Jumat, 04 April 2014

KARAKTERISTIK UMUM MATEMATIKA



Tugas Terstruktur                                                                 DosenPengasuh
PendidikanMatematika 1                                                         Seri Ningsih, M.Pd

KARAKTERISTIK UMUM MATEMATIKA
                                               
OLEH :
HUSNUL KHATIMAH       :  1201291055
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSANPGMI
2013

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu yang memiliki interprestasi yang demikian beragam. Oleh karena itu matematika yang diajarkan di sekolah juga merupakan bagian dari matematika, maka berbagai karakteristik dan interprestasi matematika dari berbagai sudut pandang juga memainkan peranan dalam pembelajaran matematika di sekolah. Dengan memahami karakter matematika, guru diharapkan dapat mengambil sikap yang tepat dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh lagi, ia seharusnya memahami batasan sifat dari matematika yang dibelajarkan kepada anak didik. Jangan sampai guru memandang matematika hanya sebagai kumpulan rumus belaka, tidak pula hanya sebagai proses berpikir saja. Pemahaman yang komprehensif tentang matematika akan memungkinkan guru menyelenggarakan pembelajaran dengan lebih baik.

B.       Rumusan Masalah
  1. Bagaimana karekteristik matematika yang memiliki kajian objek Abstrak?
  2. Bagaimana karekteristik matematika yang bertumpu pada kesepakatan?
  3. Bagaimana karekteristik matematika yang berpola pikir deduktif?
  4. Bagaimana karekteristik matematika yang memiliki simbol yang kosong dari arti?
  5.  Bagaimana karekteristik matematika yang memperhatikan semesta pembicaraan?
  6. Bagaimana karekteristik matematika yang konsisten dalam sistemnya?

C.      Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang memiliki kajian objek Abstrak.
  2. Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang bertumpu pada kesepakatan.
  3. Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang berpola pikir deduktif
  4. Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang memiliki simbol yang kosong dari arti.
  5.  Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang memperhatikan semesta pembicaraan.
  6. Untuk mengetahui bagaimana karekteristik matematika yang konsisten dalam sistemnya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Matematika Memiliki Objek Kajian Yang Abstrak.
Di dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abstrak, sering juga disebut sebagai objek mental. Di mana objek-objek tersebut merupakan objek pikiran yang meliputi fakta, konsep, operasi ataupun relasi, dan prinsip. Dari objek-objek dasar tersebut disusun suatu pola struktur matematika. Adapun objek-objek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:[1]
  1. Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi yang diungkap dengan simbol tertentu. Contoh simbol bilangan “3”  sudah di pahami sebagai bilangan “tiga”. Jika di sajikan angka “3” maka sudah dipahami bahwa yang dimaksud adalah “tiga”, dan sebalikbya. Fakta lain dapat terdiri dari rangkaian simbol misalnya “3+4” sudah di pahami  bahwa yang dimaksud adalah “tiga di tambah empat”.
  2. Konsep (abstrak) adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Apakah objek tertentu merupakan suatu konsep atau bukan. ”segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak, “Bilangan asli” adalah nama suatu konsep yang lebih komplek, konsep lain dalam matematika yang sifatnya lebih kompleks misalnya “matriks”, “vektor”, “group” dan ruang metrik”. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu.
  3. Operasi (abstrak) adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika yang lain. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”, “perkalian”, “gabungan”, “irisan”. Unsur-unsur yang dioperasikan juga abstrak. Pada dasarnya operasi dalam matematika adalah suatu fungsi yaitu relasi khusus, karena operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui.
  4. Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. Secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan antara berbagai     objek dasar matematika. Prinsip dapat berupa “aksioma”, “teorema”, “sifat” dan sebagainya.[2]

B.       Bertumpu Pada Kesepakatan
Dalam matematika kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma dan konsep primitif. Aksioma diperlukan untuk menghindarkan berputar-putar dalam pembuktian. Sedangkan konsep primitif diperlukan untuk menghindarkan berputar-putar dalam pendefinisian. Aksioma juga disebut sebagai postulat (sekarang) ataupun pernyataan pangkal (yang sering dinyatakan tidak perlu dibuktikan). Beberapa aksioma dapat membentuk suatu sistem aksioma, yang selanjutnya dapat menurunkan berbagai teorema. Dalam aksioma tentu terdapat konsep primitif tertentu. Dari satu atau lebih konsep primitif dapat dibentuk konsep baru melalui pendefinisian.

C.      Berpola Pikir Deduktif
Dalam matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus”. Pola pikir deduktif ini dapat terwujud dalam bentuk yang amat sederhana tetapi juga dapat terwujud dalam bentuk yang tidak sederhana.[3]
Contoh:
Banyak teorema dalam matematika yang “ditemukan” melalui pengamatan-pengamatan khusus, misalnya Teorema Phytagoras. Bila hasil pengamatan tersebut dimasukkan dalam suatu struktur matematika tertentu, maka teorema yang ditemukan itu harus dibuktikan secara deduktif antara lain dengan menggunakan teorema dan definisi terdahulu yang telah diterima dengan benar.[4]
Dari contoh prinsip diatas, bahwa urutan konsep yang lebih rendah perlu dihadirkan sebelum abstraksi selanjutnya secara langsung. Supaya hal ini bisa bermanfaat, bagaimanapun, sebelum kita mencoba mengkomunikasikan konsep yang baru, kita harus menemukan apa kontribusi konsepnya dan begitu seterusnya, hingga kita mendapat konsep primer yang lain.

D.      Memiliki Simbol Yang Kosong Dari Arti
Dalam matematika jelas terlihat banyak sekali simbol yang digunakan, baik berupa huruf ataupun bukan huruf. Rangkaian simbol-simbol dalam matematika dapat membentuk suatu model matematika. Model matematika dapat berupa persamaan, pertidaksamaan, bangun geometri tertentu, dsb. Huruf-huruf yang digunakan dalam model persamaan, misalnya x + y = z belum tentu bermakna atau berarti bilangan, demikian juga tanda + belum tentu berarti operasi tamba untuk dua bilangan. Makna huruf dan tanda itu tergantung dari permasalahan yang mengakibatkan terbentuknya model itu. Jadi secara umum huruf dan tanda dalam model x + y = z masih kosong dari arti, terserah kepada yang akan memanfaatkan model itu. Kosongnya arti itu memungkinkan matematika memasuki medan garapan dari ilmu bahasa (linguistik).[5]
Jadi secara umum, model/simbol matematika sesungguhnya kosong dari arti. Ia akan bermakna sesuatu bila kita mengaitkannya dengan konteks tertentu. Secara umum, hal ini pula yang membedakan symbol matematika dengan symbol bukan matematika. Kosongnya arti dari model-model matematika itu merupakan kekuatan matematika yang dengan sifat tersebut ia bisa masuk pada berbagai macam bidang kehidupan dari masalah teknis, ekonomi, hingga ke bidang psikologi.[6]

E.  Memperhatikan semesta pembicaraan
Sehubungan dengan penjelasan tentang kosongnya arti dari simbol-simbol dan tanda-tanda dalam matematika diatas, menunjukkan dengan jelas bahwa dalam memggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa model itu dipakai. Bila lingkup pembicaraanya adalah bilangan, maka simbol-simbol diartikan bilangan. Bila lingkup pembicaraanya transformasi, maka simbol-simbol itu diartikan suatu transformasi. Lingkup pembicaraan itulah yang disebut dengan semesta pembicaraan. Benar atau salahnya ataupun ada tidaknya penyelesaian suatu model matematika sangat ditentukan oleh semesta pembicaraannya.
Contoh:
Dalam semesta pembicaraan bilangan bulat, terdapat model 2x = 5. Adakah penyelesaiannya? Kalau diselesaikan seperti biasa, tanpa menghiraukan semestanya akan diperoleh hasil x = 2,5. Tetapi kalu suda ditentukan bahwa semestanya bilangan bulat maka jawab x = 2,5 adalah salah atau bukan jawaban yang dikehendaki. Jadi jawaban yang sesuai dengan semestanya adalah “tidak ada jawabannya” atau penyelesaiannya tidak ada. Sering dikatakan bahwa himpunan penyelesaiannya adalah “himpunan kosong”.











BAB III
PENUTUP

Simpulan:
Berdasarkan pembahasan, maka dapat di simpulkan bahwa karakteristik- karakteristik umum matematika yaitu sebagai berikut:              
  1. Memiliki Kajian Objek Abstrak.
  2. Bertumpu Pada Kesepakatan.
  3. Berpola pikir Deduktif
  4. Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti.
  5. Memperhatikan Semesta Pembicaraan.
  6. Konsisten Dalam Sistemnya.






DAFTAR PUSTAKA

Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-hakekat.html diakses Jum’at, 27 Desember 2013.
Sumardyono,  Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, h. 39, diakses Kamis, 26 Desember 2013.
Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika, Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, 2000.



[1] Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-hakekat.html diakses Jum’at, 27 Desember 2013, jam 16:39 Wita.
[2] Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika, (Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, 2000), h. 57
[4] Sumardyono,  Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, h. 39, diakses Kamis, 26 Desember 2013.
[5] Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-hakekat.html op.cit.
[6] Sumardyono,  Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, op.cit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar