Jumat, 04 April 2014

HUBUNGAN ILMU, TEKNOLOGI, KEBUDAYAAN, FILSAFAT DAN AGAMA



HUBUNGAN ILMU, TEKNOLOGI, KEBUDAYAAN, FILSAFAT DAN AGAMA

TIK :  Setelah membaca bab ini, mahasiswa mampu menjelaskan hubungan ilmu, teknologi,   kebudayaan, filsafat, dan agama.
Subpokok bahasan : Hubungan ilmu dengan teknologi, hubungan ilmu dengan kebudayaan, hubungan teknologi dengan kebudayaan, patokan nilai yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hubungan ilmu, filsafat dan agama.

X,1 HUBUNGAN ILMU, TEKNOLOGI, DAN KEBUDAYAAN
A.    Pengantar
Ilmu sebagai hasil aktivitas manusia yang mengkaji berbagai hal, baik diri manusia itu sendiri maupun realitas di luar dirinya, sepanjang sejarah perkembangannya, sampai saat ini selalu mengalami ketegangan dengan berbagai aspek lain dari kehidupan manusia. Pada dataran praktis operasional selalu diperbincangkan kembali hubungan timbal balik antara ilmu dan teknologi. Sering muncul polemik, terutama di Negara berkembang, manakah yang lebih penting antara mengembangkan ilmu murni dan ilmu dasar dengan mengembangkan teknologi melalui alih teknologi maupun industrialisasi ? Apabila keduanya penting, bagaimana strategi yang seharusnya dibangun untuk mengembangkan keduanya mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki rata-rata Negara berkembang ? Ada kekaburan pengertian tentang ilmu, teknologi, maupun kebudayaan. Tersirat pula di dalamnya kekaburan pemahaman hubungan anta ilmu, teknologi, dan kebudayaan. Berikut ini akan dijelaskan ketiga hubungan tersebut.

B.     Hubungan Ilmu dan Teknologi
Mengenai teknologi ada tiga pendapat
1)      Teknologi bukan ilmu, melainkan penerapan ilmu.
2)      Teknologi merupakan ilmu, yang dirumuskan dengan dikaitkan aspek eksternal, yaitu industri dan aspek internal yang dikaitkan dengan objek material “ilmu” maupun aspek “murni-terapan”.
3)      Teknologi merupakan “keahlian” yang terkait dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Untuk lebih memperjelas identifikasi ilmu dan teknologi ada tujuh pembeda.
1)      Teknologi merupakan suatu system adapatasi yang efisien untuk tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan akhir dari teknologi adalah untuk memecahkan masalah-masalah material manusia, atau untuk membawa perubahan-perubahan praktis yang diimpikan manusia. Sedangkan ilmu bertujuan untuk memahami dan menerangkan fenomena fisik, biologis, psikologis, dan dunia sosial manusia secara empires.
2)      Ilmu berkaitan dengan pemahaman dan bertujuan untuk meningkatkan pikiran manusia, sedangkan teknologi memuasatkan diri pada manfaat dan tujuannya adalah untuk menambah kapasitas kerja manusia.
3)      Tujuan ilmu adalah memajukan pembangkitan pengetahuan, sedangkan teknologi adalah memajukan kapasitas teknis dan membuat barang atau layanan.
4)      Perbedaan ilmu terknologi berkaitan dengan pemegang peran. Bagi ilmuan diharapkan untuk mencari pengetahuan murni dari jenis tertentu, sedangkan teknolog untuk tujuan tertentu. Ilmuan “mencari tahu”, “teknologi mengerjakan”.
5)      Ilmu bersifat supranasional (mengatasi batas Negara) sedangkan teknologi harus menyesesuaikan diri lingkungan tertentu.
6)      Imput teknologi bermacam-macam jenis yaitu material alamiah, daya alamiah, keahlian, teknik, alat, mesin, ilmu, dan pengetahuan sari berbagai macam, misalnya akal sehat, pengalaman,  ilham, intuisi, dan lain-lain. Adapun imput ilmu adalah pengetahuan yang telah tersedia.
7)      Output ilmu adalah pengetahuan baru, sedangkan teknologi menghasilkan produk berdimensi tiga.
Dari penelusuran terhadap konsep ilmu dan teknologi dengan berbgai aspek dan nuansanya, kiranya mulai jelas keterkaitan antara ilmu dan teknologi. Beberapa titik singgung antara keduanya mungkin dapat dirumuskan :
1)      Bahwa baik ilmu maupun teknologi merupakan komponen dari kebudayaan.
2)      Baik ilmu maupun teknologi memiliki aspek ideasional maupun faktual, dimensi abstrak maupun konkrit, dan aspek teoritis maupun praktis.
3)      Terdapat hubungan dialektis (timbal balik) antara ilmu dan teknologi. Pada satu sisi ilmu menyediakan bahan pendukung penting bagi kemajuan teknologi, yakni teori-teori. Pada sisi lain penemuan-penemuan teknologi sangat membantu perluasan cakrawala penelitian ilmiah yakni dengan dikembangkannya perangkat-perangkat penelitian berteknologi mutakhir. Bahkan dapat dikatakan bahwa dewasa ini kemajuan ilmu mengandaikan dukungan teknologi, sebaiknya sebaiknya kemajuan teknologi mengabaikan dukungan ilmu.
4)      Sebagai klarifikasi konsep, istilah ilmu lebih dapat dikatakan dengan konteks teknologi, sedankan istilah pengetahuan lebih sesuai digunakan dalam konteks teknis.

C.    Hubungan Ilmu dengan Kebudayaan
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahun merupakan unsure dari kebudayaan. Kebudayaan disini merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Pengambangan kebudayaan nasional merupakan bagian kegiatan dari suatu bangsa, baik disari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak.
Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada suatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan dilain pihak, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan. Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur sosial dan tradisi kebudayaan, mereka saling mendukung satu sama lain: dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembangkan secara pesat, demikian sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapannya.
Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunya peranan ganda.
1)      Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebbudayaan nasional.
2)      Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Pada kenyataanya kedua fungsi ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian pengembangan kebudayaan nasional kita tidak dapat dilepaskan dari pengembangan ilmu. Dalam kurung dewasa ini yang terkenal sebagai kurun ilmu teknologi, kebudayaan kitapun tak lepas dari pengaruhya, dan mau tidak mau harus ikut memperhitungkan faktor ini. Sayangnya yang lebih dominan pengaruhnya terhadap kehidupan kita adalah teknologi yang merupakan produk dari kegiatan ilmiah. Sedangkan hakikat keilmuan itu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif bagi pengembangan kebudayaan nasional pengaruhnya dapat dikatakan minimal sekali.
Ada pemahaman yang memisahkan ilmu dan kebudayaan baik secara konseptual maupun faktual, tidak dapat diterima lagi. Ilmu merupakan komponen penting dari kebudayaan. Bahkan kecenderungan akhir abad ini semakin member tempat bagi dominasi ilmu dalam menciptakan universum-universum simbolok atau dunia kemasukakalan. Tidak perlu disangkal bahwa memang timbul segala marginalisasi unsure-unsur pengetahuan non ilmiah sebagai unsure pengetahuan yang berada diluat objektivitas.
Sebagaimana watak yang sudah melekat pada kebudayaan manusia scientism pada akhirnya dapat reaksi paling tidak dengan munculnya reorientasi atau pengembangan orientasi baru bagi pengembangan ilmu baru. Gejala yang tampak semakin luas adalah mulai ditinggalkannya ideologi ilmu untuk ilmu atau ilmu bebas nilai. Ideoloi yang sedemikian jelas mengingkari hubungan dialektis antara ilmu sebagai unsur sistem kebudayaan dengan unsur sistem kebudayaan yang lain, baik itu religi, struktur sosial kepentingan politis maupun subjektifitas manusia itu sendiri. Persoalan yang kemudian menuntut pemikiran bersama lebih lanjut adalah strategi pengembangan ilmu yang sungguh-sungguh mempertimbangkan unsur-unsur sistem kebudayaan yang lain secara integral dan integratif. Kesalahan pemilihan strategi pembelajaran ilmu akan mempunyai akibat langsung bagi integrasi kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan. Setiap kebudayaan memiliki hierarki nilai yang berbeda sebagai dasar penentuan skala prioritas. Ada sistem kebudayaan yang menentukan nilai teori dengan mendudukan rasiolisme, empirisme, dan metode ilmiah sebagai dasar penentu dunia objektif. Terdapat pula sistem kebudayaan yang menempatkan nilai ekonomi sebagai acua dasar dari seluruh dinamika unsur kebudayaan yang lain. Ada juga sistem kebudayaan yang meletakkan nilai positif sebagai dasar pengendali unsur-unsur kebudayaan yang lain, selain ada sistem kebudayaan yang menempatkan nilai religius, nilai estetis, nilai sosial sebagai dasar dasn orientasi seluruh kebudayaan setiap pilihan orientsi nilai dari kebudayaan akan memiliki konsekuensi masing-masing, baik pada taraf ideasional maupun operasional.
Untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan pada pokoknya mengandung beberapa pikiran.
1)      Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah kearah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat kita.
2)      Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Disamping ilmu masih terdapat cara-cara lain yang sah sesuai lingkungan dan permasalahannya masing-msaing.
3)      Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.
4)      Pendidikan ilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.
5)      Pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama yang menyangkut keilmuan.
6)      Kegiatan ilmiah harus bersifat otonomi yang terbatas dari tekanan struktur kekuasaan.
Pada hakikatnya semua unsur kebudayaan harus diberi otonomi dalam menciptakan paradigma mereka sendiri. Terlalu banyak campur tangan dari luar hanya menimbulkan paradigma mereka semua yang tidak ada gunanya. Paradigma agar bias berkembang dengan baik membutuhkan dua syarat yakni kondisi rasionalitas dan kondisi psikososial kelompok. Kondisi rasionalitas menyangkut dasar pikiran paradigma yang berkaitan dengan makna, hakikat dan relevansinya dengan keterlibatan semua anggota kelompok dalam mengembangkan dan melaksanakan paradigma tersebut.

D.    Hubungan Teknologi dan Kebudayaan
Sejak dimulai revolusi industri di Eropa, teknologi yang dihasilakan oleh masyarakat Eropa, kemudian disebarkan keseluruh dunia ternyata memiliki berikut :
1)      Watak ekonomis yang pada intinya berorientasi pada efisiensi ekonomis dengan mengutamakan kendali pada elit pendukong finansial dan elit tenaga ahli.
2)      Ditinjau dari aspek sosial teknologi barat ternyata bersifat melanggengkan sifat ketergantungan. Ketergantungan ini terkait, baik dengan teknik produksi maupun pola konsumsi. Mata rantai produsen dan konsumen terputus. Artinya, produsen menentukan produk lebih berorientasi pada kemajuan teknologi. Iklan-iklan berbagai media massa merupakan “nabi-nabi” bagi pencipta kebutuhan baru.
3)      Struktur kebudayaan teknologi barat telah melahirkan struktur kebudayaan yang:
a.       Memandang ruang geografis dengan kacamata pusat pinggiran dengan dunia barat sebagai pusatnya.
b.      Adapun kecenderungan untuk melihat waktu sebagai suatu hal yang berkaitan dengan kemajuan dan berkembang secara linier;
c.       Adanya kecenderungan untuk memahami relaitas secara terpisah, dan memahami hubungan antara bagian sebagai hubungan mekanistis sehingga perubahan pada suatu bagian menuntut adanya penyesesuaian pada bagian yang lain;
d.      Kecenderungan untuk memandang manusia sebagai tuan atas alam dan hak-hak yang terbatas.
Dengan mempertimbangkan watak teknologi barat yang demikian, sulit kiranya untuk tidak menyebut ahli teknologi barat sebagai invasi kebudayaan barat. Globalisasi merupakan bukti betapa gelombang invasi terjadi dengan dahsyatnya. Perbincangan tentang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dapat dititip dari dua sudut pandang, yakni dari teknologi dan kebudayaan. Dari sudut pandang teknologi terbuka alternatif untuk memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positifistis atau dalam paradigma teknologi tepat. Masing-masing pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda terhadap komponen-komponen kebudayaan yang lain. Paradigma teknologi positifistis yang didasari oleh metafisika matearialistis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, menguras, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas. Sedangkan paradigma teknologi tepat lebih menuntut kearifan manusia secara wajar. Dari sudut pandang kebudayaan bagaimanapun juga teknologi dewasa ini merupakan anak kandung kebudayaan barat. Hal ini berarti bahwa penerimaan ataupun penolakan secara sistematik terhadap teknologi harus dilihat dalam rangka komunikasi antar sistem kebudayaan. Dengan demikian, Negara atau masyarakat pengembang teknologi bahwa suatu penemuan teknologi baru merupakan momentum proses eksternalisasi dalam rangka membangun dunia objektif yang baru, sedangkan bagi Negara atau masyarakat konsumen teknologi, suatu konsumsi teknologi baru dapat bermakna inkulturasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan, atau bahkan invasi kebudayaan.

E.     Patokan Nilai yang Perlu DIperhatikan dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ada 4 hal pokok ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan secara manusiawi:
1.                   Penghormatan pada hak-hak asasi manusia, yang menegaskan bahwa secara positif dan secara konkrit unsur-unsur nama yang tidak boleh dilanggar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat agar masyarakat itu tetap manusiawi. Rumusan hak asasi merupakan sarana hokum untuk menjamin penghormatan terhadap manusia. Individu-individu perlu dilindungi dari pengaruh penindasan ilmupengetahuan.
2.                   Keadilan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi sebagai hal yang mutlak. Perkembangan teknologi sudah membawa akibat konsentrasi kekuatan ekonomi maupun kekuatan politik. Mau memanusiakan pengembangan ilmu pengetahuam dam teknologi berarti mau mendesentralisasikan monopoli pengambilan keputusan dam bidang polotik dan ekonomi. Ini berarti pelaksanaan keadilan harus member pada setia individu kesempatan yang sama menggunakan hak-haknya.
3.                   Soal lingkungan hidup. Tak seorangpun berhak menguras tandas sumber-sumber alam dan manusiawi tanpa memperhatikan akubat-akibatnya pada seluruh masyarakat. Ekologi mengajarkan kita bahwa ada kaitan erat antar benda yang satu dengan benda yang lain di alam ini. Ada hubungan timbale balik antara manusia, alam dan benda-benda. Ini berarti pengolahan sepihak terhadap salah satu dari tiga rtealitas tadi akan membawa akibat dan pengaruh pada bagian-bagian lain. Ekologi mengejar kita pula mengetasi batas-batas kritis dari dunia: energy dan sumber daya alam yang terbatas. Pertimbangan soal lingkungan menuntut perhatian pada akibat-akibat pada pencemaran alam, penyiujtasn kehidupan dimasa depan bagi bangsa manusia.
4.                   Nilai manusia sebagai pribadi. Daslam dunia yang dikuasa teknik, harga manusia dinilai dari tempatnya sebagai salah satu instrumen sistem administrasi kantor tertentu. Akibatnya manusia dinilai bukan sebagai pribadi tetapi lebih dari sudut kegunaannya atau dilihat sejauh manfaat praktisnya bagi suatu sistem. Nilainya sebagai pribadi berdasarkan hubungan sosial, dasar kerihanian dan penghayatan hidup sebagai manusia dikesampingkan. Bila pengembangan ilmu penetahuan dan teknologi mau manusiawi perhatian pada nilai manusia sebagai nilai pribadi tak boleh dikalahkan oleh mesin.
Hal ini penting karena sistem teknokratis cenderung kearah dehumanisasi. Mengapa? Karena nilai-nilai sistem teknokrasi berdasar pada yang objek nyata. Sebagai data serta paham instrumentalisme. Teknologi ternyata mengeser nilai-nilai dasar manusia sebagai dasar pribadi. Maka pengembangan teknologi yang manusiawi harus secara dasar menempatkan manusia sebagai pribadi, sebagai objek yang bernilai pada dirinya. Itulah 4 hal pokok sebagai ulasan bagi jalan keluarga masalah kompleksitas pengembangan ilmu pengetahuan dasn teknologi.

X.2 HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

A.    Tiga Institut Kebenaran
Manusia ialah makhluk pencari kebenaran. Ada tiga jalan untuk mencari, menghampiri, dan menemukan kebenaran, yaitu : ilmu, filsafat, dan agama. Ketiga cara ini mempunyai ciri-ciri tersendiri dalam mencari, menghampiri, dan menemukan kebenaran. Ketiga institut itu mempunya titik persamaan, titik kebenaran, dan titik singgung yang satu terhadap yang lain.
1.      Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan itu ialah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hokum-hukum tentang hal ikhwal yang diselidikinya (alam, manusia, dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pikiran manusia yag dibantu pengindraannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.
2.      Filsafat
Filsafat ialah “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sesuatu yang-ada:
a.       Hakikat Tuhan
b.      Hakikat alam semesta; dan
c.       Hakikat manusia;
Serta sikap manusia termaksud sebagai konsekuensi dari pada faham (pemahaman)-nya tersebut.

3.      Agama
Agama (pada umumnya) ialah:
-        Satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak diluar manusia.
-        Suatu sistema ritus (tata peribadatan) manusia terhadap yang dianggapnya.
-        Suatu sistema normal (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termasuk diatas.
Ditinjau dari segi sumbernya maka agama (tata keimanan, tata keperibadatan, dan tata aturan) itu dapat dibedakan atas dua bagian.
Pertama, agama samawi (agama langit, agama wahyu, agama profetis).
Kedua, agama budaya (agama bumi, agama filsafat, natural religion)
Agama islam adalah:
-        Wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepadas segenap umat mausia; sepanjang masa dan setiap persada;
-        Satu sistem keyakinan tata ketentuan Ilahi yang mengatur segala perikehidupan dengan Tuhannya, maupun hubungan manusia dengan alam lainnya (nabati, hewani, dan sebagainya);
-        Bertujuan keridhaan Allah, keselamatan dunia dan akhirat serta rahmat bagi segenap alam; padas garis besarnya terdiri atas“ ‘akidah, syari’ah (yang meliputi ibadah daslam arti khas dasn mu’amalah dalam arti luas) dan akhlaq;
-        Bersumberkan kitab suci yaitu Al-Quranul karim sebagai penyempurnya wahyu-wahyu Allah sebelumnya, sejak manusia digelarka keatas persada buana ini, yang dilengkapi dan ditafsirkan oleh sunnah Rasulullah saw.

B.     Titik persamaan
      Baik ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama, yaitu: kebenaran. Ilmu pengetahuan, dengan tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan metodenya sendiri, mencari kebenaran tentang alam dan (termasuk didalamnya) manusia: filsafat, dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak daspat dijawa oleh ilmu, karena diluar atau diatas jangkauannya) ataupun tentang Tuhan. Agama, dengan karakteristiknya sendiri pula, memberikan jawaban atas, segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam maupun tentang manusia ataupun tentan Tuhan.

C.    Titik perbedaan
Baik ilmu maupun filsafat, keduanya hasil dari sumber yang sama, yaitu; ra’yu (akal, budi, rasio, nous, rede, vertand, vernunft) manusia. Sedasngkan agama bersumber pada wahyu dari Allah.
Ilmu pengetahuan, mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset), pengelaman (empiris) dasn percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filsafat menghampiri kebenran dengan cara mengembarakan atau mengelanakan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal tangannya, sendiri bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) berbagai masalah asasi dari atau kepada Kitab Suci, kodifikasi, firman Ilahi untuk manusia di atas planet bumi ini.
Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, riset, dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu, maupun kebenaran filsafat, kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu yang dturunkan oleh Dzat Yang Maha Benar, Maha Mutlak dan Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.
Baik ilmu maupun filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya pada iman.

D.    Titik singgung
Tidak semua masalah yang dipertanyakan manusia dapat dijawab secara positif oleh ilmu-pengetahuan, karena ilmu itu terbatas; terbatas oleh subjeknya (sang penyelidik), oleh objeknya (baik objek material maupun objek formanya), oleh metodologinya. Tidak semua masalah yang tidak atau belum terjawab oleh ilmu, lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh filsafat. Jawaban filsafat sifatnya spekulatif dan juga alternatif, tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat pelbagai jawaban filsafat (para filsuf) sesuai dan sejalan dengan titik tolak sang ahli filsafat itu. Agama memberi jawaban tentang banyak (pelbagai) soal asasi yang sama sekali tidak dijawab oleh ilmu, yang dipertanyakan (namun tidak terjawab semua secara bulat) oleh filsafat. Akan tetapi perlu kita tegaskan disini; juga tidak semua persoalan manusia terdapat jawabanya dalam agama. Adapun soal-soal manusia yang tiada jawabannya dalam agama dapat kita sebutkan sebgai berikut:
Pertama: soal-soal kecil, detail, yang tidak prinsipil, seperti: jalan kendaraan sebelah iri atau sebelah kanan, soal rambut panjang atau pendek, soal cek, wesel dan sebagainya.
Kedua, persoalan-persoalan yang tiada jelas dan tegas tersurat dalam Al-Quran (As-sunnah), yang diserahkan kepada ijtihad (hasil daya pemikiran manusia yang tiada berlawanan dengan jiwa dan semangat Al-Quran dan As-Sunnah).
Ketiga, persoalan-persoalan yang tetap merupakan misteri, dikabuti rahasia yang tiada terjangkau akal-budi dan fakuultas-fakultas rohaniah manusia lainnya karena kebijaksanaan-Nya, tiada dilimpahkan-Nya kepada manusia; seperti hakikat ruh, hakikat qadha dan qadar dan sebagainya.
Dengan kekuatan akal-budi (Ilmu dan filsafat)-Nya, manusia”naik” menghampiri dan memetik kebenran dei kebenaran yang dapat dijangkau dengan kapasitanya sendiri yang terbatas itu. Di samping itu karena sifat Rahamatnya, Allah SWT berkenan “menurunkan” wahyu-Nya dari “atas” kepada umat manusia di atas planet bumi ini, agar mereka mencapai dan menemukan kebenaran asasi dasn hakiki, yang tidak dapat dicapai dan diketemukan hanya sekedar dengan kekuatan akal-budinya semata-mata. Allah telah menganugrahkan kepada manusia: (1) alam, (2) akal budi dan (3) wahyu. Dengan akal-budinya manusia dapat lebih memahami, baik ayat Qur-aniyah (wahyu) maupun ayat Kauniyah (alam) untuk kebahagiaan mereka yang hakiki.

E.     Renungan
1)   Mustahillah terdapat pertentangan antara agama Islam pada satu pihak dengan Ilmu pengetahuan (dan filsafat) yang benar (!) pada pihak lainnya. Sebab ilmu (dan filsafat) yang benar tiada lain ialah usaha manusia dengan kekuatan akal-budinya yang relative berhasil dalam memahami kenyataan alam; susunan alam, pembagian alam, bagian-bagian alam dan hokum (yang berlaku bagi) alam. Al-Quran (Ayat Quraniyah) tidak lain adalah: pembukuan segenap alam semesta (Ayat kauniyah) dalamsatu Al-Kitab. Kedua ayat Allah (Ayat Quraniyah dan Ayat Kauniyah) itu saling menafsirkan.
Penafsiran yang satu terhadap yang lainnya tidak (akan) pernah kontradiksi, karena kedua-duanya berasal dari Allah; yang pertama sabda Allah (the words of Allah) dan yang kedua karya Allah (the works of Allah).
Perbedaan (dan bukan pertentangan) perumusan antara agama (Al-Quran) pada satu pihak dan ilmu (dan filsafat) yang benar pada pihak lainnya adalah mungkin saja. Perbedaan formulasi antara ilmu yang satu dengan yang lainnya tentang suatu masalah tertentu adalh lazim dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan formulasi antara dua antripologi (antropologi fisik pada satu pihak dan antropologi budaya pada pihak lainnya) mengenai “perbedaan antara manusia dengan hewan “ umpanya, besar kemungkinan berbeda sekali.
2)   Agama (Al-Quran) lebih banyak dapat dihayati (difahami, diselami, dan didalami) oleh karena itu lebih banyak berbicara kepada manusia yang berilmu pengetahuan (dan berfilsafat) luas dan dalam.
Bagi seorang natural scientist (sarjana ilmu pengetahuan alam), Al-Quran merupakan Buku (dengan B besar) tentang alam. Bagi seorang social dan cultural scientist (sarjana ilmu pengetahuan sosial dan budaya), Al-Quran ini merupakan Buku tentang Tuhan dan Ketuhanan. Bagi seorang filsuf (ahli filsafat), Al-Quran itu merupakan Buku mengenai pelbagai masalah asasi yang menjadi bahan perbincangan filsafat dari masa ke masa.
Agama (Al-Quran) memberikan dorongan (motif), pengarahan dan tujuan kepada ilmu (dan filsafat).
Bagi mahasiswa sebagai calon seorang ilmuan maka supaya ilmu dapat lebih aktif dan mampu serta berfungsi sebagaimana mestinya, perlu ada usaha untuk meningkatkan dirinya. Ada 6 hal yang perlu mendapat perhatian yang yaitu:
1)      Ilmu harus mampu memahami kebudasyaan masyarakat tempat ilmu itu berkiprah, dengan demikian dapat dihindari konflik yang tidak perlu.
2)      Harus disadari bahwa banyak cara untuk menemukan kebenaran, salah satunya ialah melalui ilmu. Dengan ini maka tidak boleh ada anggapan seolah-olah hanya ilmu saja yang mampu menemukan kebenaran, dengan ini lalu penggunaan terhadap akal secara berlebihan.
3)      Menambah bobot para ilmuan dan lembaga-lembaga keilmuan. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepribadian yang berpribadi luhur, akan mendapat kepercayaan dan sekaligus mempunya bobot yang cukup meyakinkan.
4)      Mengedakan pendidikan moral pancasila, supaya para ilmuan juga mempunya kepribadian pancasila.
5)      Perlunya filsafat ilmu diberikan sebagai mata kuliah diperguruan tinggi.
6)      Mandirinya ilmu. Dengan kemandirian itu, ilmu dapat mengembangkan diri, dalam hal ini kebebasan mimbar akademik dalam batas-batas nilai pancasila harus dilaksanakan.

X.3 RANGKUMAN  
Hubungan ilmu, teknologi dan kebudayaan sesungguhnya merupakan realitas yang komplek. Masing-masing merupakan jalinan yang rumit dan berpihak pada dua aspek realitas yang berbeda, yaitu abstrak ideasional dan aspek konkrit operasional. Kedua aspek tersebut saling mengadaikan sehingga telah terdapat hubungan antara ilmu, teknologi, dan kebudasyaan mau tidak mau meski mempertimbangkan dinamika hubungan antara aspek konkret dengan aspek abstrak pada ketiganya. Mengabaikan salah satu aspek hanya akan menghasilakan telaah yang timpang sama seperti hasrat manusia kini untuk memecahkan kebutuhan dengan cara sederhana melalui teknologi, hasrat untuk menjelaskan hubungan antara ilmu, teknologi dan kebudayaan dalam suatu uraian sederhana merupakan suatu hal yang kontradiktif. Tidak ada pemecahan sederhana untuk suatu hubungan dari realitas yang komplek.
Akhirnya hal yang sangat penting untuk selalu dicamkan dan diperhatikan yaitu:
1)      Menghindari sikap ilmu untuk ilmu dan teknologi untuk teknologi seharusnya ilmu dan teknologi, untuk kesejahteraan dan kebahagian manusia.
2)      Penerapan ilmu dan teknologi di Indonesia harus didasarkan atas pancasila. Karena pancasila adalah dasar Negara republik Indonesia, dan selanjutnya ilmu dan teknologi harus diabdikan kepada Negara dan masyarakat Indonesia dengan kata lain, ilmu dan teknologi harus diabdikan kepada kepentingan nasional.

X.4 Soal dan Diskusi

1.      Jelaskan persmaan dan perbedaan ilmu, teknologi dan kebudayaan?
2.      Jelaskan hubungan ilmu dengan kebudayaan
3.      Jelaskan hubungan teknologi dan kebudayaan
4.      Jelaskan hubungan ilmu, filsafat dan agama


DAFTAR PUSTAKA

1.      Suryo Ediyono, 2010, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Penerbit Kaliwangi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar