Jumat, 22 Agustus 2014

Solusi Konsep Riba Bunga Bank



KATA PENGANTAR


b-thuluth4
 





Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Yang jiwa saya ada dalam genggaman-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan sang pemimpin para utusan, Muhammad Saw. beserta keluarga, para sahabat, dan pengikut setianya hingga hari kemudian. Amma ba’du
Saya bersyukur atas-Nya, karena dengan izin-Nya lah Makalah berjudul, Solusi Konsep Riba, Bunga Bank, Diskonto dan Anuitas Perbankan , ini selesai. Tanpa lupa, untuk menyadari bahwa tugas ini masih memiliki kekurangan ditinjau dari beberapa sudut. Mohon bimbingannya.
            Semoga, Makalah sederhana ini bermanfaat secara keilmuan pada saya. Sekaligus, bagi para pembaca. Untuk membuka satu dialog yang sehat sebagai bentuk perbaikan maupun tambahan. Akhir kata, Allah-lah yang Maha Tahu atas segala ciptaan-Nya.

Banjarmasin,   Mei  2014



Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................             1
DAFTAR ISI ..........................................................................................................             2
BAB I                   : PENDAHULUAN…………………………………………...             3
BAB II                  : PEMBAHASAN……………………………………………..             4
A.    Solusi Konsep Ekonomi Riba................................................             4
B.     Solusi Bunga Bank................................................................             6
C.     Solusi Diskonto dan Anuitas Terhadap Perbankan...............             9

BAB III                : PENUTUP
                              Simpulan…………………………………………………..........             13
                              DAFTAR PUSTAKA............................................................... 15       
                             




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sistem perbankan yang saling menguntungkan, dengan keanekaragaman produksi dan skema keuangan yang lebih variatif. Sistem perbankan syariah adalah alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (nasabah dan bank), yang di dukung oleh keanekaragaman produk dan skema keuangan yang lebih variatif, dan dilakukan secara transparan agar adil bagi kedua belah pihak. Perbankan yang kredibel dan menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Kehadiran sistem perbankan syariah di Indonesia semakin mudah di temukan oleh masyarakat, dengan mengenali logo iB (ai-Bi) di bank-bank terkemukan terdekat. iB (ai-Bi) memudahkan masyarakat untuk mengenali tersedianya jasa perbankan syariah di manapun di seluruh Indonesia. Logo iB (ai-Bi) merupakan penanda identitas industri perbankan syariah di Indonesia, yang merupakan kritalisasi dari nilai-nilai utama sistem perbankan syariah yang modern, transparan, berkeadilan, seimbang dan beretikan. Dengan adanya iB sebagai penanda, masyarakat akan merasa lebih nyaman karena produk dan jasa layanan perbankan yang diberikan akan mengutamakan nilai-nilai keadilan, transparan, keseimbangan etika, dan kebaikan sosial bersama.

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana solusi konsep ekonomi riba?
2.      Bagaimana solusi bunga bank?
3.      Bagaimana solusi diskonto dan anuitas terhadap perbankan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Solusi Konsep Ekonomi Riba
Pada mulanya riba merupakan suatu tradisi bangsa Arab pada jual beli maupun pinjaman dimana pembeli atau penjual, yang meminjam atau yang memeberi pinjaman suatu barang atau jasa dipungut atau memungut nilai yang jauh lebih dari semula, yakni tambahan (persenan) yang dirasakan memberatkan. Namun setelah Islam datang, maka tradisi atau praktek seperti ini tidak lagi diperbolehkan, dimana oleh Allah SWT menegaskan dengan mengharamkannya dalam Al-Qur’an, bahkan Allah dan Rasul-Nya akan memusuhi dan memeranginya apabila tetap melanggarnya, yang demikian itu dimaksudkan untuk kemaslahatan dan juga kebaikan umat manusia
Adapun solusi konsep ekonomi riba yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
  1. Islam mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat (pro-poor growth). Islam mencapai pro-poor growth melalui dua jalur utama: pelarangan riba dan mendorong kegiatan sektor riil. Pelarangan riba secara efektif akan mengendalikan inflasi sehingga daya beli masyarakat terjaga dan stabilitas perekonomian tercipta. Bersamaan dengan itu, Islam mengarahkan modal pada kegiatan ekonomi produktif melalui kerja sama ekonomi dan bisnis seperti mudharabah, muzara'ah dan musaqah. Dengan demikian, tercipta keselarasan antara sektor riil dan moneter sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkesinambungan.
  2. Islam mendorong penciptaan anggaran negara yang memihak pada kepentingan rakyat banyak (pro-poor budgeting). Dalam sejarah Islam, terdapat tiga prinsip utama dalam mencapai pro-poor budgeting yaitu: disiplin fiskal yang ketat, tata kelola pemerintahan yang baik dan penggunaan anggaran negara sepenuhnya untuk kepentingan publik. Tidak pernah terjadi defisit anggaran dalam pemerintahan Islam walau tekanan pengeluaran sangat tinggi, kecuali sekali saja, pada masa pemerintahan Nabi Muhammad s.a.w, yang disebabkan oleh peperangan. Bahkan pada masa Khalifah Umar dan Uthman terjadi surplus anggaran yang besar. Yang kemudian lebih banyak didorong adalah efisiensi dan penghematan anggaran melalui good governance. Di dalam Islam, anggaran negara adalah harta publik sehingga anggaran menjadi sangat responsif terhadap kepentingan orang miskin.
  3. Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat luas bagi masyarakat (pro-poor infrastructure). Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak eksternalitas positif dalam rangka meningkatkan kapasitas dan efisiensi perekonomian. Nabi Muhammad s.a.w. membagikan tanah di Madinah kepada masyarakat untuk membangun perumahan, mendirikan permandian umum di sudut kota, membangun pasar, memperluas jaringan jalan, dan memperhatikan jasa pos. Khalifah Umar bin Khattab membangun kota Kufah dan Basrah dengan memberi perhatian khusus pada jalan raya dan pembangunan masjid di pusat kota. Beliau juga memerintahkan Gubernur Mesir, Amr bin Ash, untuk mempergunakan sepertiga penerimaan Mesir untuk pembangunan jembatan, kanal dan jaringan air bersih.
  4. Islam mendorong penyediaan pelayanan publik dasar yang berpihak pada masyarakat luas (pro-poor public services). Terdapat tiga bidang pelayanan publik yang mendapat perhatian Islam secara serius: birokrasi, pendidikan dan kesehatan. Di dalam Islam, birokrasi adalah amanah untuk melayani publik, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau golongan. Khalifah Usman tidak mengambil gaji dari kantornya. Khalifah Ali membersihkan birokrasi dengan memecat pejabat-pejabat pubik yang korup. Selain itu, Islam juga mendorong pembangunan pendidikan dan kesehatan sebagai sumber produktivitas untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
  5. Islam mendorong kebijakan pemerataan dan distribusi pendapatan yang memihak rakyat miskin. Terdapat tiga instrument utama dalam Islam terkait distribusi pendapatan yaitu aturan kepemilikan tanah, penerapan zakat, serta menganjurkan qardul hasan, infak dan wakaf.


B.  Solusi Bunga Bank
Bunga bank adalah sebuah sistem yang diterapkan oleh bank-bank konvensional (non Islam) sebagai suatu lembaga keuangan yangmana fungsi utamanya menghimpun dana untuk kemudian disalurkan kepada yang memerlukan dana (pendanaan), baik perorangan maupun badan usaha, yang berguna untuk investasi produktif dan lain-lain. Bunga bank sendiri dapat diartikan berupa ketetapan nilai mata uang oleh bank yang memiliki tempo/tenggang waktu, untuk kemudian pihak bank memberikan kepada pemiliknya atau menarik dari si peminjam sejumlah bunga (tambahan) tetap sebesar beberapa persen, seperti lima atau sepuluh persen.
Dengan kata lain bunga bank adalah sebuah sistem yang diterapkan oleh bank-bank konvensional (non Islam) sebagai suatu lembaga keuangan yang mana fungsi utamanya menghimpun dana untuk kemudian disalurkan kepada yang memerlukan dana (pendanaan), baik perorangan maupun badan usaha, yang berguna untuk investasi produktif dan lain-lain. Bunga bank ini termasuk riba, sehingga bunga bank juga diharamkan dalam ajaran Islam. Bedanya riba dengan bunga/rente (bank) yakni riba adalah untuk pinjaman yang bersifat konsumtif, sedangkan bunga/rente (bank) adalah untuk pinjaman yang bersifat produktif. Namun demikian, pada hakikatnya baik riba, bunga/rente atau semacamnya sama saja prakteknya, dan juga memberatkan bagi peminjam.
Maka dari itu solusinya adalah dengan mendirikan bank Islam. Yaitu sebuah lembaga keuangan yang dalam menjalankan operasionalnya menurut atau berdasarkan syari’at dan hukum Islam. Sudah barang tentu bank Islam tidak memakai sistem bunga, sebagaimana yang digunakan bank konvensional. Sebab sistem atau cara seperti itu dilarang oleh Islam.
Sebagai pengganti sistem bunga tersebut, maka bank Islam menggunakan berbagai macam cara yang tentunya bersih dan terhindar dari hal-hal yang mengandung unsur riba. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Wadiah (titipan uang, barang, dan surat berharga atau deposito). Bisa diterapkan oleh bank Islam dalam operasionalnya menghimpun dana dari masyarakat, dengan cara menerima deposito berupa uang, barang dan surat-surat berharga sebagai amanah yang wajib dijaga keselamatannya oleh bank Islam. Bank berhak menggunakan dana yang didepositokan itu tanpa harus membayar imbalannya tetapi bank harus menjamin bisa mengembalikan dana itu kepada waktu pemiliknya membutuhkan
2.      Mudharabah (kerja sama antara pemilik modal dengan pelaksana atas dasar perjanjian profit and loss sharing).dengan cara ini, bank Islam dapat memberikan tambahan modal kepada pengusaha untuk perusahaannya baik besar maupun kecil dengan perjanjian bagi hasil dan rugi yang perbandingannya sama sesuai dengan perjanjian, misalnya fifty-fifty. Dalam mudharabah ini, bank tidak mencapuri manajeman perusahaan.
3.      Musyarakah/ syirkah (persekutuhan). Di bawah kerja sama cara ini, pihak bank dan pihak perngusaha mempunyai peranan (saham) pada usaha patungan (joint venture.) karena itu, kedua belah pihak berpartisipasi mengelola usaha patungan ini dan menanggung untung ruginya bersama atas dasar perjanjian tersebut.
4.      Murabahah (jual beli barang dengan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga pembelian yang pertama secara jujur). Dengan cara ini, orang pada hakikatnya ingin merubah bentuk bisnisnya dari kegiatan pinjam meminjam menjadi transaksi jual beli (lending activity menjadi sale and purchase transaction). Dengan system ini, bank bias membelikan/menyediakan barang-barang yang diperlukan oleh pengusaha untuk dijual lagi, dan bank minta tambahan harga (cost plus) atas harga pembelinya. Syarat bisnis dengan murabahah ini ialah si pemilik barang dalam hal ini bank harus memberi informasi yang sebenarnya kepada pembeli tentang harga pembeliannya dan keuntungan bersihnya (profit margin) daripada cost plus-nya itu.
5.      Qargh Hasan (pinjaman yang baik atau bernevolent loan). Bank Islam dapat memberikan pinjaman tanpa bunga (benevolent loan) kepada para nasabah yang baik, terutama nasabah yang punya deposito di bank Islam itu sebagai salah satu service dan penghargaan bank kepada para deposan, karena deposan tidak menerima bunga atas depositonya dari bank Islam.
6.      Bank Islam juga dapat menggunakan modalnya dan dana yang terkumpul untuk investasi langsung dalam berbagai bidang usaha yang profitable. Dalam hal ini, bank sendiri yang melakukan manajemennya secara langsung, berbeda dengan investasi patungan, maka manajemennya dilakukan oleh bank bersama partner usahanya dengan perjanjian profit and loss sharing.
7.      Bank Islam boleh pula mengelola zakat di Negara yang pemerintahnya tidak mengelola zakat secara langsung. Dan bank juga dapat menggunakan sebagian zakat yang terkumpul untuk proyek-proyek yang produktif, yang hasilnya untuk kepentingan agama dan umum.
8.      Bank Islam juga boleh memungut dan menerima pembayaran untuk :
1.      Mengganti biaya-biaya yang langsung dikeluarkan oleh bank dalam melaksanakan pekerjaan untuk kepetingan nasabah, misalnya biaya telegram, telpon, telex dalam memindahkan atau memberitahukan rekening nasabah dan sebagainya.
2.      Membayar gaji para karyawan bank yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan nasabah, dan untuk sarana dan prasarana yang disediakan oleh bank, dan biaya administrasi pada umumnya.
Adapun tujuan dibangunnya Bank Islam ialah dalam Islam, yaitu:
1.      Agar umat Islam tidak selalu berada dalam keadaan darurat dan menghindarkannya dari hal-hal yang bersifat subhat/haram
2.      Untuk menyelamatkan umat Islam dari praktek bunga, riba, rente dan sebagainya yang mengandung unsur pemaksaan atau pemerasan (eksploitasi) oleh yang berekonomi kuat terhadap yang berekonomian lemah, dan juga menghindarkan dari ketimpangan yang menjadikan si kaya makin kaya dan si miskin menjadi semakin miskin
3.      Guna melepaskan ketergantungan umat Islam terhadap bank-bank konvensional (non-Islam) yang mengandung unsur syubhat/haram, dan menyebabkan umat islam berada dibawah kekuasaan asing, yang itu membuat keterpurukan dan melemahnya ekonomi Islam, sehingga umat islam tidak dapat menerapkan ajaran agamanya secara menyeluruh dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
4.      Untuk mengaplikasikan ketentuan kaidah fiqh, “al khuruuju minal khilafi mustahabbun” (menghindari perselisihan ulama itu sunnah hukumnya), sebab ternyata hingga kini ulama maupun para cendikiawan Muslim masih saja terjadi perbedaan pendapat tentang hukum bermuamalah, khusunya dengan bank-bank non Islam (konvensional), karena masalah bunga dan semacamnya itu masih tetap kontroversial dan tidak jelas hukumnya (haram/syubhat/halal).

C.  Solusi Diskonto dan Anuitas Terhadap Perbankan
Perbankan syariah saat ini, jika diibaratkan bunga, setiap orang yang melihat ingin memetik dan menghirup bau wanginya. Keadaan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir secara menyeluruh dunia seakan dibuat terpaku kepadanya. Krisis keuangan yang melanda tahun 1998, dan kembali berulang di tahun 2007, membuat mata dunia terbuka akan satu sisitem perekonomian yang ramah terhadap lingkungannya. Begitu pula yang terjadi di Indonesia, perbankan yang sudah ada beramai ramai mendirikan perbankan syariah, dari yang hanya dari unit usahanya sampai melakukan spin of atas unit usahanya. Sampai saat ini sudah ada lima bank umum syariah di Indonesia. Diawali oleh Bank Muamalat, lalu disusul Syariah Mandiri, kemudian Mega Syariah, dan diikuti oleh BRI yang menspin off kan unit usaha syariahnya, serta yang baru baru ini BNI syariah pun menyusul berdiri secara mandiri.
Hal ini tentu saja dikarenakan pasar perbankan syariah di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Dari seluruh Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun perbankan, baru sekitar 5% yang masuk ke perbankan syariah. Padahal jika dilihat dalam penyaluranya sebagai pelaksanaan fungsi intermediasi bank, maka hampir semua perbankan syariah mempunyai LDR di atas 90%, berbeda dengan perbankan konvensional yang paling besar LDR nya hanya mencapai 65% dan rata rata hanya sekitar 40%, sisanya lebih banyak ditanam di Bank Indonesia. Selain itu pula, bagi hasil perbankan syariah masih sangat menguntungkan dibandingkan dengan perbankan konvensional. Rata rata bunga yang diberikan atas tabungan oleh bank konvensional adalah sekitar 4 sampai 6% sedangkan perbankan syariah dapat memberikan bagi hasil jika disetarakan bunga mencapai 7-8,5%. Bahkan jika kita meminjam di bank syariah, maka tidak ada biaya pinalti jika kita melunasinya sebelum masa waktu berakhir. Walaupun begitu pergerakan perbankan syariah di Indonesia masih di hitung sangat lambat.
Berbagai kritik dan celaan terus diarahkan kepada pihak perbankan syariah, walaupun tidak sedikit pula pujian yang dialamatkan kepada perbankan syariah. Dari tuduhan penjualan nilai nilai agama, sampai bank konvensional yang berjilbab terus menerus dilontarkan kepada perbankan syariah. Berbagai kritikan ini kebanyakan berasal dari sistem pinjaman yang masih dianut di perbankan syariah di Indonesia. Dalam pelaksanaan di lapangan, sistem perbankan syariah ada dua sistem yaitu sistem revenew sharing dan sistem profit sharing. Di Indonesia sendiri masih menggunakan sistem revenew sharing, belum didasarkan pada loss and profit. Hal inilah yang dijadikan kritik dari beberapa pihak yang kurang senang dengan sistem perbankan syariah yang ada di Indonesia. Sistem revenew sharing membuat para peminjam harus tetap mengembalikan pokok dan margin walaupun usahanya rugi.
Selain itu masih tumpang tindih sistem perbankan syariah dengan perbankan konvensional membuat masyarakat sulit membedakan mana yang syariah mana yang tidak jika dilihat dari transakasi yang dilakukan. Hal ini bisa dilihat pada pembiayaan perbankan syariah, walaupun menggunakan akad yang sesuai dengan sistem ekonomi Islam, tetapi dalam prakteknya masih mencampurkan sistem konvensional didalamnya. Ini terlihat pada penggunaan anuitas di dalam pembiayaan perbankan syariah.
Perlakuan anuitas inilah yang menjadi pertanyaan besar di seluruh nasabah perbankan syariah, terutama bagi mereka yang mempunyai pendidikan ilmu yang tinggi. Bukankah secara teori apa yang membedakan perbankan syariah dengan perbankan konvensional adalah sistem anuitas. Lalu bagaimana mungkin sistem anuitas diadopsi oleh perbankan syariah secara mentah mentah. Tetapi persoalaanya tidak lantas hanya berhenti pada pemahaman halal dan haram. Pihak perbankan syariah harus dapat memberikan jawaban yang rasional bagaimana perbankan syariah dapat mempergunakan sistem anuitas didalam sitem pembiayaannya. Nah disinilah kejelian para debitur harus bermain, di mana memilih perbankan yang murah.

Sebenarnya adanya ketidakseragaman dalam sistem perbankan syariah di Indonesia, dikarenakan juga karena peraturan yang ada belum mendukung perkembangan ke arah sana. Hal ini pulalah yang membuat pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia berjalan lamban, bank syariah tidak dapat mengekplor daya kreativitas mereka karena tidak adanya kejelasan hukumnya. Dan ini menjadi PR besar bank Indonesia dengan lembaga legislative yang mengurus perundang undangan.
Dalam memilih pembiayaan yang murah melalui perbankan syariah, sebenarnya ada tips mudah, sehingga kita tidak terjebak pada persen margin yang kecil, yaitu:
  1. Tanyalah seluruh perbankan syariah yang ada, berapakah margin yang diberikan.
  2. Pastikan bahwa margin tersebut, floating, fix ataupun flat, Pilihlah yang fix dan flat.
  3. Hitunglah margin tersebut dengan margin efektif , dari situ akan terlihat sebenarnya berapa margin dari pinjaman.
  4. Bertanyalah berapakah porsi antara pokok dengan margin dalam cicilan setiap bulannya, pada bulan bulan di tahun pertama lalu coba tanya di berapakah proporsinya di tahun kelima. Ambilah yang perbandingannya tidak terlalu besar. Misal seperti salah satu bank waktu itu, dengan cicilan 5juta maka perbandingan anatara pokok dan margin sekitar 43% dengan 57 %. Coba bandingakan dengan 900.000 dan 4.100.000 maka perbandingannya adalah 18% dan 82%.













BAB III
PENUTUP

Simpulan:
Adapun solusi konsep ekonomi riba yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
a.       Pelarangan riba dan mendorong kegiatan sektor riil.
b.      Penciptaan anggaran negara yang memihak pada kepentingan rakyat.
c.       Pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
d.      Penyediaan pelayanan publik dasar yang berpihak pada masyarakat luas.
e.       Adanya kebijakan pemerataan dan distribusi pendapatan yang memihak rakyat miskin.
Sedangkan solusi untuk menggantikan bunga bank yaitu dengan mendirikan Bank Islam, yaitu:
a.       Wadiah (titipan uang, barang, dan surat berharga atau deposito).
b.      Mudharabah (kerja sama antara pemilik modal dengan pelaksana atas dasar perjanjian profit and loss sharing).
c.       Musyarakah/ syirkah (persekutuhan).
d.      Murabahah (jual beli barang dengan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga pembelian yang pertama secara jujur).
e.       Qargh Hasan (pinjaman yang baik atau bernevolent loan).
f.       Bank Islam juga dapat menggunakan modalnya dan dana yang terkumpul untuk investasi langsung dalam berbagai bidang usaha yang profitable.
g.      Bank Islam boleh pula mengelola zakat di Negara yang pemerintahnya tidak mengelola zakat secara langsung. Dan bank juga dapat menggunakan sebagian zakat yang terkumpul untuk proyek-proyek yang produktif, yang hasilnya untuk kepentingan agama dan umum.
h.      Bank Islam juga boleh memungut dan menerima pembayaran untuk mengganti biaya-biaya yang langsung dikeluarkan oleh bank dan membayar gaji para karyawan bank yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan nasabah, dan untuk sarana dan prasarana yang disediakan oleh bank, dan biaya administrasi pada umumnya.


















DAFTAR PUSTAKA

Karim, Adiwarman A., Ekonomi Mikro Islam. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008.
Nuryanto, Ekonomi Syariah Di Indonesia: Peluang dan Tantangan, Yogyakarta: BPFE, 2006.
Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Islam Tentang Riba, Untung-Piutang, Gadai, Bandung, al-Ma’arif, 1983.
Anasnurhuda, http://anasnurhuda354.wordpress.com/page/3/ diakses Sabtu, 4 Mei 2014.
Multazamn, Ahmad, http://cakmoul.blogspot.com/2013/04/makalah-bunga-bank.html diakses Minggu, 4 Mei 2014.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar