Jumat, 10 Januari 2014

ETIKA BISNIS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Di dunia modern, etika dan tanggung jawab sosial bisnis merupakan pokok bahasan yang serius dalam diskusi-diskusi bisnis kontemporer tentang perencanaan-perencanaan kebijakan, manajemen proses, bahkan dilakukan pula oleh pemerintah. Secara umum dipahami, bahwa etika bisnis merupakan penerapan nilai-nilai atau standar-standar moral dalam kebajikan, kelembagaan dan perilaku bisnis yang penerapannya akan dapat  meningkatkan profitabilitas jangka panjang dan good will yang diperoleh dari citra positif dari bisnis yang dijalankan.
Serangkaian penemuan-penemuan baru, perubahan-perubahan organisasi bisnis, perdagangan seluruh dunia, apalagi dengan semakin merebaknya bisnis di dunia maya atau yang dikenal dengan e- Business atau e- Commerce, tidak hanya merubah cara-cara dalam meperoleh penghasilan, tetapi secara radikal mengubah seluruh cara hidup bahkan mengubah cara berfikir, khususnya karena berkembangnya kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan secara signifikan. Perubahan-perubahan besar dalam jalan hidup telah meningkatkan pengembangan teori-teori praktis yang menyangkut fungsi inti dan organisasi-organisasi bisnis. Dengan fakta ini, etika bisnis merupakan salah satu dari disiplin ilmu yang berhubungan dengan persoalan-persoalan bisnis di atas dalam berbagai konteksnya. Etika bisnismenawarkan seperangkat nilai-nilai bisnis, agar dapat menjambatani persoalan-persoalan di atas dengan perubahan-perubahannya tanpa menyimpang dari makna hakikat kehidupan. Makna hakikat hidup bukan semata-mata melakukan pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan hidup melainkan pencarian, pemaknaan dan pengabdian bagi keberlangsungan dan kesejahteraan kehidupan individual dan sosial baik di dunia maupaun di kehidupan setelah kematiannya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaiman Kaidah-Kaidah Keimanan Pebisnis itu?
2.      Apa Saja Model-Model Bisnis Modern dan Etikanya?
3.      Bagaimana Persaingan Bisnis : Suatu Keniscayaan?
4.      Bagaimana Ajaran Islam Dalam Memandang Bersaingan Secara Sehat Dalam Bisnis?
5.      Apa Saja Sembilan Etika Pemasar?
6.      Bagaimana Rahasia Sukses Rasulullah?






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kaidah-Kaidah Keimanan Pebisnis
Iman dan pekerjaan merupakan dua shabat, yang hubungannya sama dengan hubungan rug dengan jasad. [1]Dalam Al- Qur’an, kata iman dengan pekerjaan yang baik disebutkan secara bersamaan dalam dua ratus ayat lebih.Menurut Imam Hasan al- Bashri ra., “ Iman adalah pengakuan dalam hati yang dibuktikan dengan tindakan. Iman merupakan faktor penting dan sangat perlu untuk menggerakkan seluruh kehidupan. Dari sini, maka dapat kita pahami bahwa pentingnya dikumpulkannya antara iman dengan pekerjaan yang baik bagi para pebisnis, di tengah-tengah kejayaannya terhadap hal-hal berikut :
·         Pertama : Harta adalah Milik Allah yang Diserahkan kepada Manusia
Alam ini berupa elemen-elemen, dengan pengaturan kalnya, ilmunya, dan mengumpulkan asa dan keinginannya, untuk memanfaatkan elemen-elemen tersebut kemudianmengambil aspek-aspek hasilnya yang baik.
·         Kedua : Menanamkan Niat Saat Bekerja
Islam menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah, jika orang yang melakukannya menanamkankan niat ketika berkecimpung di dunia ekonomi. Pebisnis yang memakmurkan bumi, menambah kekayaan, dan memetik buah, menggerakkan alat, menegeluarkan harta kekayaaan bumi, dan berdagang, jika dia bisa mendapatkan apa yang ada di sisi Allah, maka dia akan mendapatkan pahala di dunia dan di akhirat kelak.
·         Ketiga : Percaya terhadap Qadha’ dan Qadar Allah dan Senantiasa Bersyukur kepada Allah, baik dalam Keadaan Suka maupun Duka.
Jika seorang pebisnis muslim berdagang mendapatkan laba, maka hendaknya segera bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya, dan jangan sekali-kali bangga seperti cara bangganya orang-orang yang sombong.
Dan jika dia mempunyai nasib lain, rugi maka hendaknya dia rela menerimanya dengan lapang dada, tenteram dan menenangkan dirinya dengan mengingat bahwa Allah tidak pernah berbuat kecuali untuk kebaikan dirinya.
·         Keempat : Mencari Rezeki Melalui Sebab-sebab dan Bekerja serta Tawakkal kepada Allah
Dalam mencari rezeki dan mengembangkan hartanya, pebisnis muslim dituntut untuk menggunakan sebab-sebab di samping tawakkal kepada Allah. Allah yang memberi rezeki kepada burung setiap pagi dan sore, Allah mampu untuk memberikan rezeki kepada burung, Allah adalah Dzat yang mengatur, melapangkan, dan menjadikan sebab.
·         Kelima : Percaya bahwa Istighfar dan Takwa kepada Allah Merupakan Bagian dari Penyebab Datangnya Rezeki
Islam adalah spirit dan materi yang perhatian terhadap jasmani manusia. Pada waktu yang sama, ia menghargai spiritnya dengan takwa dan istighfar kepada Allah, karena ia mampu memperbaiki hati dan mewujudkan konsistensi terhadap hidayah Allah. Dari sini, timbullah kelapangan rezeki dan kemakmuran, seperti yang diinginkan manusia, yang bukan hanya angan belaka.
Atas landasan ini, seorang pebisnis dituntut untuk bertakwa kepada Tuhannya dalam mengelola harta yang dititipkan kepadanya, di samping harus banyak beristighfar dan menjauhi seluruh larangan-Nya, karena tindakan itu akan mendatangkan pertolongan, berkah, dan kesejahteraan.
·         Keenam : Yakin bahwa Allah Menambahkan Rezeki kepada Sebagian Manusia atas Sebagian yang lain
Keterpautan rezeki antara hamba-hamba Allah merupakan bagian dari sunnatullah. Manusi mempunyai rezeki yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan yang diberikan oleh Allah kepada mereka, baik secara fitrah ( bakat bawaan) ataupun manfaat yang bertumpu pada bakat tersebut.
·         Ketujuh : Memelihara Tujuan-tujuan syariat dalam Ibadah
Seorang pebisnis tidak boleh melupakan tempat kembalinya karena terlalu konsentrasi dalam mengurusi kehidupannya, sehingga usianya berlalau dengan sia-sia dan transaksi penjualannyapun menjadi merugi .
Laba akhirat akhirat yang tidak didapatkannya tidak bisa ditutupi dengan laba yang dia dapatkan didunia. Dengan demikian, berarti dia telah membeli kehidupan dunia dengan akhirat, bahkan orang yang mempunyai akal normal harus mengasihi dirinya sendiri. Bentuk mengasihi dirinya sendiri yaitu dengan cara memelihara modalnya. Modalnya adalah agama dan cara memanfaatkannya.[2]

B.     Model-Model Bisnis Modern dan Etikanya
Dalam konteks bisnis perusahaan, penerapannya etika bisnis dihadapkan denagan masalah-masalah yang meliputi: proses, people dan teknologi. Pada tataran prosesnya, etika bisnis berhadapan dengan masalah-masalah klasik seperti cash flow, personal network,competition dan endurance. Pada people etika bsinis dihadapkan dengan persoalan kualitas SDM yang belum memadai, motivasi enterpreneur dan keinginan untuk “ cepat sukses “.
Demikian pula dalam teknologi etika bisnis dihadapkan dengan tuntutan teknologi yang mensyaratkan keserbacepatan dan efisiensi total dalam sistem kerja untuk mencapai suatu maksud dalam bisnis.Menghadapi realitas tersebut, terdapat pilihan-pilihan yang dihadapkan adalah memilih diantara empat pilihan. Keempat kondisi itu adalah:
a.       jika tidak etis maka akan tertinggal
b.      etis tidak tertinggal
c.       etis tertinggal
d.      tidak etis tertinggal.

Terhadap pilihan-pilihan tersebut, konsepsi bisnis yang terpisah dari etika lebih banyak menjadikan etis tertinggal dan tidak etis tertinggal sebagai pilihan bisnis. Hanya saja dalam relitasnya kedua pilihan itu mempunyai kelemahan yang mendasar. Bisnis bukanlah dunia yang berdiri sendiri dan terpisah dari masyarakat dan masyarakat membutuhkan bisnis dalam aspek kehidupannya tidak terlepas dari eksistensi keseluruhan masyarakat dengan seluruh atribut dan simbol-simbol yang melekat pada masyarakat. Bisnis tidak terpisah dari etika dikarenakan pertama, bisnis tidak bebas nilai.
Kedua, bisnis merupakan bagaian dari sistem sosial. Dan Ketiga, aplikasi etika bisnis identik dengan pengelolaan bisnis secra profesional. Perkembangan bisnis atau perusahaan, baik sebagai akibat maupun sebagai salah satu sebab perkembangan politik, ekonomi soisal maupun teknologi serta aspek lingkungan di sekitarnya, jika selam ia berinteraksi dan menghasilkan barang dan jasa bagi masyarakat yang membutuhkannya maka bisnis atau perusahaan itu harus menyadari akan tanggung jawab terhadap lingkungannya, khususnya tanggung jawab sosial dengan segala aspekny. Agar suatu perusahaan atau bisnis dapat mencapai tujuannya secara kontinyu dengan dukungan masyarakat luas, maka manajeman perusahaan harus menjaga efektivitas interaksi yang berlangsung antara perusahaan dan konsumen dan stake holder denga cara-carayang berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma etika bisnis.
Pada hakikatnya etika merupakan bagian dari integral dalam bisnis yang dijalankan secara profesional. Dalam jangka panjang suatu bisnis akan tetap berkesinambungan dan secara terus menerus benar-benar m enghasilkan keuntungan, jika dilakukan atas dasar-dasar kepercayaan. Demikian pula suatu bisnis dalam perusahaan akan berlangsung bila bisnis itu dilakukan dengan memberi perhatian kepada semua pihak dalam perusahaan .




Inilah sebagian dari tujuan etika bisnis yaitu agar semua orang yang terlibat dalam bisnis mempunyai kesadaran  tentang adanya dimensi etis dalam bisnis itu sendiri dan agar belajar bagaimana mengadakan pertimbangan yang baik secara etis maupun ekonomis.[3]
Dari pandangan demikian maka, menjadi kemestian agar suatu bisnis atau perusahaan yang ingin berkelanjutan dan berkesinambungan dalam proses dan meraih keuntungan selalu berupaya memberlakukan pilihan jika tidak etis maka kana tertinggal dan jika etis maka tidak akan tertinggal pula.
 Untuk melihat relevansi dan implementasi etika bisnis dalam dunia bisnis secara berurutan berikut akan dipaparkan empat hal mengenai : 1) Hubungan produsen dan konsumen yang meliputi kualitas produk, harga dan iklan. 2) Pasar bebas .3) Tanggung jawab sosial perusahaan dan good Corporate Governence.  4) E- Business.
1.      Hubungan Produsen dan Konsumen
Produsen adalah suatu bisnis yang mengkhususkan diri dalam proses membuat produksi. Produksi atau manufakturing adalah proses yang dilakukan oleh produsen yang merupakan aktivitas fungsional yang mesti dilakukan oleh setiap perusahaan. Adapun konsumen merupakan stakeholder yang hakiki dalam bisnis modern. Bisnis tidak akan berjalan tanpa adanya konsumen yang menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh produsen. Secara formal hubungan antara produsen dan konsumen bukanlah termasuk hubungan kontraktual, yaitu hak yang ditimbulkan dan dimiliki oleh seseorang ketika memasuki sebuah perjanjian dengan pihak lain.
2.      Pasar Bebas
Pasar bebas merupakan perkembangan dari pasar lokal dan nasional yan gtidak mengenal keterbatasan tertentu.

Dalam implementasinya walaupun dalam pasar bebas terkesan adanya kebebasan antar kompetitor dalam memasarkan komoditas yang dimiliknya, tetapi bukan berarti kebebasan yang tiada terbatas. Kebebasan di sini dalam pengertian bahwa secara sadar dan tanpa adanya paksaan pada pelaku bisnis mengoptimalkan upaya-upaya bisnisnya.
3.      Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Good Corporate Governance
Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan tema yang terus berkembang dalam dunia bisnis. Lebih jauh tanggung jawab sosial perusahaan secara luas terkait erat dengan tuntutan pembangunan pemerintahan yang bersih. Dalam hubungan ini etika bisnis memberikan tuntutan agar dalam proses produksi yang berkesinambungan untuk memperoleh tujuan ekonomis, tidak melalaikan hukum yang telah ditetapkan sebagai proteksi tidak terjadinya penyelewengan wewenang dan kekuasaan pemerintah dalam hubungannya dengan upaya meningkatkan GNP misalnya.
Tuntutan tersebut diharapkan pelaksaan sistem dan proses baik dalam perusahaan maupun pemerintahan dan hubungan keduanya dilakukan secara terbuka dan tidak memberikan peluang sedikitpun bagi munculnya praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
4.      E- Business
E- Business adalah model bisnis yang menekankan pertukaran inormasi dan transaksi bisnis bersifat paperless. Perkembangan yang pesat dalam model bisnis ini ditunjang oleh tiga faktor pemicu utama, yaitu pertama, faktor pasar dan ekonomi seperti kompetisi yang semakin intensif, perekonomian global, kesepakatan dagang regionaldan keuasaan konsumen yang semakin besar,Kedua, faktor sosial dan lingkungan seperti perubahan karakteristik. Ketiga, faktor teknologi, inovasi yang muncul setiap saat.




Dengan demikian etika bisnis al-Qur’an merupakan pra-syarat bagi pembangunan bisnis yang Islami. Jika sisi keimanan mempunyai peran penting dalam muamalah, agar hasil sisi ini tampak buah hasilnya, maka harus dimanifestasikan dalam bentuk perilaku yang diperankan oleh pebisnis muslim yaitu dengan cara menggunakan seluruh batasn-batasan etika, yang dapat disederhanakan seperti berikut ini :
·         Bermualah dengan menggunaka etika Islam  yaitu : Jujur, amanah, toleransi, dan memenuhi akad dan janji.
·         Bermuamalah dalam hal-hal yang baik-baik saja : Tidak bermuamalah dalam barang-barang dan kegiatan-kegiatan yang dilarang, tidak mamakan harta dengan jalan yang bathil.[4]

C.    Persaingan Bisnis : Suatu Keniscayaan
Bisnis nampaknya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas persaingan. Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan perlombaan dalam mencari kebaikan. Jika ini dijadikan dasar bisnis, maka praktek bisnis harus menjalankan suatu aktivitas persaingan yang sehat. Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, dengan apa yang disebut dengan perdagangan bebas. Maka aktivitas bersaing dalam bisnis antara satu pebisnis dengan pebisnis lainnya tidak dapat dihindarkan. Hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana persaingan bisnis itu dapat memberikan kontribusi yang baik bagi para pelakunya. 
Harapan ideal tersebut dapat diwujudkan jika ada komitmen bersama di antara pesaing terhadap konsep persaingan, yaitu persaingan itu tidak diartikan sebagai usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dari usaha bisnisnya. Hal ini juga sangat dipengaruahi oleh cara pandang tentang persaingan. [5]
Ada perbedaan paradigma dalam melihat pesaing yaitu :
CARA BARU MELIHAT PESAING
Paradigma Lama :
·         “ Yang lain” adalah musuh saya
·         Nama permainan itu adala kemenangan
·         Saya lebih baik daripada mereka
·         Saya terpisah dari yang lain
Paradigma Baru :
·         “ Yang lain” adalah benchmark saya
·         Nama permainan itu adalah pengembangan terus menerus
·         Saya adalah sesuatu yang penting
·         Saya adalah bagian dari komunitas

D.    Ajaran Islam Dalam Memandang Bersaing Secara Sehat dalam Bisnis
Islam sebagai suatu aturan hidup yang khas telah meberikan aturan-aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat praktik persaingan yang tidak sehat. Dalam kaitan ini, maka Islam memberikan resep untuk mensikapi persaingan dalam bisnis, yaitu, ada tiga unsur yang perlu dicermati 1) pihak yang bersiang 2) cara persaingan 3) produk atau jasa yang dipersaingkan.
Ajaran berikut dapat dijadikan pijakan dalam melakukan persaingan dalam bisnis, yaitu :
1.      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling makan harta sesama kalian secara bathil.”
2.      Seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim lainnya, tidak menzalimi dan tidak menekannya.
3.      Menciptakan suasana sebagai berikut :
·         Pebisnis Muslim tidak menghalalkan segala cara
·         Pebisnis Muslim berupaya menhasilkan produk berkualitas dan pelayanan terbaik sesuai syari’ah
·         Pebisnis Muslim harus memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan aqad-aqad bisnis
·         Negara harus mampu menjamin terciptanya sistem yang adil dan kondusif dalam persaingan

E.     Sembilan Etika Pemasar
Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi prinsip-prinsip bagi syariah marketer dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasaran , yaitu :
1.      Memiliki Kepribadian Spiritual ( takwa)
2.      Berperilaku Baik dan Simpatik (Shidq)
3.      Berlaku Adil dalam Bisnis ( AL-‘Adl)
4.      Bersikap Melayani dan Rendah Hati ( Khidmah)
5.      Menepati Janji dan Tidak curang
6.      Jujur dan Terpercaya ( Al-Amanah)
7.      Tidak Suka Berburuk Sangka
8.      Tidak Suka Menjelek- jelekkan
9.       Tidak Melakukan Sogok ( Rishwah)

F.     Rahasia Sukses Rasulullah
·         Menjadikan Bekerja sebagai ladang menjemput syurga: Rasulullah menganggap bekerja adalah termasuk ibadah manusia kepada Allah yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berharap hasil terbaik dalam hidupnya.
·         Menerap Kejujuran dan Kepercayaan: Kejujuan dan kepercayaan adalah dua hal  yang mutlak dalam melanggengkan bisnis yang kita bangun. Tidak adak tawar menawar dalam masalah ini.  Kejujuran yang kita miliki akan menumbuhkan kepercayaan dari orang lain. Karena orang yang amanah pasti dapat dipercaya.
·         Tak hanya jago mimpi, tapi harus jago mewujudkan mimpi itu: mimpi tanpa diiringi dengan tindakan hanyalah tinggal mimpi belaka. Ketika kita punya mimpi wujudkan dalam tindakan, tentukan langkah-langkahnya sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
·         Berfikir visioner, kreatif, dan siap menghadapi perubahan: Sebagai seorang pebisnis ulung harus memiliki pemikiran terdepan, mampu menganalisis perkembangan bisnisnya di masa yang akan datang, seperti apa perkembangan yang akan ia inginkan.
·         Tentunya juga diperlukan sikap kreatif. Mampu menangkap peluang-peluang yang ada dan senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
·         Rasulullah memiliki planning dan goal setting yang jelas; Dalam berbisnis juga perlu perencanaan yang matang, keberhasilan seperti apa yang kita impikan. Dengan demikian kita bekerja sesuai dengan konsep keteraturan yang sudah kita rancang sebaik mungkin. Jika ada kegagalan akan lebih mudah menganalisisnya.
·         Pintar mempromosikan diri: Pebisnis ulung adalah pebisnis yang mampu mempromosikan dirinya dalam kesempatan apapun. Tidak hanya bisnis yang ia punya, namun pribadinya dapat menjadi asset yang dapat menggaet relasi sebanyak-banyaknya untuk memperkuat kerajaan bisnis yang ia bangun.
·         Menggaji karyawan sebelum keringatnya mengering : dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Baihaqi mengatakan bahwa;” Berikanlah gaji atau upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya dan beritahukan ketentuan gaji/upahnya, terhadap apa yang dikerjakannya”. Gaji yang diberikan kepada karyawan hendaklah dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Dengan memberikan gaji tepat waktu dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kinerja seorang karyawan
·         Mengetahui Rumus, “Bekerja dengan Cerdas” : maksudnya adalah mampu memanfaatkan waktu yang terbatas dengan hasil kerja yang maksimal.
·         Mengutamakan sinergi; mampu menggandeng orang lain untuk bersama-sama dalam memajukan bisnis. Pebisnis cerdas akan menyadari bahwa tidak semua hal dapat ia lakukan sendiri, maka disinilah letaknya kerjasama untuk melengkapi kekurangan-kekurangannya dalam berbisnis.
·         Pandai bersyukur dan berucap terima kasih : Orang yang senantiasa bersyukur adalah orang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT. Senantiasa bersyukur dengan kondisi apapun yang ia terima. Rasa syukur inilah akan mengundang nikmat-nikmat Allah lainnya.
·         Berbisnis dengan Cinta : Melakukan segala sesuatu dengan cinta akan terasa perbedaannya, jika dibandingkan dengan keterpaksaan. Berbisnis dengan cinta akan membuat kita menikmati apa yang kita kerjakan. Tiada tekanan karena kita melaksanakannya dengan sepenuh hati. Bekerja dengan cinta akan mendatangkan ketenangan dan semangat dalam diri kita
·         Be The best:  Menjadi manusia paling bermanfaat :Dengan ilmu, harta, dan keahlian menjadi modal untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Hal inipun bisa diterapkan juga oleh  pebisnis ulung. Karena ia menyadari harta, ilmu, dan keahlian yang dia miliki hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan .[6]






BAB III
PENUTUP

Simpulan
Bisnis nampaknya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas persaingan. Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan perlombaan dalam mencari kebaikan. Jika ini dijadikan dasar bisnis, maka praktek bisnis harus menjalankan suatu aktivitas persaingan yang sehat. Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, dengan apa yang disebut dengan perdagangan bebas. Maka aktivitas bersaing dalam bisnis antara satu pebisnis dengan pebisnis lainnya tidak dapat dihindarkan. Jadi dalam berbisnis di perbolehkan adanya sebuah persaingan tetapi persaingan tersebut haruslah persaingan yang sehat.















DAFTAR PUSTAKA


Hermawan Kartajaya & Muhammad Syakir Sula.2006. Syariah Marketing.Bandung, Mizan.

DR.Asyraf Muhammad Dawwabah. 2008. Meneladani Keunggulan Bisnis Rasulullah. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra

Muhammad & Alimi. 2005. Etika dan Perlindungan konsumen dalam Ekonomi Islam. Yogyakarta,BPFE.

Nurul huda & Mustafa Edwin Nasution. 2007. Investasi pada Pasar Modal Syari’ah. Jakarta, Media Group.

Muhammad.2004. Etika Bisnis Islam.Yogyakarta, UPP-AMP-YKPN.

M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijayakusuma. Menggagas Bisnis Islami.

















                                                                                                                                      


[1] Asyaraf Muhammad Dawwabah, Meneladani Bisnis Rasulullah, ( Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2008),hlm 19


[2] Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution, Investasi Pada Pasar Modal Syariah, (Jakarta: Media Group, 2007), hlm 51-53

[3] Muhammad & Alimin, Etika dan Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam, (Yogyakarta : BPFE, 2006),hlm 81-82

[5] Muhammad,Etika Bisnis Islam( Yogyakarta :UPP-AMR-YKPN

[6] Hermawan Kartajaya & Muhammad Syakir Sula, Syariah Marketing, (Bandung: Mizan, 2006), hlm 75-78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar