Jumat, 04 April 2014

PENGGUNAAN INNA DAN ANNA



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kalimat إنّ dan أنّ kalimat huruf yaitu huruf taklid yakni huruf yang berfungsi untuk mengeluarkan/menyakinkan yang dalam bahasa Indonesia lazim diberi arti Sesungguhnya.[1] Jadi, إنّ dan أنّ ialah taklid atau menguatkan shifat musnad ilaih pada musnad yaitu “sesungguhnya”.[2] Hamzah إنّ wajib dibaca kasrah apabila lafal sesudah إنّ tak dapat dita’wil mashdarnya. Sedangkan hamzah أنّ  wajib dibaca fathah apabila lafal sesudah أنّ wajib dita’wil dengan mashdar marfu’, mashdar manshub atau dengan mashdar majrur. Penggunaan kalimat إنّ dan أنّ dalam bahasa Arab banyak sekali terdapat dibeberapa tempat. Penggunaan kalimat إنّ dan أنّ dalam bahasa Arab masing-masing berada disebelas tempat. Untuk itu agar lebih jelasnya tentang penguraian penggunaan kalimat إنّ dan أنّ ini akan dibahas dalam bab selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah
  1. Bagaimana penggunaan hamzah إنّ dalam bahasa Arab?
  2. Bagaimana penggunaan hamzah أنّ dalam bahasa Arab?

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Penggunaan Hamzah إنّ Dalam Bahasa Arab
Hamzah إنّ wajib di baca kasrah apabila lafal sesudah إنّ tak dapat dita'wil mashdar, yaitu berada disebelas tempat:[3]
1.    إنّ berada di awal kalimat, baik secara hakiki maupun hukmi.
Contoh:
-       Hakiki
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ  
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
-       Hukmi
Iwr& žcÎ) uä!$uŠÏ9÷rr& «!$# Ÿw êöqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtøts ÇÏËÈ  
Artinya:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62).
Apabila إنّ berada sesudah huruf-huruf berikut ini:[4]
a.     Huruf tanbih (peringatan) seperti اَلاَ(Ingatlah).
b.    Huruf iftihah (permulaan) seperti اَلاَ dan اَمَّا (adapun).
c.     Huruf  tahdhidh (dorongan) seperti هَلاَّ (sudikah, maukah).
d.    Huruf rad’ (larangan) seperti نَعَمْ (ya) dan لَا (tidak).
Maka hamzahnya wajib dibaca kasrah, karena إنّ masih dihukumi berada dipermulaan kalimat. Begitu pula hamzah إنّ wajib dibaca kasrah apabila berada sesudah  حتى البتداثية (حتى permulaan) dan jumlah ايتداثية atau استئنا فية (permulaan).
Misalnya:
Lafal
Arti
مَرِضَ زَيْدٌحَتَّى انّهم لايرجونه
Zaid sakit sehingga mereka tidak mengharapnya.
وَقَلَّ مَالُهُ حَتَّى انِّهم لايكلّمونه
Dan sedikit hartanya, hingga mereka tidak membicarakannya.
2.    إنّ berada sesudah lafal حيت (di mana).
Misalnya:
اِجْلِسْ حيث اِنّ العلم موجود          : Duduklah di mana sesungguhnya ilmu berada.
3.                  إنّ berada sesudah ذْاِ (pada waktu).
Misalnya:
جئتك اِذْاِنَّ الشمس تطلع               : Saya datang kepadamu ketika matahari itu terbit.
4.    إنّ berada di awal jumlah yang menjadi صلة الموصول
Contohnya:[5]
-   جاءالذى انه مجتهد        : Telah datang orang yang bersungguh-sungguh.
-   Firman Allah SWT:
 . . . ( çm»oY÷s?#uäur z`ÏB ÎqãZä3ø9$# !$tB ¨bÎ) ¼çmptÏB$xÿtB é&þqãZtGs9 Ïpt6óÁãèø9$$Î/ Í<'ré& Ío§qà)ø9$#
Artinya:
“. . . dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat . . .” (QS. Al-Qashash: 76).
5.    Lafal yang berada sesudah إنّ adalah sebagai jawab terhadap qasam.
Contoh:
الله ان العلم نور و          : Demi Allah sesungguhnya ilmu bagaikan cahaya.
-            Firman Allah SWT:
û§ƒ ÇÊÈ   Éb#uäöà)ø9$#ur ÉOÅ3ptø:$# ÇËÈ   y7¨RÎ) z`ÏJs9 tûüÎ=yößJø9$# ÇÌÈ  
Artinya:
“Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul.” (QS. Yasin: 1-3).
6.    إنّ berada sesudah lafal yang musytaq dari قول yang tidak bermakna ظَنَّ. Seperti firman Allah SWT:
tA$s% ÎoTÎ) ßö7tã «!$#
Artinya:
“Perkara Isa : Sesungguhnya aku ini hamba Allah. (QS. Maryam: 30)
Dan apabila bermakna ظَنَّ, maka إنّ yang berada sesudahnya wajib dibaca fathah hamzahnya, karena lafal sesudah إنّ dita’wil mashdar menjadi  مفول به
Contoh:
Lafaz
Ta’wil
Arti
اَتَقُولٌ اَنَّ عَبدَاللهِ يَفْعَلُ هَذا؟
انظن انه يفعله؟

Apakah kamu menduga bahwa Abdullah mengerjakan ini
7.    Hamzah إنّ wajib dibaca kasrah apabila إنّ dan lafal sesudahnya berstatus sebagai hal (حال). Misalnya:[6]
-       جئتُ وانّ الشمس نغربُ (Saya datang diwaktu matahari terbenam).
-       Firman Allah SWT:
!$yJx. y7y_t÷zr& y7/u .`ÏB y7ÏG÷t/ Èd,ysø9$$Î/ ¨bÎ)ur $Z)ƒÌsù z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# tbqèd̍»s3s9 ÇÎÈ  
Artinya:
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. (QS. Al-Anfal: 5)
8.    Apabila إنّ bersama lafal sesudahnya berstatus sebagai صفة terhadap lafal sebelumnya.
Misalnya:
جاءرجلٌ انه فاضل (Datang seorang laki-laki yang mulia).
9.    إنّ berada dipermulaan jumlah yang menjadi pemula ((استئنافية. Seperti lafal: يرعُمُ فلانّ أتى اسأت اليه انّه لكاذب (Si anu mengira bahwa sesungguhnya saya berbuat jelek kepadanya. Sesungguhnya dia adalah berbohong).
10.    Apabila خبر nya إنّ lam ibtida (لام الابتدائية)
Misalnya:
-       علت انك لمجتهد (Saya mengerti sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang tekun).
-       Firman Allah SWT:
 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ y7¨RÎ) ¼ã&è!qßts9 ª!$#ur ßpkôtƒ ¨bÎ) tûüÉ)Ïÿ»uZßJø9$# šcqç/É»s3s9 ÇÊÈ  
Artinya:
“. . . Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (QS. Al-Munafiqun: 1)
11.              إنّ bersama lafal sesudahnya berstatus sebagai خبرdari isi ‘ain اسم عين
Misalnya:
-            خليلٌ انه كريمٌ (Khalid itu sesungguhnya orang yang mulia).
-            Firman Allah SWT:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd tûüÏ«Î7»¢Á9$#ur 3t»|Á¨Y9$#ur }¨qàfyJø9$#ur tûïÏ%©!$#ur (#þqà2uŽõ°r& ¨bÎ) ©!$# ã@ÅÁøÿtƒ óOßgoY÷t/ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$#
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shoobin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang Musyrik, Allah akan member keputusan di antara mereka pada hari kiamat . . .”. (QS. Al-Hajj: 17)

B.                 Penggunaan Hamzah  اَنّDalam Bahasa Arab
Hamzah اَنَّ  wajib di baca fathah apabila lafal sesudah اَنَّ  wajib dita’wil dengan mashdar marfu’, mashdar manshub atau dengan mashdar majrur. Yaitu berada disebelas tempat:
1.    Yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar marfu’ ada 5 tempat yaitu:[7]
a.    Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempat فاعل.
Misalnya:
-       بلغنى انك مجتهدٌ (Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya kamu orang yang rajin).
Taqdirnya        : بَلغَنِى اِجْتَهَادٌك (Telah sampai kepadaku akan kerajinanmu).
-       Firman Allah SWT:
óOs9urr& óOÎgÏÿõ3tƒ !$¯Rr& $uZø9tRr& y7øn=tã
Artinya:
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) . . .”. (QS. Al-Ankabut: 51).
Termasuk hamzahnya اَنَّ wajib dibaca fathah ialah ketika اَنَّ berada sesudah لَوْ dan مَامصدرية. Karena lafal sesudah اَنَّ dita’wil dengan mashdar marfu’ yang berkedudukan sebagai فَاعِلْ dari فعل yang dibuang, yakni ثَبَتَ (tetap).
Contoh:
-            لَوْ          : لَوْانك اجتهدتلكان خيرالك (Seandainya kamu sungguh rajin maka sungguh kerajinan itu lebih baik bagimu).
Taqdirnya: لوثبت اجتهادك
-            Firman Allah SWT:
öqs9ur óOßg¯Rr& (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur ×pt/qèVyJs9 ô`ÏiB ÏYÏã «!$# ׎öyz (
Artinya:
“Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103).
Huruf lam pada lafal لمثوبة adalah lam jawab, dan jumlah sesudahnya menjadi jawabnya لو.
-            ما Mashdarnya zharfiyah:
لَاُاَكَلِّمُكَ مَااِنَّكَ كَسُولٌ (Saya tak berbicara kepadamu selagi kamu masih malas).
Taqdirnya: ماثبث كسلك
Ucapan mereka : لااكلمه ماان حراءمكانه (Saya tak berbicara kepadanya selagi Hara’ (gunung di Mekah) masih menjadi tempatnya).
b.    Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempatnya نائب الفاعل.
Misalnya:
-            علم انك منصرفٌ (Sudah diketahui bahwa sesungguhnya kamu orang yang sedang pergi).
Taqdirnya: علم انصرافك
-        Firman Allah SWT:
ö@è% zÓÇrré& ¥n<Î) çm¯Rr& yìyJtGó$# ֍xÿtR z`ÏiB Çd`Ågø:$#
Artinya:
“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya, telah mendengarkan sekumpulan Jin (akan Al-Qur’an) . . .” (QS. Al-Jin: 1).
c.         Apabila اَنّ dan lafal sesudahnya menempati tempat مبتداء.
Contoh:
-   حسنٌ انك مجتهدٌ (Adalah baik bahwasanya kamu tekun)
Taqdirnya : حسن اجتهادك
(lafal حسن sebagai خيرمقدّم dan اجتهادك sebagai مبتداءمؤخّر).
-   Firman Allah SWT:
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä y7¯Rr& ts? uÚöF{$# Zpyèϱ»yz
Artinya:
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus . . .”. (QS. Fushshilat: 39).
(lafal  من اياتهjar wa majrur sebagai خيرمقدّم dan lafal sesudah اّنَّ dita’wil mashdar marfu’ menjadi مبتداءمؤخر.
d.   اّنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempatnya خبر dari isim maknan (اسم معنى) yang menjadi مبتداء atau اسم nya اّنَّ.
Misalnya:
-        Mubtada’: حسبك انك كريمٌ (Cukup bagimu bahwasanya kamu adalah orang yang mulia).
Taqdirnya: حسبك كرمك (Cukup bagimu kemuliaanmu).
-        Isimnya :انّ ظنىّ انك فاضلٌ  (Sesungguhnya menjadi dugaanku bahwasanya kamu orang yang utama).
Taqdirnya: انّ طنّى فضلك
Apabila مبتداء yang dipasang خبر itu berupa isim dzat اسم عين, maka hamzahnya اّنَّ wajib dibaca kasrah sebagaimana contoh-contoh yang sudah lewat. Karena ucapan : خليلٌ أنهُ كريمٌ (Khalid adalah sungguh orang yang mulia) kalau dibaca fathah hamzahnya, maka ta’wilnya : خليل كرمُهُ (Khalidnya mulianya), maka menjadi tidak sempurna artinya.
e.    اّنَّ dan lafal sesudahnya sebagai تابعٍ لمرفوعٍ (isim yang mengikuti kepada isim yang dibaca rafa’) yang berkedudukan menjadi معطوف (isim yang di’athafkan) atau menjadi بدل.
Contoh ‘athaf: بلغنى اجتهادُك وانك حَسَنُ الْخُلق (Telah sampai kepadaku akan kerajinanmu dan bahwanya kamu adalah orang yang baik akhlaqnya).
Taqdirnya: بَلَغَنِىْ اجْتِهَادُكَ وحسن خلقك  (Telah sampai kepadaku akan kerajinanmu dan kebaikan budi pekertimu).
Contoh badal:
يعجبنى سعيدٌانه مجتهد (Sa’id mengherankan saya bahwasannya ia orang yang rajid)
Taqdirnya: يعجبنى يعيدانه مجتهد (Sa’id mengherankan saya akan kerajinannya).
2.     اَنَّ yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar manshub ada di tiga tempat, yaitu:[8]
a.    Apabila اَنَّ dan lafal sesudah menjadi مفعول به.
Contoh:
Lafal
Ta’wil
Arti
علمتُ انك مجتهدٌ
ولاتخافون انكم اشركتم با لله
علمت اجتهادك
Saya mengerti bahwasanya kamu rajin.
“. . . padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah.”
Termasuk yang harus dibaca fathah hamzahnya ialah apabila اَنَّ berada sesudah lafal yang musytaq dari قول yang bermakna ظنّ (dugaan) seperti keterangan yang sudah lalu.
b.    Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya berfungsi sebagaiخبر  dari كان dan saudara-saudaranya yang  اسم nya terdiri dari isim makna (bukan isim dzat).
Misalnya:
كنَ على ايَقينى انك تَتْبع الحق (Telah menjadi keyakinanku bahwasanya kamu mengikuti kebenaran).
Taqdirnya: كان على اتباعك الحق (Adalah pengetahuanku bahwa aku mengikuti kebenaran)
c.    اَنّ dan lafal sesudahnya sebagai تابع لمنصوب (isim yang mengikuti kepada isim yang dibaca nasab) dengan kedudukan sebagai ‘ataf atau sebagai badal.
Contoh:
Sebagai athof (عطف)
-       علمتُ بجيئَك وَاَنَّكَ منصرف (Saya mengetahui kedatanganku dan bahwasanya kamu pergi).
Taqdirnya: علمت  مجيئك وانصرافك (Saya mengetahui kedatangan dan kepergianmu).
-       Firman Allah SWT:
(#rãä.øŒ$# zÓÉLyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# àMôJyè÷Rr& ö/ä3øn=tæ ÎoTr&ur öNä3çGù=žÒsù n?tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÍÐÈ  
Artinya:
“Hai Bani Isra’il, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah: 47).
Taqdirnya: اذكروانعمتي عليكم وتفضيلى اياّ كم
-       Sebagai badal (بدل): اخترمتُ خالدانه حَسَنُ الخُلُقِ (Saya menghormati Khalid, sesungguhnya dia bagus budi pekertinya).
Ta’willnya: اِحْتَرَمْتُ خَالِدًا حسنَ خلقه (Saya menghormati Khalid, yakni kebaikan akhlaqnya).
Mashdar muawwal menjadi بدل الاشتمال nya lafal  خال.

-       Firman Allah SWT:
øŒÎ)ur ãNä.ßÏètƒ ª!$# y÷nÎ) Èû÷ütGxÿͬ!$©Ü9$# $pk¨Xr& öNä3s9 . . .
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu . . .”. (QS. Al-Anfal: 7).
3.     اَنَّ yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar majrur ada di tiga tempat, yaitu:
a.    Apabila اَنَّ berada sesudah huruf jar, maka lafal yang berada setelah اَنَّ dita’wil mashdar yang diajarkan oleh huruf jar tersebut.
Contoh:
-       عَجبتُ من انك مُهملٌ (Saya heran akan malasmu).
Ta’wilnya عجبتُ مِنْ اِهْمَا لِكَ :
-       Firman Allah SWT:
y7Ï9ºsŒ ¨br'Î/ ©!$# uqèd ,ptø:$#  . . .
Artinya:
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak . . . .” (QS. Al-Hajj: 6).
b.    اَنَّ dan lafal sesudahnya sebagai mudhaf ilaih.
Misalnya:
-  جئت قبل اَنَّ اشمس تطالعُ  (Saya sudah datang sebelum matahari terbit).
Taqdirnya : جئت قبل طلو عها
-  Firman Allah SWT:
¼çm¯RÎ) A,yss9 Ÿ@÷WÏiB !$tB öNä3¯Rr& tbqà)ÏÜZs? ÇËÌÈ 
Artinya:
“. . . sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyat: 23).
c.     اَنَّ dan lafal sesudahnya adalah sebagai تا بع لمجرور (isim yang mengikuti kepada yang dibaca majrur), baik selaku ma’thuf (معطوف) atau badal (بدل).
Contoh ma’thu (معطوف):سررت من ادب خليل وانه عا قل (Saya disenangi dengan budi pekerti Khalil dan bahwasanya yang berakal)
Taqdirnya: سررت من ادب خليل وعقله (Saya senang dengan budi pekerti Khalil dan akalnya).
Contoh badal ليد
عجبت مته انه مهمل (Saya heran kepadanya, yakni dia itu orang yang lalai).
Taqdirnya: عجبتُ منه اهماله (Saya heran kepadanya yakni akan kelalaiannya).[9]





BAB III
PENUTUP

Simpulan:
a.    Penggunaan hamzah إنّ wajib di baca kasrah apabila lafal sesudah إنّ tak dapat dita'wil mashdar, yaitu berada disebelas tempat:
1.    إنّ berada di awal kalimat, baik secara hakiki maupun hukmi.
2.    إنّ berada sesudah lafal حيت (di mana).
3.    إنّ berada sesudah ذْاِ (pada waktu).
4.    إنّ berada di awal jumlah yang menjadi صلة الموصول
5.    Lafal yang berada sesudah إنّ adalah sebagai jawab terhadap qasam.
6.    إنّ berada sesudah lafal yang musytaq dari قول yang tidak bermakna ظَنَّ.
7.    Hamzah إنّ wajib dibaca kasrah apabila إنّ dan lafal sesudahnya berstatus sebagai hal (حال).
  1. Apabila إنّ bersama lafal sesudahnya berstatus sebagai صفة terhadap lafal sebelumnya.
  2. إنّ berada dipermulaan jumlah yang menjadi pemula ((استئنافية.
  3. Apabila خبر nya إنّ lam ibtida (لام الابتدائية).
  4. إنّ bersama lafal sesudahnya berstatus sebagai خبرdari isi ‘ain اسم عين
b.        Hamzah اَنَّ  wajib di baca fathah apabila lafal sesudah اَنَّ  wajib dita’wil dengan mashdar marfu’, mashdar manshub atau dengan mashdar majrur. Yaitu berada disebelas tempat:
1.    Yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar marfu’ ada 5 tempat yaitu:
-   Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempat فاعل.
-   Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempatnya نائب الفاعل.
-   Apabila اَنّ dan lafal sesudahnya menempati tempat مبتداء.
-   اّنَّ dan lafal sesudahnya menempati tempatnya خبر dari isim maknan (اسم معنى) yang menjadi مبتداء atau اسم nya اّنَّ.
-   اّنَّ dan lafal sesudahnya sebagai تابعٍ لمرفوعٍ (isim yang mengikuti kepada isim yang dibaca rafa’) yang berkedudukan menjadi معطوف (isim yang di’athafkan) atau menjadi بدل.
2.    اَنَّ yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar manshub ada di tiga tempat, yaitu:
-   Apabila اَنَّ dan lafal sesudah menjadi مفعول به.
-   Apabila اَنَّ dan lafal sesudahnya berfungsi sebagaiخبر  dari كان dan saudara-saudaranya yang  اسم nya terdiri dari isim makna (bukan isim dzat).
-   اَنّ dan lafal sesudahnya sebagai تابع لمنصوب (isim yang mengikuti kepada isim yang dibaca nasab) dengan kedudukan sebagai ‘ataf atau sebagai badal.
3.    اَنَّ yang wajib dibaca fathah hamzahnya karena dita’wil dengan mashdar majrur ada di tiga tempat, yaitu:
-       Apabila اَنَّ berada sesudah huruf jar, maka lafal yang berada setelah اَنَّ dita’wil mashdar yang diajarkan oleh huruf jar tersebut.
-       اَنَّ dan lafal sesudahnya sebagai mudhaf ilaih.
-       اَنَّ dan lafal sesudahnya adalah sebagai تا بع لمجرور (isim yang mengikuti kepada yang dibaca majrur), baik selaku ma’thuf (معطوف) atau badal (بدل).















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Akron Fahmi, Ilmu Nahwu & Sharaf 2 (Tata Bahasa Arab Praktis & Aplikatif),Cet. 2, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002.
Mahfudh Ikhsan Al-Wina, Perpustakaan Nasional :Katalog dalam terbitan (KDT), Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995. 
Mushthafa AL-Ghulayaini, Jaamiud Duruusil ‘Arabiyyah, Semarang: CV. Asy Syifa’, 1992.
Hifni Bek Dayyab, et.al, Kaidah Tata Bahasa Arab, Jakarta: Darul Ulum Press, 1997.
Ahmad Sunarto, Kaidah-Kaidah Bahasa Arab (Terjemah Qowa’idul Lughoh), Surabaya: Al-Hidayah, 1990.



[1]Ahmad Akron Fahmi, Ilmu Nahwu & Sharaf 2 (Tata Bahasa Arab Praktis & Aplikatif),Cet. 2, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), h. 203-204
[2]Mahfudh Ikhsan Al-Wina, Perpustakaan Nasional :Katalog dalam terbitan (KDT), (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995), h.125 
[3]Mushthafa AL-Ghulayaini, Jaamiud Duruusil ‘Arabiyyah, (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1992), h. 527
[4] Ibid, h. 528
[5] Hifni Bek Dayyab, et.al, Kaidah Tata Bahasa Arab, (Jakarta: Darul Ulum Press, 1997), h. 425
[6] Ahmad Sunarto, Kaidah-Kaidah Bahasa Arab (Terjemah Qowa’idul Lughoh), (Surabaya: Al-Hidayah, 1990), h.117
[7]Mushthafa AL-Ghulayaini, Jaamiud Duruusil ‘Arabiyyah,op.cit., h. 531
[8] Ibid, h. 534
[9] Ibid, h. 536

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar