Jumat, 04 April 2014

AKHLAK YANG MULIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk yang memiliki kapasitas untuk melakukan penalaran berfikir, merasa dan berbuat atau bertingkahlaku. Kapasitas itu dimungkinkan karena manusia dibekali Allah dengan potensi akal, hati dan tubuh-jasmani. Namun untuk mampu mengembangkan kapasitas tersebut secara baik, fungsional, dan sempurna, manusia memerlukan pendidikan. Namun bagaimana dengan akhlak? Islam merupakan agama yang berakhlak. Ini dapat dilihat bahwa akhlak merupakan salah satu perhatian terpenting dalam agama. Untuk menjadi berakhlak harus melalui tahap pembentukan akhlak.
Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam.[1] Dari latar belakang inilah penulis tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai pembentuka akhlak yang mulia ini dalam bab selanjutnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pembentukan akhlak?
2.      Bagaimana cara pembentukan akhlak yang mulia?
3.      Apa saja kategori akhlak yang mulia?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Arti Pembentukan Akhlak
Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Akhlak mempunyai peranan penting dalam membentuk perbuatan manusia, bahkan apa saja yang lahir dari manusia itu sendiri, baik berupa sikap, perkataan atau perbuatan adalah lahir dari pembawaan dan sifat jiwanya.[2]
Menurut sebagian ahli, akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Selanjutnya pendapat lain mengatakan, akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Ibnu Miskawaih, Ibn Sina, al-Ghazali dan lain-lain termasuk kelompok yang mengatakan akhlak adalah hasil usaha (Muktasabahah).[3]
Pada kenyataanya dilapangan, usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dengan berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada orang tua, sayang kepada sesama makhluk Tuhan dan seterusnya. Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai dampak dari kemajuan dibidang iptek.
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk pribadi, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentuksn akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang ada pada diri manusia, termasuk didalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan intuisi dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.[4]

B.     Metode Pembinaan Akhlak
Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad  SAW. yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan yang baik yang selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin. Perhatian Islam dalam pembinaan akhlak selanjutnya dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Ajaran Islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal salih dan perbuatan terpuji. Seperti dalam al-Qur’an:
$yJ¯RÎ) šcqãYÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur §NèO öNs9 (#qç/$s?ötƒ (#rßyy_ur öNÎgÏuqøBr'Î/ óOÎgÅ¡àÿRr&ur Îû È@‹Î6y «!$# 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqè%Ï»¢Á9$# ÇÊÎÈ  
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imannya).” (QS. Al-Hujurat, 49: 15).
Pembinaan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akjlak. Misalnya, rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalimat ini mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan rasul-Nya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik. Begitu juga pada butir-butir rukun Islam yang lain, masing-masing mengandunga konsep tentang akhlak.
Berdasarkan analisis tersebut. Kita dapat mengatakan bahwa Islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlak, termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak yang ditempuh islam adalah menggunakan cara atau system yang integrated, yaitu system yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.
Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Berkenaan dengan ini Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasrnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan. Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, khususnya akhlak lahiriah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa. Cara lain yang tak kalah ampuhnya adalah melalui keteladanan. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.[5] Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh Rasulullah. Keadaan ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ                                                                                                   
Artinya:
”Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan (keridlaan) Allah dan (berjumpa dengan-Nya di) hari kiamat, dan selalu banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab, 33: 21).
Selain itu pembinaan akhlak dapat pula ditempuh dengan cara senantiasa menganggap diri ini sebagai yang banyak kekurangannya dari pada kelebihannya. Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina.

C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang amat popular. Pertama aliran natifisme. Kedua, aliran empirisme, dan ketiga aliran konvergensi. Menurut aliran nativisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dll.
Menurut aliran empirisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor dari luar, yaitu lingkungan sosial,termasuk pendidikan dan pembinaan yang diberikan. Selanjutnya pada aliran konvergensi berpendapat pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan si anak, dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dinuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial.
Aliran yang ketiga ini tampak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dapat dipahami dari ayat berikut:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#u noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ    
Artinya:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Nahl, 16: 78).
Dengan demikian faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak pada anak ada dua, yaitu dari dalam merupakan potensi fisik, imtelektual dan hati (rohaniah) yang dibawa anak sejak lahir, dan faktor dari luar yang dalam hal ini adalah kedua orang tua dirumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat. Melalui kerja sama yang baik antara tiga lembaga pendidikan tersebut, mala aspek kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (pengamalan) ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak.

D.    Manfaat Akhlak Mulia
Al-Qur’an dan hadits banyak sekali memberi informasi tentang manfaat akhlak yang mulia. Allah berfirman:
ô`tB Ÿ@ÏJtã Zpy¥ÍhŠy Ÿxsù #tøgä žwÎ) $ygn=÷WÏB ( ô`tBur Ÿ@ÏJtã $[sÎ|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4s\Ré& uqèdur ÑÆÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù šcqè=äzôtƒ sp¨Ypgø:$# tbqè%yöãƒ $pÏù ÎŽötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÍÉÈ  

Artinya:
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surge, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.” (QS. Al-Mu’min, 40: 40).
Selain ayat diatas, ada pula ayat lain yang memberi pemaparan mengenai akhlak mulia, misalnya pada surat an-Nahl ayat 97 dan pada al-Kahfi ayat 88. Ayat ayat tersebut dengan jelas menggambarkan keuntungan atau manfaat dari akhlak yang mulia. Mereka itu akan memperoleh kehidupan yang baik, mendapatkan rizki yang berlimpah, dsb. Selanjutnya dalam hadits juga disebutkan leterangan tentang keberuntungan dari akhlak yang mulia, antara lain:
  1. Memperkuat dan menyempurnakan agama
  2. Mempermudah perhitungan amal di akhirat
  3. Menghilangkan kesulitan
  4. Selamat hidup di dunia dan akhirat

E.     Macam- Macam Akhlak mulia
1.      Berbakti kepada ibu dan bapak
Ibu adalah orang yang paling banyak menanggung kesengsaraan dan kesusahan untuk kepentingan anaknya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Ahqaf yang berbunyi :
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ $·Z»|¡ômÎ) ( çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $\döä. çm÷Gyè|Êurur $\döä. ( ¼çmè=÷Hxqur ¼çmè=»|ÁÏùur tbqèW»n=rO #·öky­ 4

Artinya:
“Kami perintahkan kapada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibi-bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf : 15)
Kemudian orang kedua yang besar jasanya terhadap anak adalah bapaknya. Bapak bekerja di rumah, di ladang, di pabrik, di kantor dan di tempat-tempat lain adalah untuk biaya anak dan isterinya. Oleh sebab itu manusia harus berbakti kepada ibu bapaknya, dan mentaati suruhannya, sebagai pembalas budi terhadap jasa-jasa keduanya. Pada hakekatnya walaupun bagaimana besarnya balas budi yang diberikan kepada ibu bapaknya tidak akan dapat mengimbangi jasa-jasa keduanya.[6]
Berbuat baik kepada ibu bapak tidak hanya semasa hidupnya saja, tetapi sesudah keduanya meninggalpun kita harus berbuat baik. Cara berbuat baik kepada ibu bapak yang sudah meninggal, telah diatur dalam Islam.
Diriwayatkan :
جَاءَرَجُلٌ فَقَالَ : يَارَسُوْلَ اللهِ هَلْ بَقِىَ مَنْ بِرِّأَبَوَىَّ شَيْئٌ اُبِرُّ هُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ؟
 قَالَ : نَعَمْ الصَّلَا ةُ عَلَيْهِمَاوَالْا سِتِغْفَارُ لَهُمَا, وَاِنْقَاذُعَهْدِ هِمَاوَاكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا, وَصِلَةُ الرَّحْمِ الَّتِى لَاتُوْ صَلُ الّاَ بِهِمَا. (رواه ابوداود)
Artinya:
“Telah datang seorang laki-laki (kepada  Rasulullah) lalu ia bertanya: Ya Rasulullah, masih adakah kebaikan yang dapat saya kerjakan untuk ibu bapak sesudah keduanya meninggal ?”
“Ada jawab Rasulullah : Yaitu menyembahyangkan (jenazah) meminta ampun kepada Tuhan, menyempurnakan janjinya, memuliakan sahabatnya dan selalu bersilaturrahmi dengan keluarga yang ada hubungan dengan keduanya.” (H.R. Abu Daud).
            Adapun cara-cara menghormati ibu bapak menurut KH. Abdullah Salim yaitu:[7]
·      Berbicara dengan kata-kata yang baik
·      Lindungi dan doakan
·      Hormat dengan sikap terima kasih
·      Menghubungkan silaturrahmi
·      Menunaikan washiyat kecuali yang ma’shiyat
·      Durhaka pada orang tua adalah dosa besar
·      Membantu ibu dan bapak

2.      Sopan terhadap guru
Guru adalah menjadi pengganti dari orang tua untuk mendidik dan membimbing anaknya. Tidak setiap orang tua mampu mendidik dan mengajar anaknya. Oleh sebab itu sudah sepantasnya murid bersikap sopan santun terhadap gurunya. Murid hendaknya bersikap merendahkan diri, tidak menunjukkan sikap angkuh, sombong dan acuh tak acuh terhadap gurunya.[8]
Rasulullah bersabda :
وَقِّرُوْامَنْ نَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ (رواه ابوالحسن الماوردى)

Artinya:
“Muliakanlah orang yang kamu belajar dari padanya (gurunya).” (HR. Abu Hasan al-Mawardi).[9]
            Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani telah menetapkan bagi murid beberapa adab yang harus diterapkannya dalam berperilaku terhadap gurunya yaitu:
·      Mentaatinya dan tidak menentangnya baik secara lahir maupun batin.
·      Harus menutupi aib gurunya.
·      Selalu mengikuti gurunya dan tidak lepas darinya.
·      Harus bersikap sopan di depan gurunya dan harus menggunakan kata-kata yang paling halus ketika berbicara dengannya serta melakukan sesuatu yang memudahkan gurunya.
·      Murid harus yakin dan percaya bahwa gurunya adalah ahli untuk ditimba ilmu dan pengetahuannya.
Supaya proses pendidikan berhasil dengan baik karena itu harus adanya tanggung jawab bersama antara murid dan guru. Untuk itu Abdul Qadir Al-Jailani juga menetapkan adab-adab dan kewajiban yang harus dilakukan seorang guru adalah:
·      Hendaknya guru menerima murid itu karena Allah.
·      Guru harus senantiasa memperhatikan perilaku muridnya.
·      Jika guru mengetahui kesungguhan muridnya, maka dia tidak boleh memberinya keringanan.
·      Guru hendaknya membimbing muridnya agar memegang prinsip-prinsip kebaikan dan menjauhi perbuatan keji, baik dalam perkataan maupun akhlak.[10]
3.      Bersikap baik kepada saudara
Agama Islam memerintahkan, agar berbuat baik kepada sanak saudara atau kaum kerabat, sesudah menunaikan kewajiban kepada Allah dan ibu bapak. Kalau kita di takdirkan Allah SWT. ada mempunyai kelebihan rezeki, sedekahkanlah sebagiannya kepada saudara atau karib kerabat kita. Sebagaimana firman Allah dalam surah an-Nisa’ : 36 yang berbunyi:
 (#rßç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ÉÎ/ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Í$pgø:$#ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# Í$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·qãsù ÇÌÏÈ  
Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (an-Nisa’: 36).
4.      Berbuat baik kepada tetangga
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Agama Islam telah membuat suatu ketentuan, bahwa orang harus memuliakan tetangganya, tidak mengganggu dan menyusahkan mereka. Nabi Muhammad bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِفَلْيُكْرِمْ جَارَهُ. (رواه لبحارى)

Artinya:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari).

5.      Cita kepada Allah
Sekurang-kurangnya ada empat alas an mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah, yaitu:
·      Karena Allah-lah yang menciptakan manusia.
·      Karena Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera.
·      Karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia.
·      Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.[11]








BAB III
PENUTUP

Simpulan:
Ada beberapa cara yang digunakan dalam pembentukan akhlak. Pembinaan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak. Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, khususnya akhlak lahiriah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa. Selanjutnya yang tak kalah ampuhnya adalah melalui keteladanan. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh Rasulullah.










DAFTAR PUSTAKA

·      Al-Ghazali, Mengobati Penyakit Hati, Bandung: Karisma, 2000
·      Al-Qahthani Said bin Musfir, Buku Putih Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 2010.
·      Hasam M. Ali, Tuntutan Akhlak, PT. Betawi Sarana Grafi, Cet. 1, 1984.
·      Ibrahim Rustami, Al-Achlaak, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.
·      Kahar Mansyhur, Membina Moral dan Akhlak, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
·      KH. Abdullah Salim, Akhlaq Islam, Jakarta: Media Da’wah, 1994.
·      M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1996).
·      Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (terj.) Moh. Rifa’i, dari judul asli Khuluq al-Muslim, Semarang: Wicaksana, 1993.
·      Muhammad Athiyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.


[1]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996), h.155
[2] Ibrahim Rustami, Al-Acklaak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1962), h.132
[3] Muhammad Athiyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), cet. II, hlm. 15.
[4] Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (terj.) Moh. Rifa’i, dari judul asli Khuluq al-Muslim, (Semarang: Wicaksana, 1993), cet. IV, h. 40
[5] Al-Ghazali, Mengobati Penyakit Hati, (Bandung: Karisma, 2000), h.22
[6] Hasam M. Ali, Tuntutan Akhlak, (PT. Betawi Sarana Grafi, Cet. 1, 1984), h.13
[7] KH. Abdullah Salim, Akhlaq Islam, (Jakarta: Media Da’wah, 1994), h. 72-77
[8] Kahar Mansyhur, Membina Moral dan Akhlak, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), cet. 1, h.287
[9]Ibid, h. 14
[10] Al-Qahthani Said bin Musfir, Buku Putih Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 2010, cet. VII, h.435-437.
[11]ibid, h.16-23

2 komentar: