Jumat, 31 Mei 2013

Dinasti Mamluk di Mesir


BAB I
PENDAHULUAN

Pada periode pertengahan yang dibagi ke dalam dua masa yaitu masa kemunduran 1 dan masa tiga kerajaan besar. Pada masa kemunduran 1 Jengiskhan dan keturunannya datang membawa kehancuran di dunia Islam. Jengiskhan berasal dari Mongolia. mereka banyak menghancurkan dunia Islam salah satunya adalah kota Baghdad. Namun, ada salah satu dinasti yang dapat bertahan dan tidak dapat di hancurkan oleh Jengiskhan yaitu Dinasti Mamluk di Mesir. Dinasti Mamluk ini berasal dari budak-budak yang kemudian mendapat kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan Mesir. Di mana pada akhirnya dinasti inilah yang mampu mengalahkan tentara Mongol, Timur Lenk dan tentara Salib. Sehingga mereka dapat menyatukan kembali Mesir dan Syam di bawah naungan mereka.


BAB II
PEMBAHASAN


Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamalik. Karena, negeri ini terhindar dari kehancuran, maka persambungan perkembangan peradaban dengan masa klasik relative terlihat dan beberapa di antara prestasi yang pernah dicapai pada masa klasik bertahan di Mesir. Walaupun demikian, kemajuan yang dicapai oleh dinasti ini, masih di bawah prestasi yang pernah dicapai oleh umat Islam pada masa klasik. Hal itu mungkin karena metode berpikir tradisional sudah tertanam sangat kuat sejak berkembangnya aliran teologi Asy’ariyah, filsafat mendapat kecaman sejak pemikiran Al-Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam dan yang lebih penting lagi adalah karena Baghdad dengan fasilitas-fasilitas ilmiahnya yang banyak memberi inspirasi ke pusat-pusat peradaban Islam hancur.[1]

A.      Sejarah Terbentuknya Dinasti Mamluk
Sebutan Mamluk bermakna hamba sahaya. Hal ini disebabkan para panglima yang memegang kekuasaan ketentaraan dewasa itu berasal dari hamba sahaya yang dibeli lalu diasuh semenjak kecil dan dilatih, terdiri atas berbagai keturunan kebangsaan. Mereka menjadi pejuang-pejuang Islam yang perkasa.[2]
Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian didik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang terakhir, Al-Malik Al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada penguasa ini mereka mendapat hak-hak  istimewa, baik dalam karier ketentaraan maupun dalam imbalan-imbalan material.[3]
Ketika Al-Malik Al-Salih meninggal (1249 M), anaknya Turansyah naik tahta sebagai sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M, Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh  Turansyah. Istri Al-Malik Al-Salih, Syajarah Al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik. Kepemimpinan Syajaruh Al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak membunuh Syajaruh Al-Durr dan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seorang keturunan penguasa Ayyubiyah bernama Musa sebagai Sultan Syar’I (formal) di samping dirinya bertindak sebagai penguasa yang sebenarnya. Namun, Musa akhirnya dibunuh oleh Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari kekuasaan dinasti Mamalik.[4]
Kaum Mamluk berkuasa di Mesir sampai tahun 1517 M. merekalah yang membebaskan Mesir dan Suria dari peperangan Salib dan juga membendung serangan-serangan kaum Mongol di bawah pimpinan Hulagu dan Timur Lenk, sehingga Mesir terlepas dari penghancuran-hancuran seperti yang terjadi di dunia Islam lain.[5]

B.       Kerajaan Mamluk di Mesir
Kerajaan Mamluk di Mesir sebenarnya terbagi menjadi dua periode, yang berdasarkan daerah asalnya. Yakni golongan pertama adalah Mamluk Bahari/ Bahriah yang berkuasa mulai tahun 648 – 792 H/ 1250 – 1389 M. yang mereka berasal dari kawasan Kipchak (Rusia Selatan), Mongol dan Kurdi. Golongan kedua adalah Mamluk Burji/ Barjiyah yang berkuasa mulai tahun 792 – 923 H/ 1389 – 1517 M. mereka berasal dari etnik Syracuse di wilayah Kaukasus.
1.      Mamluk Bahri (648 – 792 H/ 1250 - 1389 M)
Mamluk Bahri mereka melaksanakan kudeta bermarkas di kota Benteng terletak pada sebuah pulau di sungai Nil di depan kota Kairo. Saingan mereka dalam ketentaraan masa itu adalah tentara berasal dari suku Kurdi.
Sultan-sultan Mamluk Bahri yang terkenal adalah Quruz, Baybars, Qalawun, dan Nasir Muhammad bin Qalawun adalah Sultan Qutuz (Qathaz) (657 H./ 1258 M.) dengan bantuan panglima perangnya,  Baybars berhasil mematahkan serbuan bangsa Mongol ke Palestina dalam peperangan Ain Jalut pada tanggal 3 September 1260. Kemenangan ini merupakan balasan terhadap bangsa Mongol yang sebelumnya menghancurkan Baghdad sebagai pusat khilafah Islam tahun 1258 H.[6] Setelah kemenangan ini, nilai tambah terhadap dinasti Mamluk adalah bersatunya kembali Mesir dan Syam di bawah naungan Sultan Mamluk setelah mengalami perpecahan pada masa sultan-sultan keturunan Salahuddin Al-Ayyubi.
Tidak lama setelah itu, Qutuz meninggal dunia. Baybars, seorang pemimpin militer yang tangguh dan cerdas yang diangkat oleh pasukannya menjadi sultan. Ia adalah sultan terbesar dan termasyur diantara 47 sultan Mamluk. Ia pula dipandang sebagai pembangun dinasti Mamluk. Baybars mampu berkuasa selama 17 tahun (657 H – 676 H/ 1260 M – 1277 M). Kejayaan yang diraih pada masa Baybars adalah memporak-porandakan tentara salib disepanjang laut tengah, Assasin di pegunungan Siria, Cyrenia. Terlebih lagi prestasi Baybars adalah menghidupkan kembali kekhalifahan Abbasiyah di Mesir setelah Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol.
Pemerintahan Mamluk selanjutnya dipimpin oleh Bani Bibarisiah. Tidak begitu banyak yang berarti kerajaan Mamluk di bawah pimpinan Bani Bibaris adalah Sultan Al-Mansur Qalawun yang telah menyumbangkan jasanya dalam pengembangan administrasi pemerintah, perluasaan hubungan luar negeri untuk memperkuat posisi Mesir dan Syam di jalur perdagangan Internasional.
Sultan Mamluk yang memiliki kejayaan dan prestasi lainnya dari garis Bani Qalawun adalah putra pengganti Qalawun, yakni Nashir Muhammad (696 H/ 1296 M). Sultan memegang tampuk pemerintahan selama tiga kali dan mengalami dua kali turun tahta.
Berakhirnya Mamluk Bahri disebabkan oleh Sultan Shalih Haji bin Sya’ban (1381 – 1309) yang masih kecil dan hanya memerintah selama dua tahun. Setelah itu, diganti oleh sultan lain sampai akhirnya Sultan Barquq menguasai dan mengakhiri Dinasti Mamluk Bahri.
2.      Mamluk Burji (792-923 H./1389-1517 M.)
Setelah berhasil mengulingkan sultan terakhir dari Mamluk Bahri sultan Barquq mulai berkuasa yang diawali dengan mulainya masa pemerintahan Mamluk Burji.
Sesungguhnya tidak ada perbedaan pemerintahan Mamluk Bahri dan Burji, baik dari segi status para sultan yang dimerdekakan ataupun dari segi system pemerintahan yang oligarki. Hal-hal yang membedakan kedua pemerintahan tersebut adalah suksesi pemerintahan Mamluk Bahri lebih banyak terjadi dengan turun-temurun, sedangkan pada masa Mamluk Burji suksesi lebih banyak terjadi karena perang saudara dan huru-hara. Pertentangan ini disebabkan sistem pendidikan bagi para Mamluk tidak ketat, dan mereka diperbolehkan untuk tinggal di luar pusat-pusat latihan bersama rakyat biasa.
Pemerintahan selanjutnya dipimpin oleh Sultan Al-Nashir Faraj (801 H/ 1399 M – 808 H/ 1405 M) putera Sultan Barquq. Pada masa itu tampaknya Timur Lenk mengulang kembali sejarah keberingasan pasukan Mongol pada zaman Hulagu Khan ketika menguasai wilayah-wilayah tetangganya yang muslim. Pasukan Mamluk pun menyiapkan diri untuk menghadang serangan Timur Lenk tersebut. Pada tahun 1401, Aleppo dapat dikuasai oleh pasukan Timur Lenk dan disusul dengan Damaskus yang menyerah setelah tentara Mamluk dapat dikalahkan. Kota Damaskus dibumihanguskan, baik sekolah maupun mesjid dibakar.
Sementara itu, dua Sultan Mamluk Burji, yakni Al-Asyraf Baibai (825 H/ 1422 M – 841 H/ 1437 M) dan Al-Zahir Khusyqadam (865 H/ 1461 M – 872 H/ 1467 M) masih harus terus mempertahankan wilayahnya dari serangan pasukan Salib di Kepulauan Cypus dan Rhodos (Laut Aegea, sekarang milik Yunani). Kedua ekspedisi militer ini berhasil menahan kekuatan kaum Nasrani dan dengan demikian, pasukan Mamluk kembali membuktikan keunggulannnya untuk dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.
Banyak dari sultan-sultan Mamluk naik tahta pada usia muda. Hal ini menjadi salah satu faktor melemahnya dinasti Mamluk. Dan juga terjadi penyerangan pasukan Turki Usmani terhadap wilayah Mamluk yang merupakan cikal bakal permusuhan antara dinasti Mamluk dan Turki Usmani.
Sultan terakhir dinasti Mamluk Burji adalah Al-Asyraf Tumanbai. Ia adalah pejuang yang gigih. Namun pada saat itu dia tidak memperoleh dukungan dari golongan Mamluk sehingga ia harus menghadapi sendiri pasukan Turki Utsmani yang pada akhirnya Tumanbai ditangkap oleh pasukan Turki Utsmani dan kemudian digantung disalah satu gerbang di kota Kairo. Sejak itulah berakhirlah pemerintahan dinasti Mamluk dan dimulainya masa penguasai Turki Utsmani.[7]

C.      Peradaban Pada Masa Dinasti Mamluk
Dalam bidang ekonomi, Dinasti Mamluk membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia melalui perluasaan jalur perdagangan yang dirilis oleh Dinasti Fatimiah di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad membuat Kairo sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa, menjadi lebih penting karena Kairo menghubungkan jalur perdagangan Laut Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Di samping itu, hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antarkota baik laut maupun darat. Ketangguhan angkatan laut Mamluk sangat membantu pengembangan perekonomiannya. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol.
Oleh karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun.
Dibidang astronomi, dikenal nama Nashir Al-Din Al-Tusi, di bidang matematika, Abu Al-Faraj, Al-Ibry, di bidang kedokteran, Abu Al-Hasan Al-Nafis, penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia Abd Al-Mun’im Al-Dimyati, seorang dokter hewan, dan Al-Razi, perintis psikoterapi. Dalam bidang opthalmologi dikenal dengan nama Salah Al-Din Ibn Yusuf. Sedangkan dalam bidang ilmu keagamaan tersohor nama Ibn Taimiyah, seorang pemikir reformis dalam Islam Al-Suyuthi yang menguasai banyak ilmu keagamaan, Ibn Hajar Al-Asqalani dalam ilmu hadis, dan lain-lain. Di bidang arsitektur, banyak arsitek dikirim ke Mesir untuk membangun sekolah, mesjid, rumah sakit, museum, perpustakaan, vila, kubah, dan menara mesjid.[8]
Dalam bidang pemerintahan, kemenagan dinasti Mamluk atas Mongol di ‘Ayn Jalut menimbulkan harapan baru bagi daerah sekitar sehingga mereka meminta perlindungan, menyatakan kesetian kepada dinasti ini sehingga wilayah dinasti ini bertambah luas.[9]

D.      Berakhirnya Dinasti Mamluk
Setelah memiliki kemajuan-kemajuan diberbagai bidang, yang tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman dari gangguan.
Namun faktor-faktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk sedikit demi mengalami kemunduran. Semenjak masuknya budak-budak dari Sirkasia yang kemudian dikenal dengan nama Mamluk Burji, yang untuk pertama kalinya dibawa oleh Qalawun, solidaritas antarsesama militer menurun, terutama setelah Mamluk Burji berkuasa. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya di kalangan penguasa menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya, semangat kerja rakyat menurun dan perekonomian negara tidak stabil. Di samping itu, ditemukannya Tanjung Harapan oleh Eropa melalui Mesir menurun fungsinya. Kondisi ini diperparah oleh datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit.
Di pihak lain, suatu kekuatan politik baru yang besar muncul sebagai tantangan bagi Mamalik, yaitu kerajaan Usmani. Kerajaan inilah yang mengakhiri riwayat Mamalik di Mesir. Dinasti Mamalik kalah melawan pasukan Usmani dalam pertempuran menentukan di luar kota Kairo tahun 1517 M. Sejak itu wilayah Mesir berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani sebagai salah satu provinsinya.[10]



BAB III
ANALISIS


Setelah saya membaca dan memahami isi materi dari makalah saya, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Dinasti Mamluk adalah dinasti yang berasal dari budak-budak atau hamba sahaya yang pada mulanya mereka adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa Dinasti Ayyubiyah. Dinasti Mamluk adalah kerajaan Islam yang mampu bertahan dari serangan Mongol dan Timur Lenk serta mereka juga mampu memporak-porandakan tentara Salib. Dengan kemenangan itu Dinasti Mamluk mampu menyatukan kembali Mesir dan Syam di bawah naungan Dinasti Mamluk.
Dinasti Mamluk berkuasa kurang lebih selama 265 tahun yang dimulai pada tahun 1250 M sampai tahun 1517 M. Di mana jumlah sultannya sebanyak 47 sultan. System pemerintahan dinasti ini bersifat oligarki militer dan ada juga yang bersifat turun temurun. Kerajaan Dinasti Mamluk terbagi menjadi dua periode yaitu periode pertama dinamakan dengan Mamluk Bahri yang berkuasa mulai tahun 1250 – 1389 M. Pada masa ini banyak sultan-sultan yang terkenal diantaranya adalah Quruz, Baybars, Qalawun dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Namun diantara sultan-sultan tersebut yang paling lama memerintah adalah Baybars yang mampu berkuasa selama tujuh belas tahun. Kemudian periode kedua yaitu Mamluk Burji yang berkuasa mulai tahun 1389 – 1517 M. Pada masa ini Dinasti Mamluk mulai mengalami kelemahan dikarenakan terjadi perang saudara dan huru-hara dan solidaritas antara militer menurun, banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Dari situlah salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Mamluk dari dalam, dan dari luar sendiri adanya tantangan baru dari kerajaan Usmani yang pada akhirnya mengalahkan Dinasti Mamluk.
Sedangkan peradaban yang dapat saya ketahui pada Dinasti Mamluk yaitu diantara yaitu dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pemerintahan. Dalam bidang ekonomi Dinasti Mamluk membuka hubungan dagang dengan bangsa lain yaitu dengan Perancis dan Italia. Dengan adanya pembangunan jaringan transfortasi dan komunikasi antar kota baik laut maupun darat itu sangat mendukung keberhasilan di bidang ekonomi. Di bidang ilmu pengetahuan setelah Baghdad hancur disebabkan adanya serangan tentara Mongol banyak ilmuan-ilmuan asal Baghdad lari ke Mesir dari situlah ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir. Ilmu-ilmu itu adalah sejarah, kedokteran, astronomi, dan ilmu agama. Dalam bidang pemerintahan kemenangannya atas Mongol mampu menyatukan kembali Mesir dan Syam di bawah naungan Dinasti Mamluk. Dan pemerintahannya yang bersifat oligarki militer merupakan warna baru dalam sejarah politik Islam. Dalam bidang pemerintahan, kemenagan dinasti Mamluk atas Mongol di ‘Ayn Jalut menimbulkan harapan baru bagi daerah sekitar sehingga mereka meminta perlindungan, menyatakan kesetian kepada dinasti ini sehingga wilayah dinasti ini bertambah luas.



BAB IV
PENUTUP


Simpulan
Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamalik. Sebutan Mamluk bermakna hamba sahaya. Hal ini disebabkan para panglima yang memegang kekuasaan ketentaraan dewasa itu berasal dari hamba sahaya yang dibeli lalu diasuh semenjak kecil dan dilatih, terdiri atas berbagai keturunan kebangsaan. Mereka menjadi pejuang-pejuang Islam yang perkasa.
Kerajaan Mamluk di Mesir sebenarnya terbagi menjadi dua periode, yang berdasarkan daerah asalnya. Yakni golongan pertama adalah Mamluk Bahari/ Bahriah yang berkuasa mulai tahun 648 – 792 H/ 1250 – 1389 M. yang mereka berasal dari kawasan Kipchak (Rusia Selatan), Mongol dan Kurdi. Golongan kedua adalah Mamluk Burji/ Barjiyah yang berkuasa mulai tahun 792 – 923 H/ 1389 – 1517 M. mereka berasal dari etnik Syracuse di wilayah Kaukasus.
Dalam bidang ekonomi, Dinasti Mamluk membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia melalui perluasaan jalur perdagangan yang dirilis oleh Dinasti Fatimiah di Mesir sebelumnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Dalam bidang pemerintahan, kemenagan dinasti Mamluk atas Mongol di ‘Ayn Jalut menimbulkan harapan baru bagi daerah sekitar sehingga mereka meminta perlindungan, menyatakan kesetian kepada dinasti ini sehingga wilayah dinasti ini bertambah luas.
Faktor yang mempengaruhi hancurnya Dinasti Mamluk yaitu banyaknya penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidk menyukai ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan berpoya-poya dikalangan penguasa menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya kerja rakyat menurun dan perekonomian Negara tidak stabil. Di pihak lain suatu kekuatan politik baru yang muncul sebagai tantangan Mamalik yaitu kerajaan Utsmani. Yang pada akhirnya Dinasti Mamluk dapat dilumpuhkan oleh Kerajaan Utsmani. Maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Mamluk.



DAFTAR PUSTAKA


Nasution, Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1985.
Sunanto, Hj. Musyrifah, Prof. Dr., Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenada Media, 2003.
Supriyadi, Dedi, M.Ag., Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Yatim, Badri, Dr., M.A., Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.



[1] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 123-124
[2] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 205
[3] Dedi Supriyadi, M.Ag., Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 236
[4] Dr. Badri Yatim, M.A.,Op. Cit., h. 124-125
[5] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1985), h. 81-82
[6] Dedi Supriyadi, M.Ag , Op. Cit., h. 237
[7] Ibid, h. 243
[8] Ibid,  h. 245
[9]  Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Op. Cit., h. 210
[10] Dr. Badri Yatim, M.A.,Op. Cit., h. 128

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar