Minggu, 23 November 2014

SOCRATES



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif,  ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang.  Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan demokratis. Di sekitarnya dasar-dasar lama remuk, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan dengan sebelumnya.
Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolut dan menyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Untuk lebih jelasnya megenai Socrates ini akan dibahsa penulis dalam bab selanjutnya.


B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup Socrates?
2.      Apa saja pemikiran Socrates?
3.      Bagaimana etika Socrates?
4.      Siapa saja murid-murid Socrates?

C.      Kegunaan Penulisan
1.      Untuk mengetahui bagaimana riwayat hidup Socrates.
2.      Untuk mengetahui apa saja pemikiran Socrates.
3.      Untuk mengetahui bagaimana etika Socrates.
4.      Untuk mengetahui siapa saja murid-murid Socrates.








BAB II
PEMBAHASAN

A.      Riwayat Hidup Socrates
Socrates lahir sekitar tahun 470 SM dan dihukum mati dengan harus minum racun pada tahun 399 SM.[1] Bapaknya seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos dan ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan. Dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak. Socrates sendiri ketika masih muda mempelajari serta membantu ayahnya.[2] Ia sebenarnya berasal dari keluarga yang kaya dan kemudian menjadi miskin, tetapi ia masih mendapatkan pendidikan yang baik.[3] Ia berguru kepada Arkhelaos tapi tidak puas dengan gurunya hingga pada usia yang masih muda telah berbalik dari filsafat alam dan mencari jalan sendiri. Ia banyak membaca buku dan pergaulannya meliputi berbagai lapisan masyarakat.[4]
Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya sehingga sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates.
Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus. Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam.
Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Sokrates karena setelah penyelidikan itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka duga dan ketahui.
Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya. Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu kontrak yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus.[5]

B.  Pemikiran Socrates
Socrates merupakan pemikir yang memperkenalkan istilah theoria sebagai pengetahuan. Menurut dia, tugas negara adalah mendidik warga negara dalam keutamaan yakni memberikan kebahagiaan kepada setiap warga negara serta membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Penguasa negara haruslah memiliki pengertian tentang “yang baik”.[6] Socrates di masanya belum menawarkan sebuah sistem pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena, di mana pemegang kuasa dipilih oleh majelis rakyat atau ditentukan dengan undian, karena yang dipilih bukanlah seorang yang mempunyai keahlian khusus. Bagi Socrates, keahlian yang sungguh-sungguh menjamin kesejahteraan negara adalah pengenalan tentang yang baik. Di masa hidupnya Socrates memang termasuk pejuang demokrasi. Dalam karya Plato yang berjudul Crito, Socrates dipandang kedengkian orang terhadapnya, Socrates tetap ingin menunjukkan bahwa dirinya senantiasa taat pada peraturan. Ia berpegang teguh pada prinsipnya serta tidak terpengaruh dengan godaan materi. Sikapnya ini tentu dilandasi oleh prinsip etikanya tentang “yang baik” itu yang juga berimplikasi pada filsafat politiknya.
Socrates adalah penganut moral yang absolute dan menyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filsuf, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Menurut Socrates, keadilan (justice) merupakan tujuan politik yang utama. Karena keadilan merupakan hal yang esensial bagi pemenuhan kecenderungan alamiah manusia. Menempatkan keadilan sebagai patokan politik sebagai aktualisasi bakat-bakat manusia. Baginya, keadilan ialah melaksanakan apa yang menjadi fungsi atau pekerjaan sendiri sebaik-baiknya tanpa mencampuri fungsi atau pekerjaan orang lain (the practice of minding one’s business).
Socrates juga menambahkan bahwa setiap hal yang dikerjakan mengandung kebajikan (victue) tersendiri. Yang menjadi patokan kebaikan ialah secara alamiah sangat sesuai, yakni kebajikan setiap hal untuk melakukan aktivitas apa saja secara baik yang sesuai dengan sifatnya. Socrates menganalogikan tiga hal tipe manusia dan tipe masyarakat yakni: Pertama, sifat nafsu (desire) dilambangkan sebagai pedagang yang bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya. Kedua, sifat semangat (spirit) dilambangkan sebagai seorang prajurit yang menjaga tata kehidupan masyarakat. Ketiga, sifat akal budi (reason) dilambangkan sebagai filosof yang berfungsi sebagai penguasa.
Menurut Socrates, suatu masyarakat (rezim) dikatakan adil bila masing-masing bisa bekerjasama secara maksimal dan harmonis di bawah pimpinan filsofof raja yang bijaksana. Berkaitan dengan kesejajaran antara jiwa dan tipe masyarakat di atas, Socrates membedakan masyarakat (rezim) menjadi lima tipe, yaitu:[7]
1.      Aristokras. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim terbaik, karena yang memerintah seorang raja yang bijaksana (filosof). Keadilan akan terwujud dalam tipe rezim aristokrasi sebab setiap kelas dalam masyarakat melaksanakan fungsi secara maksimal dan bekerjasama secara harmonis di bawah pimpinan sang raja yang filosof. Rezim ini dijiwai dengan akal budi.
2.      Timokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim kedua. Selain itu, rezim ini diperintah oleh mereka yang menyukai akan kehormatan dan kebanggaan, yakni prajurit. Rezim ini dijiwai dengan semangat.
3.      Oligarki. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang diperintah oleh kelompok kecil yang memiliki kejayaan melimpah (saudagar dan pengusaha). Rezim ini dijiwai dengan keinginan yang perlu (necessary desire).
4.      Demokrasi. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang dipimpin oleh banyak orang yang hanya mengandalkan atau keinginan yang tak perlu (unnecessary desire).
5.      Tirani. Tipe ini dikategorikan sebagai rezim yang terburuk karena yang memerintahkan seorang tiran yang bertindak sekehendak nafsunya. Seorang tiran tidak mempunyai kontrol atas dirinya. Keadilan sama sekali tidak terwujud dalam rezim ini.[8]
Pandangan Socrates yang terpenting adalah bahwa pada diri setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Karena itu setiap orang sesungguhnya bisa menjawab semua persoalan yang dihadapinya. Masalahnya adalah pada orang-orang itu, kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa dalam dirinya terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Karena itu menurut Socrates, perlu ada orang lain yang ikut mendorong mengeluarkan ide-ide atau jawaban-jawaban yang masih terpendam itu. dengan perkataan lain perlu semacam “bidan” untuk membantu kelahiran sang ide dari dalam kalbu manusia. Maka pekerjaan Socrates sehari-hari adalah berjalan-jalan di tengah kota, berkeliling di pasar-pasar untuk berbicara dengan semua orang yang dijumpai untuk menggali jawaban-jawaban terpendam mengenai berbagai persoalan.[9]
Dengan metode tanya jawab yang disebut metode Socrates ini akan timbul pengertian yang disebut “Maieutics” (menarik ke luar seperti yang dilakukan bidan). Pengertian tentang diri sendiri ini menurut Socrates sangat penting buat tiap-tiap manusia. Adalah kewajiban setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri terlebih dahulu kalau ia ingin mengerti tentang hal-hal lain di luar dirinya. Ia mempunyai semboyan “belajar yang sesungguhnya pada manusia adalah belajar tentang manusia”.[10]

C.      Etika Socrates
Budi ialah tahu, kata Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan  sendirinya berbudi baik. Siapa yang mengetahui hukum pasti bertindak dengan pengetahuannya. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan maka budi itu dapat dipelajari. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa ajaran etik Socrates bersifat intelektual dan juga rasional. Apabila budi adalah tahu maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. “Jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar.
Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang mengetahui kebaikan pastilah dia berbuat baik. Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Apa itu kesenangan hidup? hal ini tidak pernah dipersoalkan oleh Socrates sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapatnya sendiri-sendiri yang bertentangan satu sama lain. Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya di zalimi lebih baik dari pada mendzalimi. Socrates adalah orang yang mempercayai tuhan.

D.      Murid-Murid Socrates
Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes dan Aristippos.
  1. Euklides mengajarkan filosofinya di kota Megara. Sebelum ia belajar pada Socrates, ia telah mempelajari filosofi Elea, terutama ajaran Permenindes yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah. Pendapat ini disatukan dengan etika Socrates. Lalu diajarkannya: Yang satu itu baik. Hanya orang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai anggapan: Tuhan, akal, dan lainnya. Lawan satu itu tiada.Yang baik selalu ada, tidak berubah.
  2. Antisthenes mula-mula murid guru sofis Gorgias. Kemudian ia menjadi pengikut Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filosofi di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Menurut ajaran Antisthenes, budi adalah satu-satunya yang baik. Budi adalah segala rasa cukup. Di luar itu tidak perlu mencari kesenangan hidup. Dalam dua halia menyimpang dari Socrates. Pertama, ia memungut biaya sekolah. Bagi Socrates, ia pantang menerima bayaran. Kedua, tentang pengertian. Bagi Antisthenes, pengertian itu tidak ada. Yang adahanya kata-kata, masing-masing mempunyai arti sendiri. Kata yang satu tak dapat menentukan kata yang lain.
  3. Aristippos mengajarkan filosofinya di Kyrena.Mula-mula ia belajar pada guru sofis dan kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi tujuan. Sebab itulah, ajarannya disebut hedonisme. Hanya kesenangan hidup harus dicapai dengan pertimbangan yang tepat, tidak serampangan.
Euklides, Antisthenes dan Aristippos, masing-masing mendirikan sekolah Socrates sebagai tanda cinta kepada gurunya. Namun mereka bukanlah murid Socrates yang sepenuhnya.Murid Socrates yang sesungguhnya adalah Plato. Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret, yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkan dan diketahui oleh akal.







BAB III
PENUTUP

Simpulan
Socrates adalah Bapak Filsafat yang mengakhiri hidupnya dengan racun karena menetapi prinsipnya tentang pantas dan tidak pantas, tentang bersalah dan tidak bersalah, bijak dan tidak bijak menurut pemahaman dan kontemplasi diri-sendiri, serta permenungan dengan kawan-kawan filsafatnya. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.








DAFTAR PUSTAKA

Hadian Noor, Sejarah Filsafat, Cet. 1, Malang: Citra Mentari Group, 1997.
M.T. Thahir, Falsafah Junani Kuno-Abad Socrates, Cet. V, Jogjakarta: Tt, 1960.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976.
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 1999.
Muhammad Azhar, Filsafat Politik (Perbandingan antara Islam dan Barat), Cet. 2, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1997.
Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011.
Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-liran dan Tokoh-Tokoh Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.



[1]Hadian Noor, Sejarah Filsafat, Cet. 1, (Malang: Citra Mentari Group, 1997), h. 26
[2]M.T. Thahir, Falsafah Junani Kuno-Abad Socrates, Cet. V, (Jogjakarta: Tt, 1960) , h. 67
[3]Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980), h. 35
[4] Hadian Noor, Sejarah Filsafat, op. cit., h. 26
[5]Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976), h. 10
[6]The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1999), h. 31
[7]Muhammad Azhar, Filsafat Politik (Perbandingan antara Islam dan Barat), Cet. 2, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1997), h. 23
[8]Ibid, h. 24
[9]Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), h. 100
[10]Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-liran dan Tokoh-Tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar