Jumat, 04 April 2014

RUKUN IMAN YANG PERTAMA



BAB I
PENDAHULUAN

Iman merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Iman diberikan Allah khusus kepada siapa yang mau menerimanya dengan sukarela, tulus ikhlas dan berdasarkan pertimbangan masak-masak, tanpa dipengaruhi apa dan siapa. Tuhan pun melarang muslim memaksa orang untuk meyakini dan mematuhi-Nya. Maka siapa yang melakukannya berarti ia telah melanggar aturan Tuhan. Iman yang dikehendaki Allah ialah iman yang berasaskan kebebasan, kemerdekaan dan kemauan serta kemampuan daya terima manusia itu sendiri. Tuhan benar-benar membuktikan adanya kebebasan yang diberikan kepada kita, sehingga alternatifnya pun cuma ada dua yaitu patuh dengan segala konsekuensinya dan membangkang dengan segala konsekuensinya pula. 
Kita ketahui rukun iman atau hal-hal pokok yang harus dipercayai dan diyakini oleh setiap mukmin ada enam, yakni iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-rasul, iman kepada Hari Kiamat, dan iman kepada Takdir. Sedangkan dalam makalah ini penulis akan membahas tentang rukun iman yang pertama yaitu iman kepada Allah secara lebih detail. Maka dari itu agar lebih jelasnya tentang rukun iman yang pertama ini akan dibahas dalam bab selanjutnya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Iman
Iman adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan pemiliknya sehari-hari. Iman bukanlah semata-mata dengan lidahnya, “Saya beriman”. Banyak orang mengaku beriman tetapi hatinya tidak percaya. Iamn bukan pula semata-mata mengerjakan amal dan syari’at yang biasa dikerjakan oleh orang-orang beriman, karena banyak orang yang pada lahirnya mengerjakan peribadatan dan perbuatan baik, tetapi hatinya kosong dari rasa kebaikan dan keikhlasan kepada Allah.[1] Al-qur’an menyebutkan :
z`ÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ $¨YtB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$$Î/ur ̍ÅzFy$# $tBur Nèd tûüÏYÏB÷sßJÎ/ ÇÑÈ   šcqããÏ»sƒä ©!$# tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä $tBur šcqããyøƒs HwÎ) öNßg|¡àÿRr& $tBur tbráãèô±o ÇÒÈ  
Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. Al-baqarah : 8-9).


            Dan Hadits juga menyebutkan:
عَنْ أَبِي هُريْرَةَ قَالَ: كَانَرَسُولُ اللهِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم يَوْمًابَارِزًالِنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ مَا الْإِيْمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِااللهِ وَملَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْاخِرِقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلَاتُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوْبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَاتَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَابِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَلَكِنْ سَأُحِدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَاإِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَافَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَاكَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَ تَطَا وَلَ رِعَاءُالْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَافِي خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللهُ ثُمَّ تَلَا صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم (إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْأَرْحَامِ وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ مَاذَاتَكْسِبُ غَدًا وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيَّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلَيْمٌ خَبِيْرٌ). قَالَ ثُمَّ أَدْبَرَالرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم رُدُّواعَلَيَّ الرَّجُلَ فَأَخَذُوالِيَرُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْاشَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم هَذَاجِيْرِيْلُ جَاءَلِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِيَنَهُمْ.
Artinya : “Bersumber dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw muncul di tengah-tengah kaum muslimin, lalu datanglah kepada beliau seorang laki-laki lalu bertanya kepada beliau. Ya Rasulullah, apakah iman itu? Rasulullah Saw menjawab,“Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat, kepada Kitab-Nya, kepada hari pertemuan dengan-Nya, kepada para Rasul-Nya, dan engkau beriman kepada Hari Kebangkitan akhir. Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud Islam? Jawab beliau, “Islam ialah engkau beribadah kepada Allah dan kamu tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat wajib, dan engkau melaksanakan puasa ramadhan. Ia bertanya (lagi), “Wahai Rasulullah, apa itu ikhsan? Jawab beliau, Yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia, sesungguhnya engkau tidak bisa melihat-Nya, namun sesungguhnya Dia pasti melihatmu. Ia bertanya (lagi), “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat itu akan tiba? Jawab beliau, “Tidaklah yang ditanya tentangnya lebih tahu daripada ynag bertanya, akan tetapi aku akan menjelaskan kepadamu tentang tanda-tandanya. Yaitu apabila budak perempuan melahirkan anak majikannya, maka itu termasuk diantara tanda-tandanya. Apabila seorang yang semula miskin papa dan bodoh sekali menjadi penguasa di muka bumi, maka itu termasuk diantara tanda-tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak berpacu membangun gedung bertingkat, maka itu termasuk diantara tanda-tandanya. Ada lima perkara ghaib yang hanya diketahui Allah, kemudian Rasulullah Saw membaca, WAINNALLAAHA ‘ALIIMUN KHABIIR (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal), kemudian orang itu mundur, lalu Rasulullah Saw bersabda, ini adalah Malaikat Jibril datang untuk mengajar orang-orang tentang agama mereka.” (HR. Muslim)[2]
Iman hendaknya berwujud pernyataan dengan lidah, dilandasi keyakinan dalam hati dan disertai perbuatan dengan ikhlas dan jujur dalam menjalankan perintah dan putusan Allah dan Rasul-Nya.

B.       Iman Kepada Allah
Rukun iman yang pertama adalah Allah SWT, inilah ajaran paling pokok yang mendasari seluruh ajaran Islam. inilah yang tersimpul dalam kalimat tauhid, kalimat tayyibah: La ilaha illallah yang artinya Tiada Tuhan selain Allah. Ini tertuang dalam dua kalimat syahadat, kunci menuju Islam sebagai jalan hidupnya. Mengenal Allah SWT dapat ditempuh melakukan dua jalur. Pertama, dengan menggunakan akal pikiran untuk memeriksa dan memikirkan secara teliti apa yang diciptakan Allah. Kedua, dengan mengerti nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam Al-qur’an. Al-qur’an telah mendorong akal pikiran manusia untuk mengenal Allah dengan mengemukakan ayat-ayat tentang alam yang menjelaskan segala isi dunia. Dengan pemikiran itu akan tercapailah pengenalan kepada Allah. Dengan mengenal ciptaan-Nya, manusia akan mengenal kesempurnaan sifat-sifat-Nya, kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti-bukti keperdulian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya, dan kelangsungan kekuasaan-Nya dalam menciptakan.[3]

C. Tauhid (Zat), Sifat, Af’al, Rububiyah, Uluhiyah, dan Syirik
1. Tauhid (Zat) Allah
Sebenarnya wujudnya Allah itu sudah nyata, bahkan merupakan suatu hakikat yang tidak perlu lagi diragukan persoalannya dan tidak ada jalan untuk memungkirinya. Sesungguhnya hakikat dari zat tuhan itu tidak mungkin dapat diketahui dengan akal pikiran manusia dan tidak dapat dicapai keadaan atau kenyataan yang sebenarnya. Sebabnya adalah pikiran manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut, sehingga manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki cara menemukannya atau perantara untuk mencapainya. Karena itulah sampai sekarang ilmu pengetahuan modern belum dapat menguraikan berbagai hakikat benda dan semua yang ada di alam semesta ini secara memuaskan. Sesunggunya zat Allah itu masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat diliputi oleh pemikiran-pemikiran.[4] Oleh sebab itu, alangkah tepatnya firman Allah Swt:
žw çmà2Íôè? ㍻|Áö/F{$# uqèdur à8Íôムt»|Áö/F{$# ( uqèdur ß#Ïܯ=9$# 玍Î6sƒø:$# ÇÊÉÌÈ  
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.”(QS. Al-An’am: 103)
Jika manusia dengan akal pikirannya tidak dapat mencapai hakikat zat Tuhan tidak berarti bahwa zat Allah itu tidak ada, tetapi yang benar adalah bahwa zat Allah itu ada dengan penetapan sebagai sesuatu yang wajib adanya. Untuk menjelaskan bahwa wujud Allah itu ada, semua yang ada dilingkungan alam semesta ini dapat digunakan sebagai bukti nyata tentang wujudnya Tuhan.[5]
2. Tauhid Sifat Allah
Seseorang muslim harus menyadari dan menyakini bahwa Allah Swt itu maujud yakni ada dan Dia memiliki Asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan memiliki sifat-sifat yang luhur yang menunjukkan kesempurnaan-Nya yang mutlak. Yang dimaksud dengan sifat Allah ialah bahwa sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat-sifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah. Sifat-sifat luhur yang dimiliki Allah merupakan penetapan dan kesempurnaan ketuhanan-Nya serta keagungan Illahi-Nya. Sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat manusia yang terbagi-bagi. Kekuasaan Allah tidak terbagi-bagi, sedangkan kekuasaan manusia adalah terbagi-bagi, demikian juga sifat-sifat lain yang ada pada manusia pun terbagi-bagi.[6]
Dengan demikian, jelas bahwa segala pikiran yang mempersamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya adalah tidak benar.


Allah berfirman:
4 ¼çmoY»ysö7ß 4n?»yès?ur $£Jtã šcqàÿÅÁtƒ ÇÊÉÉÈ    
Artinya: “Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan” (QS. Al-An’am: 100).
3. Tauhid Af’al Allah
                Sifat-sifat yang dimiliki Allah Swt ada yang termasuk dalam sifat-sifat zat dan ada yang termasuk dalam sifat-sifat Af’al (perbuatan). Sifat-sifat zat yaitu sifat-sifat Subutiah atau sifat-sifat Maknawiah, yakni sifat hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berfirman. Adapun sifat-sifat Af’al itu ialah seperti sifat menciptakan dan member rejeki. Jadi, Allah yang Maha Menciptakan dan Maha Pemberi rejeki Dialah yang membuat mekhluk ini dan juga yang mengaruniakan rejeki kepada mereka.
Para alim ulama telah sependapat bahwa sifat Af’al bukanlah sifat zat dan kedudukan sifat Af’al itu adalah sebagai tambahan dari sifat zat itu. adapun yang dimaksud dengan Tauhid Af’al atau Esa dalam perbuatannya ialah bahwa alam semesta ini seluruhnya ciptaan Allah, tidak ada bagian-bagian alam yang diciptakan oleh selain Allah SWT. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta, memerintah, dan menguasai kerajaan-Nya.[7]
Allah SWT berfirman:
(. . . Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ß,Î=»yz Èe@à2 &äó_x« . . .
Artinya: “tidak ada Tuhan selain dia, Pencipta segala sesuatu . . .(QS. Al-An’am: 102).
D. Arasy, Kursi, Sidratul Muntaha Lauhil dan Mahfudz
  1. Arsy (Singgasana)
Arsy adalah simbol keagungan dan tepat tajali serta kehususan dzat. Arsy juga disebut tubuh Hadrah (presensi), namun ia tersucikan dari enam arah (mata angin). Arsy merupakan pandangan tertinggi, dan tempat termulia yang meliputi semua ragam Maujudaat (segala yang ada), Arsy dalam wujud mutlak, seperti Jisim (tubuh) dalam wujud manusia, dengan i’tibar bahwa alam jisim mencakup, alam ruh, imajinasi, estimasi, logika dan lain sebagainya.[8]
  1. Kursi
Kursi merupakan symbol dari Taqdir Illahi (ketuhanan), tempat keluarnya konsesus perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Kursi juga tempat lahirnya segala hal yang bersifat parsial dan absurd, sentra kemanfaatan dan marabahaya, keterkumpulan dan ketercerai-beraian, dari Kursi pula terlihat bekas-bekas (Atsaar) sifat-sifat yang kontradiktif. Dari Kursi tersiarkan perintah dan warta ketuhanan kepada segala yang wujud, ia tempat memutuskan konsesus ketentuan-Nya (qadha’-Nya) sedang Qolan (pena) tempat memutuskan taqdir-Nya. Kursi merupakan tempat (pusat) pandangan segala sifat-sifat aktualiatas (perbuatan) al-Haq. Kursi juga merupakan tempat tajali dan simbol ketuhanan, ia juga merupakan tempat berpijaknya kaki al-Haq, dari Kursi tersebut al-Haq melakukan Qadha-Nya, tempat mengadakan atau meniadakan, menghancurkan atau menyelamatkan, member atau menahan, memuliakan atau menistakan segala yang ada, al-Haq melakukan semua itu melalui wajah Kursi-Nya.[9]

  1. Sidratul Muntaha
Sidratul Muntaha adalah penghujung (muara) tempat dan puncak kedudukan, yang bisa dicapai makhluk-Nya dalam meniti jalan Allah, tempat setelah Sidratul Muntaha adalah khusus untuk al-Haq, tidak ada satupun makhluk yang bisa menginjakkan kakinya di tempat paska Sidratul Muntaha, karena makhluk yang melintas melebihi batas Sidratul Muntaha akan lenyap terbakar dan hilang tak berbekas. Hal ini diisyaratkan Jibril as, yang berkata kepada Muhammad Saw : “Jika kau melangkah sejengkal lagi, niscaya kau akan terbakar, esensinya ketika rasul Muhammad Saw berada di Sidratul Muntaha, beliau dilarang melangkah meski hanya sejengkal, sebab beliau akan terbakar lenyap.[10]
  1. Lauhul Mahfudz
Lauhul Mahfudz merupakan induk benda pertama (Umm al-Huyuli), karena benda tidak berbentuk (memiliki rupa) kecuali setelah tertulis di Lauhul Mahfudz. Ketika benda pertama itu diwacanakan, bentuk (rupa) ditulis oleh Qolam (pena) tertinggi itulah sejatinya yang disebut Lauhul Mahfudz. Adanya benda pertama itu sejalan dengan kehendak al-Haq, karenanya dikatakan: Jika benda pertama itu telah terwacanakan dalam sebuah bentuk (citra), niscaya Sang pemberi bentuk akan tertampakkan pada citra bentuk tersebut di semesta alam-Nya, begitu pula ujaran Sang Pemberi bentuk akan tertampakkan, citra bentuk itu juga mengindikasikan peliputan, sejalan dengan sabda rasulullah Muhammad Saw yang artinya: “Sesungguhnya adalah hak Allah, mengangkat atau meletakkan dunia.[11]


E. Hikmah Iman Kepada Allah
Iman yang telah merasuk ke dalam hati membuahkan kebajikan bagi pemiliknya. Mereka yang menghayati dan mengalaminya Insya Allah merasakan kenikmatan lebih besar daripada yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Di antara buah iman adalah sebagai berikut:[12]
  1. Membesarkan hati dari rasa takut dan menumbuhkan keberanian
Iman kepada Allah menumbuhkan keberanian dan kebesaran hati. Orang beriman tidak takut berjuang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Jika ia mati dalam perjuangan itu, maka ia yakin memperoleh ridha Allah Swt. Ia yakin pula bahwa Allah sajalah yang memegang soal hidup dan matinya. Seseorang akan mati jika Allah telah menghendaki dengan sebab-sebab yang diketahui Allah saja. Kematian itu pasti datang dan tidak akan dapat dihindarkan. Cepat atau lambat, orang mukmin tentu pilih mati yang disukai Allah. Allah pun melarang menyebut “mati” bagi mereka yang gugur di jalan-Nya.[13]
2. Menenangkan hati dan menenteramkan jiwa           
Manusia kadang takut dan cemas karena berbagai sebab. Orang beriman tidak kesal atau berkeluh kesah menghadapi apa yang sedang dialami dan tidak takut atau cemas menanti masa-masa datang. Ia menutup segala pintu ketakutan.
Firman Allah Swt:
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& spoYÅ3¡¡9$# Îû É>qè=è% tûüÏZÏB÷sßJø9$# (#ÿrߊ#yŠ÷zÏ9 $YZ»yJƒÎ) yì¨B öNÍkÈ]»yJƒÎ) 3 ¬!ur ߊqãZã_ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 tb%x.ur ª!$# $¸JÎ=tã $VJÅ3ym ÇÍÈ  
Artinya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Fait: 4)
Seorang mukmin tidak pernah takut dalam arti sesungguhnya, kecuali kepada Allah. Pandangannya, hatinya, kesadarannya selalu terikat pada Allah. Orang beriman yakin bahwa rizki ada pada Allah Yang Maha Kaya. Maka ia tidak terpukau untuk memusatkan segala aktivitasnya untuk rizki. Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan jaminan rizkinya.[14]
3. menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan
Orang mukmin yakin bahwa Allah senantiasa dekat. Allah Swt, selalu bersamanya di mana saja ia berada. Karena Allah amat dekat, maka ia merasakan hubungan yang erat dengan Tuhan. Karena itu pula ia tidak pernah lupa menyebut-nyebut-Nya (dzikir) dan selalu berbisik keapda-Nya setiap waktu, dengan menjalankan shalat dan berdoa kepada-Nya. Ia tidak enggan dan bosan memanggil-Nya, hingga Allah mengaruniakan nikmat hubungan timbal balik yang menambah akrab dirinya dengan Tuhannya. Tak semua orng merasa dekat dengan tuhan, padahal Dia amat dekat. Itu antara lain karena ia merasa tidak pernah mendekati-Nya. Ia menyadari, sering melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah Swt. ia malu dan merasa tidak layak berada di dekat-Nya.
Sungguh, Allah Maha Luas pengampunan-Nya. Dia mengampuni segala dosa dan kesalahan hamba-Nya asal saja tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Pintu ampunan Allah terbuka luas buat hamba-Nya yang mau memohon ampunan. Dan ampunan-Nya lebih besar daripada dosa-dosa yang pernah diperbuat hamba-Nya.[15]
Firman Allah Swt:
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ  
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al-Baqarah: 186).










BAB III
PENUTUP

Simpulan















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Mummad, Tauhid-Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Ringkasan Shahih Muslim, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010.
al-Jaili, Syeikh. Abd. Karim Ibrahim, Insan Kamil, Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana, 2005.
Chirzin, Muhammad, Konsep dan Hikmah Akidah Islam, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997.





[1]Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Akidah Islam, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), h. 13
[2]Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Muslim, (Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010), h. 26
[3]Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Akidah Islam, op. cit., h. 23-24

[4]Mummad Ahmad, Tauhid-Ilmu Kalam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), h. 23
[5]Ibid, h. 24

[6]Ibid, h. 26
[7]Ibid, h. 27
[8]Syeikh . Abd. Karim Ibrahim al-Jaili, Insan Kamil, (Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana, 2005), h. 223

[9]Ibid, h.225
[10]Ibid, h. 233

[11]Ibid, h. 229
[12]Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Akidah Islam, op. cit., h. 45

[13]Ibid, h. 47
[14]Ibid, h. 48

[15]Ibid, h. 55

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar