Jumat, 04 April 2014

KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kedatangan Islam membawa perubahan besar dalam segala bidang terutama sekali di Jazirah Arab. Selama masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin pada umumnya mereka sibuk dengan dakwah, jihad dan penaklukan. Islam datang dengan Qur’an dan Hadits, keduanya menyelundup ke dalam lubuk hati mereka dan bersemi abadi dalam zihin mereka, sehingga dengan sangat cepat merubah adat istiadat mereka, budi dan akhlak mereka, bahkan merubah seluruh bidang kehidupan mereka dan berbekaslah perubahan itu pada ilmu pengetahuan, tata cara hidup, tata cara berpikir atau dengan kata lain berbekas pada kebudayaan mereka.[1]
Revolusi Islam yang bernapaskan Al-qur’an dan Sunnah, telah membangun suatu kebudayaan baru di atas puing-puing kebudayaan Jahiliyyah yaitu kebudayaan Islam. Dari latar belakang ini penulis akan membahas secara lebih luas lagi yang berkaitan dengan kebudayaan Islam, seperti peninggalan-peninggalannya yang akan diuraikan pada bab selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan Islam?
  2. Apa saja peninggalan-peninggalan kebudayaan Islam?
  3. Apa saja peninggalan kebudayaan Islam di Indonesia?

C.  Tujuan Pembuat Makalah
Dari rumusan masalah di atas adapun tujuan dari pembuat makalah ini adalah untuk mengetahui:
  1. Pengertian kebudayan Islam.
  2. Peninggalan-peninggalan kebudayaan Islam.
  3. Peninggalan kebudayaan Islam di Indonesia.











BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kebudayaan Islam
Kebudayaan Islam adalah penjelmaan iman dan al-a’malussalihat dari seorang muslim atau segolongan kaum muslimin atau kebudayaan Islam ialah manifestasi keimanan dan kebaktian dari penganut Islam sejati.[2] Sedangkan menurut sarjana dan pengarang Islam, Sidi Gazalba mendinisikan kebudayaan Islam ialah cara berpikir dan cara merasa Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu.[3] Dasar dari kebudayaan Islam adalah kitab Allah (Al-qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya. Apabila ada segala hasil, corak dan ragam kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran agama Allah dan ajaran Rasul-Nya, bukanlah kebudayaan Islam namanya, sekalipun yang menciptakannya mereka-mereka yang menamakan dirinya orang Islam.[4]

B.  Peninggalan-Peninggalan Kebudayaan Islam
  1. Lukisan Kehidupan Islam
Pada waktu Islam telah berkembang luas dan Arab muslim telah bercampur baur dengan berbagai bangsa lain, terbukalah mata mereka melihat kea rah seni budaya lama dan kemudian dikembangkan dengan jiwa agama. Demikian ufuk seni menjadi lebar meluas dalam pandangan mereka dan akhirnya mereka pun berhasil menciptakan seni budaya baru yang tidak menyimpang dari garis Islam. di mana menurut anggapan mereka, bahwa yang demikian sama halnya dengan menyembah patung. Karena itu, dasar atau motif dari seni rupa mereka yaitu annabatiyah (tumbuh-tumbuhan) dan al-handasiyah (gambar berdasarkan ilmu ukur).[5]
Setelah Arab muslim menguasai negeri-negeri Syam dan Persia, mereka melahirkan aliran khusus dalam seni bangunan yang sesuai dengan tata hidup mereka. Muncullah bangunan-bangunan mereka dengan gaya khas Arabnya yang berwujud pada bentuk pilar, busur, kubah, ukiran lebah bergantung, wajah menara menjulang tinggi. Penonjolan seni bangunan Arab muslim pertama kalinya pada mesjid-mesjid. Tipe mesjid Quba yang dibangun Rasul menjadi dasar umum bagi segala mesjid Islam. lalu lintas jama’ah haji ke Mekkah dan Madinah tiap-tiap tahun, di mana mereka melakukan ibadah sembahyang dalam mesjid-mesjid kota dan desa yang dilaluinya telah menyebabkan tipe mesjid-mesjid Hijaz menjadi contoh.[6]
  1. Al-Khithabah
Al-khithabah (seni pidato) merupakan kepandaian khusus dan menjadi syarat utama bagi seseorang pemimpin atau kepala kabilah. Karena itu, khithabah telah menjadi suatu kalangan mereka para “khuthaba” yang mahir berpidato dalam bahasa yang indah (bayan). Demikian pula, seni pidato berkembang pesat lagi dalam kalangan orang Arab muslim di zaman permulaan Islam, oleh karena Dakwah Islamiyah memerlukan para “khathib” yang petah lidahnya dan memiliki teknik tinggi serta bahasa balaghah dalam berpidato. Karena itu, kecuali Rasul sendiri yang memang seorang khathib ciptaan Allah, juga para sahabat dan para panglima perang semuanya adalah “singa podium” yang ulung.
Perbedaan khithabah zaman Jahiliyah dengan khithabah zaman permulaan Islam, yaitu bahwa khithabah terakhir ini telah terpengaruh benar dengan uslub Qur’an yang bernilai balaghah dan hikmah, bahkan para “khuthtbah” telah menjadi khithabah-khithabahnya penuh dengan ayat-ayat al-qur’an yang digodok menjadi satu kesatuan yang padu. Pengaruh seni khithabah setelah Islam dalam jiwa menjadi hebat dan mendalam dengan sebab kebangkitan Arab dan kemenangan-kemenangan mereka dalam berbagai medan perang, hal mana menambahkan kebanggan mereka serta bertambah tinggi nilai dirinya yang mengakibatkan tambah halus rasa balaghahnya. Pada saat itu, nilai khithabah dalam kalangan mereka menjadi tinggi sekali, telah sampai pada derajat yang belum pernah dicapai oleh bangsa apapun sebelumnya, juga tidak pernah oleh bangsa Yunani dan Romawi.
Orang Arab pada permulaan Islam adalah bangsa yang paling banyak memiliki khtahib yang sanggup berpidato dengan seni bahasa yang jarang ada bandingannya. Karena para khalifah para gubernur dan para panglima pada umumnya semuanya khuthaba yang mahir, bahkan juga para ulama dan para ahli zuhud. Ini tidak heran, karena orang Arab memiliki khayal yang kaya sekali dan mempunyai jiwa perasa yang sangat tajam. Kalau kita memperhatikan hasil-hasil dari dakwah Islamiyah dan kemenangan-kemenangan perang akan kita dapati hal yang ajaib sekali yaitu pengaruhnya khithabah dari para khuthaba.[7]
Satu pemberontakan dapat dipatahkan dengan satu pidato yang berhikmah. Umpamanya pada waktu penduduk Madinah hendak membangkitkan revolusi berdarah pada waktu wafatnya Rasul, maka Khalifah Abu Bakar dapat mendinginkan mereka dengan satu khithabah pendek yang berbunyi:


Saudara-saudara!
Kalau Muhammad telah meninggal maka sesungguhnya Allah tetap hidup, tidak akan mati. Muhammad hanyalah seorang Rasul, di mana sebelumnya telah berlalu rasul-rasul. Apakah kalau dia meninggal atau terbunuh, lantas kamu menjadi kafir kembali?.
  1. Seni Bahasa
Unsur yang tidak baik yang terdapat dalam syair Jahiliyah, telah dibersihkan dari syair pada permulaan Islam, seperti ashabiyah, caci maki, hasut fitnah, cabul, dan sebagainya.
Para penyair di zaman ini mendapat bimbingan Al-qur’an:
Yang menjadi pengikut para penyair, adalah kaum petualang. Tidaklah engkau lihat, bahwa mereka bertualang di lembah-lembah? Mereka berkata yang tidak dikerjakannya. Kecuali mereka yang beriman dan beramal salih, senantiasa berzikir kepada Allah. Mereka itu mendapat kemenangan setelah ditindas. Kaum penindas akan mengetahui ke tempat mana mereka akan di halau. (QS. Asy-Syu’ara [26]: 224-227).
            Ayat-ayat ini adalah untuk mencela para penyair Jahiliyah yang tiada bermoral dan untuk membimbing para penyair muslim. Rasul sendiri menganjurkan umat untuk menjadi penyair, terutama untuk membela dakwah dan membangkitkan semangat jihad:
Sesungguhnya keindahan bahasa adalah sihir, dan sesungguhnya syair adalah kata berkhidmat. (Al-hadits).
            Syair-syair di zaman ini banyak terpengaruh dengan Uslub Qur’an. Tema dari syair-syair di zaman ini yaitu jihad, memuja Rasul, memaki musuh Islam, kebesaran Islam, surge dan neraka. Syair juga digunakan untuk menafsirkan makna dan kandungan Al-qur’an dan Hadits. Para penyair yang terkemuka pada zaman ini antara lain yaitu Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Malik, Ka’ab bin Malik dan Ka’ab bin Zubair.[8]
  1. Seni Bangunan
Seni bangunan Islam terbagi dalam tiga bidang besar yaitu:
  1. ‘Imarah Madaniyah (bangunan sipil) yang menjelma dalam bentuk kota-kota dan gedung-gedung khusus.
  2. ‘Imarah Diniyah (bangunan agama) yang berwujud dalam mesjid-mesjid dan tempat-tempat ibadah lainnya.
  3. ‘Imarah Harbiyah (bangunan militer) yang bersemi dalam benteng-benteng dan menara-menara pertahanan.
Bangunan-bangunan Arab adalah sangat sederhana. Di Mekkah hanya sedikit sekali bangunan dan yang terpenting bangunan Ka’bah. Rumah orang-orang kaya terbikin dari batu, sementara rumah-rumah rakyat banyak terbuat dari batu merah. Pada umumnya rumah-rumah terbikin satu tingkat dengan pekarangan yang luas dan bersumur di dalamnya. Setelah Daulah Islamiyah meluas di zaman Khalifah Umar dan tanah Hijaz menjadi makmur dan kaya, berdatanganlah ke Madinah para ahli seni bangunan (arsitek) dari luar Jazirah Arab dan seni bangunan memuncak kemajuannya. Waktu itu, para pembesar Arab muslim di Mekkah dan Madinah membangun gedung-gedung batu yang lebar besar yang diperindah dengan marmar. Kata orang, istana Saidina usman yang terbesar di antaranya.[9]
Menurut Mas’udi dalam buku sejarahnya, bahwa para sahabat di masa Khalifah Usman telah membangun rumah-rumah gedung besar, baik di Madinah, Kaufah, Fusthath, Iskandariah atau kota-kota lainnya. Khas seni bangunan Arab dengan menara, kubah, pilar dan ukiran lebah bergantung yang semuanya mengarah ke pohon kurma yang mereka cintai, karena kurma adalah makanan pokok mereka.
  1. Pembangunan Mesjid
Selama masa permulaan Islam (masa Rasul dan Khulafaur Rasyidin), sesuai dengan kebutuhan kaum muslimin telah banyak didirikan mesjid-mesjid, baik dalam kota-kota ataupun dalam desa-desa, apalagi bila disadari bahwa fungsi mesjid tidak saja sebagai tempat sembahyang, tapi mesjid pada permulaan Islam adalah pusat kegiatan ibadat, politik, ekonomi dan kebudayaan.[10]
Di antara mesjid-mesjid yang dibangunkan di masa ini, yaitu:
a.       Mesjid Quba
Pada hari pertama Rasul datang di Madinah, beliau sampai pada satu tempat di luar Yasrib, yang bernama Quba. Di tempat inilah Rasul beristirahat empat hari yaitu hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Dan di tempat inilah beliau membangun sebuah mesjid pertama dalam Islam yang dinamakan mesjid Quba. Mesjid Quba ini dibangun pada tanggal 12 Rabiulawal 1 HIjriyah (28 Juni 622 M) secara gotong royong, di mana Rasul sendiri bersama para sahabat turut mengangkat batu. Batu pertama diangkat oleh Rasul, kemudian berturut-turut Abu Bakar, Umar dan usman. Mesjid Quba tidak begitu besar, tapi arsitekturnya menjadi model bagi mesjid-mesjid yang dibangun kemudiannya.[11]
b.      Mesjid Madinah
Untuk mendirikan mesjid Madinah, Rasul memilih sebidang tanah kepunyaan dua anak yatim. Sekalipun wali dari anak-anak yatim tersebut ingin menyerahkan cuma-cuma tanah tersebut, namun Rasul tetap membelinya. Mesjid didirikan sangat sederhana. Tembok dindingnya batu bara, sementara atapnya terdiri dari daun kurma yang dicampur dengan tanah liat. Di samping mesjid dibangun ruangan tertutup untuk para fakir miskin kaum muslimin. Mesjid diberi pintu dua, yaitu pintu Aisyah dan pintu Atiqah. Setelah perang Khaibar, nabi sendiri memperbesar mesjid ini, kemudian berturut-turut diperbesar lagi oleh Khalifah Umar dan Khalifah Usman, malahan oleh Khalifah Usman diperindah dengan batu-batu berukir dan batu akik berwarna.
Pada zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin, mesjid Madinah ini menjadi kantor besar Negara yang di dalamnya diurus segala urusan pemerintahan. Mesjid tidak saja menjadi ekonomi dan sosial. Rasul menerima duta-duta luar negeri dalam mesjid, sebagaimana mengurus urusan-urusan Negara lainnya. Di atas mimbar mesjid Rasul berpidato membentangkan urusan-urusan politik dan agama. Demikian pula para khalifah sesudahnya, mesjid ini juga menjadi pusat kegiatan ilmu dan kebudayaan. Tidak pernah mesjid memisahkan urusan agama dengan urusan politik, seperti halnya dengan gereja.
Selain mesjid Nabawi, di kota Madinah banyak didirikan mesjid-mesjid selama masa permualan Islam diantaranya yaitu mesjid al-Qiblatain, mesjid Fatah, mesjid Salman, mesjid Saiyidina Ali, mesjid Ijabah, mesjid Rayah, mesjid Suqya, mesjid Fadikh, mesjid Bani Quraizah dan mesjid Afr. Sebagian dari mesjid-mesjid ini sudah tak ada lagi sekarang.[12]
c.       Mesjid Al-‘Atiq
Dalam membuat rencana pembangunan kota Fusthath, termasuk sebuah mesjid Jami’ yang berdiri di tengah-tengahnya. Demikian kehendak panglima Angkatan Perang Islam yang menaklukkan Mesir, Amr bin Ash. Mesjid yang dinamakan mesjid Al-‘Atiq ini akhirnya lebih terkenal dengan namanya sendiri yaitu Jami’ Amr bin Ash.
d.      Mesjid-mesjid di sekitar Mekkah
Selain mesjid Haram dengan Ka’bah di dalamnya, dalam kota Mekkah dan sekitarnya juga terdapat mesjid-mesjid lainnya yang dibangunkan di zaman permulaan Islam, antaranya yaitu mesjid Rayah, mesjid Mukhtaba, mesjid Abi Qubais, mesjid Haras, mesjid Ijabah, mesjid Al-Bai’ah, mesjid Nakar, mesjid Al-Kibasyi, mesjid Khaif, mesjid Dab, mesjid namrah, mesjid Al-Hiyallah, mesjid Ja’ranah dan mesjid Fathah. Dan sebagaian dari mesjid-mesjid ini sudah tidak ada lagi.[13]

C.  Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia
Agama Islam muncul pada Abad ke-6 M kemudian masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan mulai berkembang pada abad ke-13 M. Perkembangan Islam di Indonesia hampir di seluruh Kepulauan Indonesia. Bertolak dari kenyataan tersebut, Islam banyak menghasilkan peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia yang sangat beraneka ragam.[14] Peninggalan-peninggalan itu antara lain sebagai berikut:
  1. Kaligrafi
Kaligrafi adalah salah satu karya kesenian Islam yang paling penting. Kaligrafi Islam yang muncul di dunia Arab merupakan perkembangan seni menulis indah dalam huruf Arab yang disebut khat.[15]Seni kaligrafi yang bernafaskan Islam merupakan rangkaian dari ayat-ayat suci Al-qur’an. Tulisan tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk gambar, misalnya binatang, daun-daunan, bunga atau sulur, tokoh wayang dan sebagainya. Contoh kaligrafi antara lain yaitu kaligrafi pada batu nisan, kaligrafi bentuk wayang dari Cirebon dan kaligrafi bentuk hiasan.
  1. Kraton
Kraton atau istana dan terkadang juga disebut puri, merupakan badari kota atau pusat kota dalam pembangunan. Kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan sebagai tempat tinggal raja beserta keluarganya. Pada zaman kekuasaan Islam, didirikan cukup banyak kraton sesuai dengan perkembangan kerajaan Islam. Beberapa contoh kraton yaitu kraton Cirebon (didirikan oleh Fatahillah atau Syarif Hidayatullah tahun 1636), Istana Raja Gowa (Sulawesi Selatan), Istana Kraton Surakarta, Kraton Yogyakarta, dan Istana Mangkunegaran.
  1. Batu Nisan
Batu nisan berfungsi sebagai tanda kubur. Tanda kubur yang terbuat dari batu bentuknya bermacam-macam. Pada bangunan batu nisan biasanya dihiasi ukir-ukiran dan kaligrafi. Kebudayaan batu nisan diduga berasal dari Perancis dan Gujarat. Di Indonesia, kebudayaan tersebut berakulturasi dengan kebudayaan setempat (India).
Beberapa batu nisan peninggalan sejarah di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a.       Batu Nisan Malik as-Saleh
Batu nisan ini dibangun di atas makam Sultan Malik as-Saleh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sultan Malik as-Saleh adalah raja pertama dari kerajaan Samudra Pasai.
b.      Batu Nisan Ratu Nahrasiyah
Batu nisan ini dibangun di atas makam ratu Samudra Pasai bernama Nahrasiyah. Ia meninggal pada tahun 1428. Nisan itu dihiasi kaligrafi yang memuat kutipan Surat Yasin dan Ayat Kursi.
c.       Batu Nisan Fatimah binti Maimun
Batu nisan ini dibuat sebagai tanda makam seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun. Batu nisan ini terdapat di Leran, Gresik, Jawa Timur.
d.      Batu Nisan Sultan Hasanuddin
Batu nisan ini dibangun di atas makam raja Makasar. Makam Sultan Hasanuddin berada dalam satu kompleks dengan pemakaman raja-raja Gowa dan Tallo.
Pada makam tersebut, dibuat cungkup berbentuk kijing. Cungkup itu terbuat dari batu berbentuk prisma. Kemudian batu itu disusun berbentuk limas. Bangunan limas terpasang dengan alas berbentuk kubus dan di dalamnya terdapat ruangan. Pada ruangan inilah terdapat makam beserta batu nisan.
  1. Bentuk Mesjid
Sejak masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia banyak mesjid didirikan dan termasuk mesjid kuno, di antaranya mesjid Demak, mesjid Kudus, mesjid Banten, mesjid Cirebon, mesjid Ternate, mesjid Angke, dan sebagainya.
a.       Mesjid Angke
Mesjid ini terletak di Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat yang dibangun pada abad ke-18. Mesjid ini beratap tumpang dua. Mesjid Angke merupakan mesjid tua yang masih terlihat kekunoannya. Mesjid ini memiliki gaya arsitektur dan hiasan yang cantik, merupakan perpaduan antara gaya Jawa, Cina, Arab, dan Eropa. Mesjid ini dibangun pada tahun 1761. Pengaruh agama Islam menimbulkan tempat ibadah yang namanya bermacam-macam. Tempat ibadah ukuran kecil disebut langgar, yang berukuran sedang disebut mesjid, dan yang ukuran besar disebut mesjid agung atau mesjid Jami. Mesjid merupakan tempat peribadatan agama Islam (tempat orang melakukan salat). Mesjid juga berperan sebagai tempat penggemblengan jiwa dan pribadi-pribadi Islam yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
b.      Mesjid Demak
Mesjid Demak didirikan pada masa pemerintahan Raden Patah. Bangunan mesjid terletak di Kadilangu, Demak. Mesjid ini beratap tumpang yang mirip dengan bentuk pura Hindu. Mesjid Demak didirikan dengan bantuan para wali (walisongo). Pembangunan mesjid dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga. Keunikan mesjid ini terletak pada salah satu tiang utamanya, yakni terbuat dari bahan pecahan-pecahan kayu yang disebut tatal (soko tatal).
c.       Mesjid Kudus
Mesjid Kudus didirikan oleh Sunan Kudus. Bentuk bangunan masjid ini memiliki ciri khusus. Bagian menaranya menyerupai candi Hindu.
d.      Mesjid Banten
Mesjid Banten didirikan pada abad ke-16. Bangunannya memiliki atap tumpang sebanyak lima tingkat. Kemungkinan model bangunan seperti ini untuk menggambarkan derajat yang dapat diraih seseorang dalam Islam. Menara mesjid Banten dibangun oleh arsitektur Belanda bernama Cardel. Itulah sebabnya, menara tersebut bergaya Eropa menyerupai mercusuar.
e.       Mesjid Cirebon
Mesjid Cirebon didirikan pada abad ke-16 M, ketika Kerajaan Cirebon berkuasa. Bentuk atap mesjid Cirebon juga berupa atap tumpang, terdiri atas dua tingkat.[16]
5.      Seni Pahat
Seni pahat seiring dengan kaligrafi. Seni pahat atau seni ukir berasal dari Jepara, kota awal berkembangnya agama Islam di Jawa yang sangat terkenal. Di dinding depan mesjid Mantingan (Jepara) terdapat seni pahat yang sepintas lalu merupakan pahatan tanaman yang dalam bahasa seninya disebut gaya arabesk, tetapi jika diteliiti dengan saksama di dalamnya terdapat pahatan kera. Di Cirebon malahan ada pahatan harimau. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seni pahat di kedua daerah tersebut (Jepara dan Cirebon), merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan budaya Islam.
6.      Seni Pertunjukan
Di antara seni pertunjukan yang merupakan seni Islam adalah seni suara dan seni tari. Seni suara merupakan seni pertunjukan yang berisi salawat Nabi dengan iringan rebana. Dalam pergelarannya para peserta terdiri atas kaum pria duduk di lantai dengan membawakan lagu-lagu berisi pujian untuk Nabi Muhammad Saw. yang dibawakan secara lunak, namun iringan rebananya terasa dominan. Peserta mengenakan pakaian model Indonesia yang sejalan dengan ajaran Islam, seperti peci, baju tutup, dan sarung.
7.      Tradisi atau Upacara
Tradisi atau upacara yang merupakan peninggalan Islam di antaranya ialah Gerebeg Maulud. Perayaan Gerebeg, dilihat dari tujuan dan waktunya merupakan budaya Islam. Akan tetapi, adanya gunungan ( tumpeng besar) dan iring-iringan gamelan menunjukkan budaya sebelumnya (Hindu Buddha). Kenduri Sultan tersebut dikeramatkan oleh penduduk yang yakin bahwa berkahnya sangat besar, yang menunjukkan bahwa animisme-dinamisme masih ada. Hal ini dikuatkan lagi dengan adanya upacara pembersihan barang-barang pusaka keraton seperti senjata (tombak dan keris) dan kereta. Upacara semacam ini masih kita dapatkan di bekas-bekas kerajaan Islam, seperti di Keraton Cirebon dan Keraton Surakarta.
8.      Karya Sastra
Pengaruh Islam dalam sastra Melayu tidak langsung dari Arab, tetapi melalui Persia dan India yang dibawa oleh orang-orang Gujarat. Dengan demikian, sastra Islam yang masuk ke Indonesia sudah mendapat pangaruh dari Persia dan India. Karya sastra masa Islam banyak sekali macamnya, antara lain sebagai berikut.
a.       Babad, ialah cerita berlatar belakang sejarah yang lebih banyak di bumbui dengan dongeng. Contohnya: Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Giyanti, dan sebagainya.
b.      Hikayat, ialah karya sastra yang berupa cerita atau dongeng yang dibuat sebagai sarana pelipur lara atau pembangkit semangat juang. Contoh, Hikayat Sri Rama, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah dan sebagainya.
c.       Syair, ialah puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat baris yang berakhir dengan bunyi yang sama. Contoh: Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambuhan, dan Gurindam Dua Belas.
d.      Suluk, ialah kitab-kitab yang berisi ajaran Tasawuf, sifatnya pantheistis, yaitu manusia menyatu dengan Tuhan. Tasawuf juga sering dihubungkan dengan pengertian suluk yang artinya perjalanan. Alasannya, karena para sufi sering mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Di Indonesia, suluk oleh para ahli tasawuf dipakai dalam arti karangan prosa maupun puisi. Istilah suluk kadang-kadang dihubungkan dengan tindakan zikir dan tirakat. Suluk yang terkenal, di antaranya: Suluk Sukarsah, Suluk Wijil, Suluk Malang Semirang.[17]







BAB III
PENUTUP

Simpulan
Kebudayaan Islam ialah cara berpikir dan cara merasa Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Dasar dari kebudayaan Islam adalah kitab Allah (Al-qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun peninggalan-peninggalan kebudayaan Islam yaitu seperti lukisan kehidupan Islam, Al-khithabah, seni bahasa, seni bangunan, dan pembangunan mesjid. Sedangkan peninggalan kebudayaan Islam di Indonesia ialah seperti kaligrafi, kraton, batu nisan, bentuk mesjid, seni pahat, seni pertunjukan, tradisi atau Upacara dan karya sastra.









DAFTAR PUSTAKA


Ambarazmi, Kebudayaan Islam di Indonesia, http://ambarazmi.wordpress.com/2012/11/11/kebudayaan-islam-di-indonesia/ diakses Minggu, 16 maret 2014.
Ambary, Hasan Muarif, Menemukan Peradaban, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Pijper, G.F., Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, Jakarta: Universitas Indonesia, 1985.


[1]A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 27
[2]Ibid, h. 5

[3]Ibid, h. 6

[4]Ibid, h. 8
[5]Ibid, h. 137

[6]Ibid, h. 138
[7]Ibid, h. 139
[8]Ibid, h. 140

[9]Ibid, h. 141
[10]Ibid, h. 144

[11]Ibid, h. 145
[12]Ibid, h. 146
[13]Ibid, h. 147

[14] Ambarazmi, Kebudayaan Islam di Indonesia, http://ambarazmi.wordpress.com/2012/11/11/kebudayaan-islam-di-indonesia/ diakses Minggu, 16 maret 2014, jam 10.30 Wita.
[15]Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 183
[16]G.F.Pijper, Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1985), h 16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar