit.
c.       Ilmu Alam (Fisika) : Merupakan ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu perbintangan, maka pengetahuan mengenai benda-benda langit merupakan dasar bagi pemahaman gejala-gejala dunia anorganik.
d.      Ilmu Kimia (Chemistry) : Gejala-gejala dalam ilmu kimia lebih kompleks dari ilmu alam, dan ilmu kimia mempunyai kaitan dengan ilmu hayat (biologi) bahkan juga dengan sosiologi.
e.       Ilmu Hayat (Fisologi atau Biologi) : Merupakan ilmu yang kompleks dan berhadapan dengan gejala-gejala kehidupan. Ini berbeda dengan ilmu-ilmu sebelumnya seperti ilmu pasti , ilmu perbintangan, ilmu alam, dan ilmu kimia yang telah berada pada tahap positif.
f.       Fisika Sosial (Sosiologi) : Merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan ilmu pengetahuan. Fisika sosial sebagai ilmu berhadapan dengan gejala-gejala yang paling kompleks, paling konkret, paling konkret dan khusus.
  1. Karl Raimund Popper
Popper mengemukakan bahwa system ilmu pengetahuan manusia dapat dikelompokkan kedalam tiga dunia (World), yaitu Dunia 1, Dunia 2, dan Dunia 3. Popper menyatakan bahwa Dunia 1 merupakan kenyataan fisis dunia, sedangkan Dunia 2 adalah kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia, dan dunia 3 yaitu segala hipotesa, hukum, dan teori ciptaan manusia dan hasil kerjasama antara dunia 1 dan dunia 2 serta seluruh bidang.
  1. Thomas S Kuhn
Adapun klasifikasi ilmu menurut Thomas S Kuhn ialah:
  1. Normal Science (ilmu dalam posisi normal, ilmuan tidak kritis terhadap paradigma ilmu yang diamati)
  2. Anomaly (penumpukan anomaly menimbulkan krisis kepercayaan terhadap paradigm lalu paradigm diuji, dikritik).
  3. Paradigm baru (ilmuwan memodifikasi paradigm baru untuk memecahkan masalah yang sedang digeluti, ada revolusi ilmiah)
Penjelasan:
Pada tahap pertama, paradigma ilmu membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Karena dalam wilayah ini sering terjadi banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara tuntas. Dan keadaan seperti itulah yang disebut Kuhn sebagai anamolies (keganjilan-keganjilan, ketidaktepatan, penyimpangan-penyimpangan). Dengan penempatan anomaly pada tahap ini yang sering kali membuat para pelaksana dilapangan tidak merasakannya. Hanya para peneliti serius tertentu, para pengamat, dan kritikus yang secara relative mengetahui adanya anomaly tersebut. Di sinilah para ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigm sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam.
Tahap kedua, menumpuknya anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigma. Artinya suatu komunitas ilmiah yang dapat menyelesaikan keadaan krisinya dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigm baru, maka terjadilah apa yang disebut oleh Kuhn sebagai revolusi sains. Tahap ketiga, para ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigm tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigm lama ke paradigm baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.
  1. Jurgen Habermas
Proses terbetuknya ilmu pengetahuan menurut Jurgen Habermas ada tiga yaitu ilmu-ilmu empiris-analisis, ilmu historis-hermeneutis, dan ilmu sosial kritis (ekonomi, sosiologi, dan politik).
  1. Ilmu empiris-analisis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Memiliki satu sistem referensi yang sama yang menentukan arti proposisi-proposisi empiris, peraturan untuk membangun suatu teori dan peraturan tentang pengujian empiris yang akan dikenakan pada teori yang bersangkutan (nomologis).
-          Ilmu empiris-analisis menghasilkan teori-teori yang muncul kemudian dengan bantuan metode deduksi, dan memungkinkan diturunkannya hipotesa-hipotesa yang lebih banyak kandungan empirisnya.
-          Hipotesa-hipotesa ini merupakan proposisi tentang kolerasi antar variable dalam suatu objek yang diamati, yang kemudian dapat pula menghasilkan ramalan tertentu.
-          Arti tiap pregnose terdapat dalam manfaat teknisnya, sebagaimana yang ditentukan oleh aturan-aturan tentang aplikasi suatu teori.
-          Kenyataan yang hendak disingkapkan oleh teori-teori empiris-analisis adalah kenyataan yang dipengaruhi oleh kepentingan untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan teknis manusia dengan bantuan suatu model feed back monitoring (suatu tes empiris akan mentransfer balik konfirmasi atau falsifikasi kepada hipotesa).
  1. Ilmu-ilmu historis-hemerneutis memiliki ciri-ciri sebagai berikut;
-          Jalan untuk mendekati kenyataan melalui pemahaman arti.
-          Ujian terhadap salah benarnya pemahaman tersebut dilakukan melalui interprestasi.
-          Pemahaman hemerneutis selalu merupakan pemahaman berdasarkan pra-pengertian.
-          Komunikasi tersebut akan menjadi semakin intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang hendak memahaminya diaplikasikan kepada dirinya sendiri.
-          Kepentingan yang ada disini adalah kepentingan untuk mempertahankan dan memperluas intersubjektivitas dalam komunikasi yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban yang harus ditaati
  1. Ilmu-ilmu sosial-kritis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Menghasilkan pengetahuan nomologis yang diturunkan dari suatu sistem referensi yang sama.
-          Meneliti apakah teori-teori yang ada benar-benar menangkap korelasi tetap yang sungguh ada dalam social action, bukan hanya meninjukkan suatu korelasi semu yang dipaksakan secara ideologis.
-          Tujuan yang hendak dicapai ialah menguncang kembali lapisan kesadaran yang sudah malas yang menjadi kondisi yang sangat cocok bagi munculnya hubungan-hubungan yang bersifat ketergantungan.
-          Tujuan tersebut dicapai melalui self reflection.

ONTOLOGI FILSAFAT DAN EPISTEMOLOGI FILSAFAT :
  1. Ontologi
Tentang wujud hakikat yang ada baik abstrak maupun riil yang bersifat konkret. Berusaha mencari inti dalam segala bentuknya. Tokoh Yunani Thales, bahwa air subtansi asal mula segala sesuatu yang belum membedakan penampakan dengan kenyataan.
Aliran-aliran Ontologi yaitu:
  1. Monoisme artinya satu, hakikat asalnya satu tidak mungkin dua sebagai sumber asal baik berupa materi maupun rohani.
Thomas Devidson (Block Universe) terbagi menjadi dua aliran :
i)        Materialisme, sumber asal materi bukan rohani (naturalisme), peristiwa lebih menonjol dalam peristiwa ini.
ii)      Idealisme (spritualisme), bahwa hakikat kenyataan itu semua berasal dari ruh (sukma). Nilai ruh lebih tinggi daripada badan, roh itu dianggap sebagai hakikat sebenarnya, materi hanyalah badannya bayangan.
  1. Dualisme, aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan yaitu materalisme dan idealisme. Materi dengan ruh tidak bisa menghubungkan karena sama-sama merupakan hakikat.
  2. Pluralisme
Tokohnya pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan empedoeres yang menyatakan ada empat unsure yaitu tanah, air, api dan udara.
  1. Epistemologi
Ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperoleh panca indera adalah alat penghubung manusia.
Sumber pengetahuan :
a.         Indera
Yang bisa ditangkap adalah benda-benda yang sifatnya fisik. Pengetahuan diperoleh dari indra disebut empirisme. Pengalamanlah menjadikan sumber pengetahuan. Akal bukan sumber pengetahuan, tetapi menjadi tugas untuk mengolah bahan diperoleh dari pengalaman.
b.        Akal
Akal bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
Contoh : ketika batang kayu dicelupi kedalam air oleh kedua kayu itu tampak membengkak. Secara rasional tidak mungkin kayu itu bengkak setelah dicelupkan kedalam air.
c.         Intuisi
Untuk memperoleh pengetahuan dengan intuisi yang diakui kebenarannya. Sebab indra dan akal mampu mendiskipsikan, melukiskan dan menganalisa. Sedangkan intuisi bisa menghadirkan secara langsung kedalam diri seseorang tanpa sebuah perantara apapun. Pengetahuan intuisi berbeda dengan pengetahuan indrawi dan akal yang hanya memperlihatkan penampakan saja.
d.        Wahyu
Sumber dari pemberian Tuhan kepada Rasul, sehingga tidak perlu diragukan lagi. Biasanya pengetahuan ini disampaikan melalui orang-orang pilihan dan utusan Tuhan dalam bentuk kitab suci.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar